Laporkan Masalah

Peran Kawasan Cagar Budaya Terhadap Pembentukan Identitas Fisik Kota Yogyakarta

RAHAYU SANTOSO PUTRI, Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A.

2021 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Sejarah perkembangan Kota Yogyakarta meninggalkan berbagai warisan dan cagar budaya sebagai bukti peradaban masa lalu yang terhimpun dalam suatu satuan ruang geografis yang dinamakan kawasan cagar budaya. Berdasarkan SK Gubernur DIY No. 186 Tahun 2011, terdapat lima kawasan cagar budaya yang ada di Kota Yogyakarta, meliputi KCB Kraton, KCB Pakualaman, KCB Malioboro, KCB Kotabaru, dan KCB Kotagede, yang berpengaruh terhadap keberlangsungan kota, sebagai hasil budaya dari sejarah perkembangan Kota Yogyakarta. Di samping itu, kawasan cagar budaya juga dapat membentuk identitas kota terkait (Prajnawi, 2015). Hal tersebut dikarenakan karakteristik yang dibentuk oleh ciri khas atau spirit of place dari kawasan cagar budaya memberikan kesan tersendiri yang kemudian dapat membentuk suatu identitas kota (Garnham, 1985). Berkaitan dengan hal itu, tujuan penelitian ini adalah menemukan identitas fisik Kota Yogyakarta yang terbentuk, jika ditinjau beradasarkan karakteristik kawasan cagar budayanya. Dalam prosesnya, penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dengan metode kualitatif, melalui dua tahapan. Tahap pertama bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik masing-masing kawasan cagar budaya menggunakan analisis deskriptif dan analisis spasial. Selanjutnya pada tahap kedua, karakteristik yang telah teridentifikasi kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan analisis konten guna menemukan identitas fisik Kota Yogyakarta yang terbentuk berdasarkan perjalanan perkembangan kawasan cagar budanya. Berdasarkan hasil analisis terhadap variabel penelitian diketahui bahwa masing-masing kawasan cagar budaya yang ada di Kota Yogyakarta memiliki karkateristiknya masing-masing, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kesamaan karakteristik yang dimiliki oleh satu kawasan cagar budaya secara keseluruhan membentuk identitas dari kawasan cagar budaya. Dan jika dilihat berdasarkan alur perjalanan perkembangan kawasan cagar budayanya, identitas tersebut merupakan bagian dari identitas fisik Kota Yogyakarta. Hal tersebut mengakibatkan identitas fisik dari Kota Yogyakarta tidak tunggal, tetapi beragam. Oleh sebab itu, diketahui bahwa peran kawasan cagar budaya terhadap pembentukan identitas fisik Kota Yogyakarta adalah melalui karakteristik yang dimilikinya. Selanjutnya, masing-masing kawasan cagar budaya memiliki tingkat kontribusinya tersendiri dalam pembentukan identitas fisik Kota Yogyakarta. Maka dari itu, dilakukan penilaian menggunakan metode Utility Value Analysis (UVA). Hasilnya diketahui bahwa KCB Kraton dan KCB Malioboro mendominasi dalam pembentukan identitas fisik Kota Yogyakarta.

The history of the development of the city of Yogyakarta has left various heritages and cultural heritages as evidence of past civilizations that are gathered in a geographical space unit called a cultural heritage area. Based on the Governor's Decree No. 186 In 2011, there are five cultural heritage areas in Yogyakarta City, including KCB Kraton, KCB Pakualaman, KCB Malioboro, KCB Kotabaru, and KCB Kotagede. The existence of this cultural heritage area affects the sustainability of the city, as a cultural result of the historical development of the City of Yogyakarta in a certain period as well as shaping the city�s identity (Prajnawi, 2015). This is because the characteristics that are formed by spirit of place of the cultural heritage area give a distinct impression which then formed a city identity (Garnham, 1985). In this regard, the purpose of this study is to find the physical identity of the Yogyakarta City, which is formed, if viewed based on the characteristics of its cultural heritage area. In the process, this research uses a deductive approach with qualitative methods, through two stages. The first stage aims to identify the characteristics of each cultural heritage area using descriptive analysis and spatial analysis. Furthermore, in the second stage, the characteristics that have been identified are then further analyzed using content analysis to find the physical identity of Yogyakarta City which was formed based on the development journey of its cultural heritage area. Based on the results of the analysis of the research variables, it is known that each cultural heritage area in the city of Yogyakarta has its own characteristics, which differ from one another. The similarity of characteristics possessed by a cultural heritage area as a whole form the identity of the cultural heritage area. And if viewed based on the flow of the development of the cultural heritage area, this identity is part of the physical identity of the city of Yogyakarta. This has resulted in the physical identity of the city of Yogyakarta being not single, but diverse. Therefore, it is known that the role of cultural heritage areas in the formation of the physical identity of the city of Yogyakarta is through its characteristics. Furthermore, each cultural heritage area has its own level of contribution to the formation of the physical identity of the city of Yogyakarta. Therefore, an assessment was carried out using the Utility Value Analysis (UVA) method. The results show that KCB Kraton and KCB Malioboro dominate in the formation of the physical identity of Yogyakarta City.

Kata Kunci : Kota Yogyakarta, karakteristik, kawasan cagar budaya, identitas kota

  1. S1-2021-413491-abstract.pdf  
  2. S1-2021-413491-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-413491-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-413491-title.pdf