Laporkan Masalah

Kajian Manajemen Strategis Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta Untuk Mewujudkan Kota Yogyakarta Sebagai City of Tolerance

M ZUMAR RAHAFUNA, Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D.; Dr. Muhamad, S.T., M.T.

2021 | Tesis | Magister Kajian Pariwisata

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu destinasi pariwisata di Indonesia yang memiliki julukan seperti Kota Budaya dan Kota Pelajar. Pemerintah Kota Yogyakarta melihat adanya fenomena intoleransi yang banyak terjadi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga mencanangkan branding baru Kota Yogyakarta sebagai City of Tolerance yang salah satunya adalah melalui pelaksanaan event tourism Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, namun setelah lebih dari satu dekade event tersebut dilaksanakan branding tersebut tidak familiar apalagi menjadi julukan Kota Yogyakarta. Penelitian deskriptif kualitatif ini bermaksud untuk memformulasikan manajemen event Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta berdasarkan peran dan hubungan antar pemangku kepentingan dan kondisi manajemen event saat penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode wawancara dan kuesioner yang selanjutnya akan diolah dengan menggunakan metode PEST, SWOT, dan benchmarking. Secara umum pemangku kepentingan hanya melaksanakan perannya masing-masing sesuai tugas dasar mereka dan tidak memiliki hubungan antar pemangku kepentingan. Kondisi manajemen event cenderung tidak optimal meskipun memiliki sumber daya manusia yang kompeten untuk melaksanakan PBTY. Permasalahan utama yang menghambat terwujudnya tujuan pelaksanaan PBTY adalah kurangnya dana dan kondisi sumber daya manusia yang terorganisasi dengan baik. Kondisi tersebut membuat reaksi rantai sehingga secara umum mengurangi kualitas pelaksanaan PBTY. Analisis PEST dan SWOT menunjukkan bahwa PBTY dalam upaya mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai City of Tolerance menempati kuadran pertama atau strategi pertumbuhan agresif. Strategi yang utama dijalankan adalah memaksimalkan kekuatan dan peluang untuk mengatasi kelemahan dan mengeliminasi ancaman. Manajemen strategis yang dibuat difokuskan untuk mengatasi dua kekurangan utama dalam manajemen yang sudah berjalan sehingga PBTY dapat secara optimal mewujudkan tujuannya untuk mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai City of Tolerance.

Special Region of Yogyakarta is one of tourism destinations in Indonesia which is known as City of Culture and Student city. Yogyakarta government discerned frequent intolerance phenomena happening within the city, therefore attempted to promulgate Yogyakarta as City of tolerance by means of organizing an event tourism called "Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta". However, after more than a decade of the event being carried out, the catchphrase Yogyakarta as City of tolerance is still not widely known, let alone being the title for Yogyakarta. This qualitative descriptive study aims to formulate an improved management of "Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta" event based upon the role and relationship between stakeholders, as well as the situation of the event management when this study was conducted. Data analysis was performed using PEST, SWOT, and benchmarking method. In general, stakeholders implemented only their own basic duties and roles without any strong cooperative link between one another. On account of such circumstances, event management tended to be less optimal despite having competent human resources to carry out the PBTY event. The main issues hindering the goal achievement of PBTY event were the scantiness of finance as well as the lack of organization of the human resources. Subsequently, these circumstances created a chain reaction that decreased the quality of PBTY event execution. PEST and SWOT analysis showed that PBTY event as an effort to establish Yogyakarta as City of tolerance was placed in the first quadrant which makes it an aggressive growth strategy. The main strategy to perform is by maximizing the strength and the chance to overcome weakness, as well as eliminating threats. The strategic management that were made is focused upon resolving the two main issues in the current management of PBTY event so that PBTY can optimally achieve its purpose to contribute establishing Yogyakarta as City of tolerance.

Kata Kunci : event tourism, manajemen event, manajemen strategis, pemangku kepentingan pariwisata, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta

  1. S2-2021-420065-abstract.pdf  
  2. S2-2021-420065-bibliography.pdf  
  3. S2-2021-420065-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2021-420065-title.pdf