Pemanfaatan Ruang untuk Program Pembinaan Kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Yogyakarta
MUTIARA ANGGI D N, Diananta Pramitasari, S.T., M.Eng., Ph.D.
2021 | Tesis | MAGISTER ARSITEKTURUntuk menjalankan tugasnya, lembaga pemasyarakatan atau lapas di Indonesia memiliki program pembinaan bagi para narapidana, salah satunya adalah program pembinaan kemandirian. Program pembinaan kemandirian dapat memberikan kesempatan bagi narapidana untuk mempelajari berbagai keterampilan. Keterampilan yang dipelajari tersebut dapat memberikan manfaat, baik di dalam maupun di luar lapas. Ketika di dalam lapas, mengerjakan keterampilan dapat membantu narapidana untuk memanfaatkan waktunya secara positif. Ketika sudah berada di luar lapas nantinya, keterampilan yang telah dipelajari dapat digunakan sebagai bekal keahlian untuk mencari nafkah, terutama apabila kentalnya stigma buruk yang melekat pada mantan narapidana menyebabkannya sulit untuk diterima kembali di tengah masyarakat. Namun di Yogyakarta, lapas perempuan belum memiliki gedung yang resmi dan masih terletak di kompleks bangunan lapas laki-laki. Selain itu, lapas tersebut memiliki masalah pada keterbatasan ruangnya, salah satunya adalah tidak memiliki ruang workshop untuk melaksanakan program pembinaan kemandirian. Program pembinaan kemandirian pun menghasilkan situasi yang bertentangan dengan aturan lapas, yaitu terpaksa dilaksanakan di sepanjang selasar blok sel dengan fasilitas yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan ruang untuk program pembinaan kemandirian, dengan menganalisis hubungan antara setting fisik dan aktivitas yang terjadi di sana, serta kemanfaatan program bagi para narapidana. Metode place-centered mapping, kuesioner, dan wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data dari 50 responden narapidana. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa narapidana lebih banyak mengerjakan keterampilan yang lebih fleksibel, cepat menguntungkan, dan dikerjakan sendirian. Berkaitan dengan hal tersebut, ruang untuk keterampilan yang dapat dikerjakan secara berkelompok belum dapat mewadahi banyak orang. Mayoritas narapidana merasa program pembinaan kemandirian dapat memberi manfaat. Ketika mengikuti program tersebut, mereka membentuk area bekerjanya sendiri di tengah keterbatasan ruang.
To fulfill their functions, correctional facilities in Indonesia have development programs for the prisoners. One of the programs is called the skills development program. It can provide great opportunities for the prisoners to learn a variety of skills. Those skills can benefit them, both inside and outside of the correctional facility. When the prisoners are inside a correctional facility, the program can help them to use their time positively. And when they are not imprisoned anymore, the skills that have been learnt can be used as their capital to earn a living, especially when the negative stigma still attaches tightly that makes it difficult for them to be accepted back in the community. However, a correctional facility for women in Yogyakarta does not have its official building and uses a small part of a building complex for men�s correctional facility. In addition, the correctional facility has problems with its limited space, one of them is that it does not have a workshop room for the skills development program. The program also results in a situation that is contrary to the regulations, where it has been run along the hallways of the cell block with inadequate facilities. This study aims to examine the spatial utilization for the skills development program by analyzing the relationship between the physical settings, the occurring activities there, and how the program gives positive impacts on the prisoners. Place-centered mapping, questionnaire surveys, and interviews were conducted to collect data from 50 prisoners. The results of the study reveal that more prisoners choose to work on skills that are more flexible, profitable, and can be done alone. In this regard, the space for skills that can be learnt in groups does not yet accommodate many people. The majority of prisoners feel that the skills development program can give them positive impacts. They learn the skills by setting their own working area amidst the limited space.
Kata Kunci : Lembaga Pemasyarakatan Perempuan, Penjara, Keterampilan, Setting Fisik, Setting Aktivitas