Laporkan Masalah

KONTESTASI DAN NEGOSIASI SEKAR ANYAR DALAM TEMBANG SUNDA CIANJURAN

DIKA DZIKRIAWAN, Dr. Wiwik Sushartami, M.A.; Dr. Aton Rustandi Mulyana, M.Sn.

2021 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN SENI PERTUNJUKAN DAN SENI RUPA

Sekar anyar merupakan karya inovasi dalam tembang sunda cianjuran yang digagas oleh Ubun Kubarsah dan kawan-kawan. Istilah sekar anyar dalam tembang sunda cianjuran pertama kali muncul pada Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran (PTSC) Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) ke-XIX yang berlangsung di gedung Graha Sanusi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung pada bulan Desember 2009. Keberadaan sekar anyar dalam tembang sunda cianjuran hingga saat ini masih menjadi kontestasi di kalangan masyarakat tembang sunda cianjuran. Wacana yang muncul pada fenomena sekar anyar pada dasarnya memperdebatkan soal peristilahannya itu sendiri, masalah ciri-ciri mandiri (dalam hal ini adalah persoalan musikal dan non musikal), issue pembunuhan karakter, sampai pada persoalan apakah laik sekar anyar dimasukkan ke dalam kategori genre tembang sunda cianjuran. Penelitian ini difokuskan untuk melihat bagaimana teks musik sekar anyar dalam hal ini bentuk dan struktur dari lagu-lagu sekar anyar ditinjau berdasarkan pendekatan sistematis dalam tembang sunda cianjuran, serta untuk mengetahui bagaimana kontestasi dan negosiasi sekar anyar dalam ruang sosial tembang sunda cianjuran. Penelitian dilakukan menggunakan metode etnografi dengan kerangka teori pendekatan sistematis deskripsi musikal Bruno Nettl dan konsep arena produksi kultural Pierre Bourdieu. Hasil yang didapatkan dari kajian terhadap teks musik ternyata rata-rata penggunaan dongkari dan penggunaan ornamen pada lagu sekar anyar cenderung minim. Minimnya dongkari dan ornamen pada sekar anyar sangat berpengaruh terhadap pencapaian nuansa karakter yang biasa berlaku pada lagu-lagu tembang sunda cianjuran. Sementara berdasarkan kajian kontekstual melalui kerangka teori arena produksi kultural diketahui bahwa kontestasi sekar anyar dalam arena PTSC DAMAS tidak dapat dipisahkan dari habitus dan kapital Ubun sebagai aktor. Meskipun Ubun memiliki akumulasi habitus dan kapital serta menggunakan strategi yang berpangkal pada doxa PTSC DAMAS, pada akhirnya doxa sekar lawas/tembang sunda cianjuran masih lebih kuat sehingga sosok Ubun saja tidak mampu menawarkan dan menggantikan doxa tembang sunda cianjuran. Keterterimaan sebuah doxa yang arbitrer hanya bisa dicapai dengan discursive justification di mana rupanya Ubun tidak cukup kuat bercokol di dalamnya.

Sekar anyar is tembang sunda cianjuran innovation who created by Ubun Kubarsah. The term of serkar anyar in tembang sunda cianjuran first appeared in the XIX Pasanggiri Tembang sunda cianjuran (PTSC) Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) that goes on Graha Sanusi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung in December 2009. During this time, sekar anyar in tembang sunda cianjuran is still a debate among the tembang sunda cianjuran community. The discourse that appears in the sekar anyar is basically debating about the terminology itself, the problem of characteristics (in this case, the issue of musical and non-musical), the issue of character assassination, to the issue of whether sekar anyar is fit to be included in the category of the tembang sunda cianjuran genre. The following resarch aims to explain how the musical text of sekar anyar, in this case the form and structure of the sekar anyar songs, is reviewed based on a systematic approach in the tembang sunda cianjuran, as well as to find out how the contestation and negotiation of sekar anyar in the social space of the tembang sunda cianjuran. The study was conducted using ethnographic methods with a theoretical framework of systematic approach to musical description by Bruno Nettl and the concept of the field cultural production of Pierre Bourdieu. The results obtained from the study of music texts show that the average use of dongkari and the use of ornaments in the sekar anyar song tends to be minimal. The lack of dongkari and ornamentation in the sekar anyar greatly influenced the achievement of the nuances of character that usually apply to tembang sunda cianjuran. Meanwhile, based on a contextual study through the theoretical framework of the field cultural production, it is known that the contestation of sekar anyar in the PTSC DAMAS cannot be separated from the habitus and capital of Ubun as an actor. Even though Ubun has accumulated habitus and capital and uses a strategy based on the DAMAS PTSC prayer, in the end, doxa of sekar lawas / tembang sunda cianjuran is still stronger so that Ubun's figure alone is unable to offer and replace doxa of the tembang sunda cianjuran. Acceptance of an arbitrary doxa can only be achieved with discursive justification where it seems that Ubun is not strong enough to reside in it.

Kata Kunci : Sekar Anyar, Arena, Doxa, Tembang Sunda Cianjuran

  1. S2-2021-435264-abstract.pdf  
  2. S2-2021-435264-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-435264-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-435264-title.pdf