Penindasan Berganda pada Perempuan: Studi Sosiologi Literatur Pascakolonial Novel "Gadis Pantai" Karya Pramoedya Ananta Toer
KANDIS KATRUNNADA, Dr. Muhamad Supraja, M.Si.
2021 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketidakadilan gender terhadap perempuan pada era kolonial yang terdapat dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ini menggunakan teori feminisme pascakolonial yang digagas oleh Leela Gandhi untuk mengungkap wacana �kolonisasi berganda� kaum perempuan di bawah kekuasaan imperialis dan Gayatri Spivak yang berfokus pada perempuan yang tidak mampu bersuara dan memperjuangkan hak-haknya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi wacana kritis milik Teun A. van Dijk dalam menjelaskan keterikatan antara teori feminisme pascakolonial dengan permasalahan mengenai ketidakadilan gender terhadap perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui teori feminisme pascakolonial diketahui novel Gadis Pantai berupaya untuk mewacanakan posisi perempuan yang mengalami ketidakadilan gender dan berada di bawah kendali laki-laki akibat sistem patriarki dan sistem kolonialisme yang mendominasi dan menindas perempuan. Latar belakang praktik patriarki dan kolonialisme yang menerapkan ideologi maskulinitas dan pandangan terhadap perempuan di negeri jajahan menjadi dasar dalam melakukan praktik penindasan. Perempuan dalam novel Gadis Pantai menjadi subjek utama penindasan berganda karena perempuan berada dalam posisi sebagai pihak yang mengalami kerugian budaya. Perempuan mengalami kerugian budaya karena pihak yang menindas merupakan pihak yang mewarisi hasil budaya patriarki dan budaya kolonial Barat.
This study aims to determine gender injustice against women in the colonial era contained in the novel Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer. This study uses the theory of postcolonial feminism initiated by Leela Gandhi to reveal the discourse of "multiple colonization" of women under imperialist rule and Gayatri Spivak which focuses on women who are unable to speak out and fight for their rights. This study uses a qualitative method with Teun A. van Dijk's critical discourse study in explaining the link between postcolonial feminism theory and the issue of gender injustice against women. The results show that through the postcolonial feminism theory, it is known that the novel Gadis Pantai seeks to discourse the position of women who experience gender injustice and are under men's control due to the patriarchal system and colonialism system that dominate and oppress women. The background of patriarchy and colonialism practices that apply the ideology of masculinity and views of women in colonized countries is the basis for the practice of oppression. Women in the novel Gadis Pantai become the main subject of multiple oppression because women are in the position of experiencing cultural loss. Women suffered cultural losses because the oppressors were the ones who inherited the results of Western patriarchal and colonial culture.
Kata Kunci : Penindasan Berganda, Pascakolonial, Gadis Pantai, Multiple Oppression, Postcolonial, Gadis Pantai