Media Komunitas Tanggap Bencana (Studi Kasus Media Komunitas Speaker Kampung dalam Praktik Jurnalisme Bencana saat Peristiwa Gempa Bumi di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Periode 29 Juli - 31 Oktober 2018)
Diatami Muftiarini, Lisa Lindawati, S.IP. MA.
2020 | Skripsi | S1 ILMU KOMUNIKASIPeristiwa gempa fluktuatif yang terjadi secara beruntun di Lombok Timur dan sekitarnya, menyadarkan kita bahwa Indonesia merupakan wilayah yang retas akan bencana alam. Diperlukan adanya upaya-upaya penguatan terhadap wacana mitigasi bencana di Indonesia, salah satunya yakni dengan melibatkan kontribusi media komunitas setempat. Partisipasi Speaker Kampung dalam meliput gempa yang menimpa tempat tinggal mereka di Lombok Timur, sangat membantu proses pengelolaan informasi bencana di lapangan. Terutama pelaporan pada detik-detik pertama gempa, masa rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa yang sering kali luput dari perhatian media arus utama. Informasi yang mereka sajikan merupakan hal-hal penting mencakup wilayah mana saja yang terdampak, berapa jumlah korban jiwa dan yang masih bertahan, apa saja yang dibutuhkan penyintas di pengungsian, sampai mengawal proses distribusi dan rekonstruksi bantuan kepada para penyintas gempa. Melalui kapasitas jurnalistik yang mereka lakukan secara otodidak, Speaker Kampung melaksanakan praktik jurnalisme bencana menggunakan jejaring sosial Facebook yang diakses melalui ponsel seluler mereka. Adanya fitur Fan Page di Facebook memudahkan Speaker Kampung dalam melakukan pelaporan online terkait bencana secara instan, luas dan cepat. Penelitian ini berupaya menjelaskan fenomena dari praktik jurnalisme bencana yang tidak hanya dilakukan oleh media arus utama, tetapi dilakukan juga oleh media komunitas Speaker Kampung. Dengan menggunakan konsep yang ditawarkan Haddow dan Haddow (2014), penelitian ini menilik peran-peran media di dalam empat fase manajemen bencana. Untuk menyorot bentuk pelaporan yang dilakukan Speaker Kampung, penulis menggunakan pendekatan media komunitas oleh Carpentier, Lie dan Servaes (2017), yang menjadi faktor penting untuk menjelaskan perbedaan media komunitas dengan media arus utama dalam praktik jurnalistiknya.
Through the latest series of earthquakes that have happened in Lombok, we can see that Indonesia's vulnerability to natural disasters is high. Strengthening the discourse of disaster mitigation is important for Indonesia, especially by increasing the contribution of local community media into the discussion. The participation of Speaker Kampung in covering the earthquakes in East Lombok greatly helped the process of managing disaster information in the field; by reporting of the first seconds of the earthquakes, the post-earthquakes rehabilitation, and reconstruction phase - which often go uncovered by the mainstream media - crucial information was presented to the public that would otherwise have gone uncovered. Their information was significant in providing data about: the damage area, the number of victims, the number of houses that were destroyed - leading many people to live in emergency tents, and the available assistance for the evacuation survivors, helping to inform the distribution of assistance to earthquake survivors. Speaker Kampung practices disaster journalism using Facebook accessed through their smartphone; the existence of Fan Page feature on Facebook makes it easier for Speaker Kampung reporting online instantly, broadly and quickly in real time. This study seeks to explain the phenomenon of disaster journalism practices that are not only covered by the mainstream media, but also covered by the local community media. This study examines the roles of the media in the four phases of disaster management concept offered by Haddow and Haddow (2014). To highlight the reporting activities by Speaker Kampung, the author uses the community media approached by Carpentier, Lie and Servaes (2017), which is an important factor in explaining the differences between community media and mainstream media in their journalistic practices.
Kata Kunci : Speaker Kampung, media komunitas, jurnalisme bencana, Facebook, jejaring sosial, community media, journalism disaster, social media