PEMULIHAN DESA WISATA BLUE LAGOON SETELAH PENERAPAN KENORMALAN BARU BERDASARKAN KONSEP SINERGITAS PENTA HELIX
GILANG PRABANDARU, Intan Purwandani, S.Par., M.Sc.
2021 | Skripsi | S1 PARIWISATACOVID-19 adalah suatu ancaman internasional yang menyebabkan terhentinya berbagai sektor seperti pariwisata dan telah mengakibatkan kerugian sebesar 80 milyar Rupiah di Yogyakarta. Desa Wisata Blue Lagoon yang berada di Kabupaten Sleman adalah satu dari banyak objek wisata terdampak pandemi tersebut yang memerlukan upaya pemulihan untuk meningkatkan pendapatan daerahnya. Penelitian ini berfokus pada upaya pemulihan yang didapatkan dari sinergitas lima aktor Penta Helix yaitu pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, masyarakat lokal, dan media informasi. Data yang didapatkan menggunakan metode pendekatan kualitatif melalui wawancara kepada tiap aktor yang diolah menggunakan fungsi manajemen bencana yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling oleh Nurjanah (2013). Pada penelitian ini ditemukan bahwa Desa Wisata Blue Lagoon memiliki hubungan kerja sama terbesar dengan pemerintah sebagai pemberi dana pembangunan dan masyarakat lokal selaku aktor utama yang memiliki satu tokoh kunci yaitu Suhadi. Pada pelaksanaan pemulihan, pelaku bisnis dan media informasi yang berasal dari masyarakat hanya mengikuti arahan dari ketua pokdarwis yaitu Suhadi. Akademisi merupakan aktor yang mempunyai hubungan kurang baik dengan masyarakat lokal karena pernah dikecewakan dan ditakutkan akan mengubah rancangan pembangunan. Hal tersebut menyebabkan belum terciptanya sinergitas antar aktor dalam konsep Penta Helix. Dalam upaya pemulihan Desa Wisata Blue Lagoon saat ini telah berada pada tahap actuating. Penelitian ini menemukan hal menarik bahwa meskipun tidak tercipta sinergitas, tetapi tujuan utama untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata telah tercapai.
COVID-19 is an international threat that causes a massive catastrophe on sectors including tourism industry, which has resulted a loss of 80 billion Rupiah in Yogyakarta. Desa Wisata Blue Lagoon, located in Sleman Regency become one of tourist attractions that has been affected by the pandemic and requires a special recovery action to increase the regional revenue. This research focuses on recovery effort obtained from synergy of five actors in Penta Helix concept consist of government, private sectors, academics, local people, and media information. The data is acquired by using qualitative approach through an interview to every actors and then proceeded by utilizing the management purpose, specifically on planning, organizing, actuating, and controlling (Nurjanah, 2013). This research has discovered that Desa Wisata Blue Lagoon owned by the government as a financial development source and the local community as the main actor ruled by a key person namely Suhadi. In the practice of recovery effort, private sectors and information media which came from local society is being fully controlled by Suhadi itself. Academic is the only actor who has a bad relationship with the local community, it's triggered by the disappointment from the past and feared to ruin it original masterplan. This behavior leads to unmaterialized synergy between all actors in Penta Helix concept. In this situation, Desa Wisata Blue Lagoon currently is on actuation stage. The research found an interesting fact that the synergy is defective, but the main purpose to boost tourist's quantity was successful.
Kata Kunci : COVID-19, pemulihan, Desa Wisata Blue Lagoon, sinergitas Penta Helix, peningkatan wisatawan.