PERBEDAAN ASUPAN ZAT GIZI DAN STATUS GIZI MASYARAKAT USIA PRODUKTIF DESA DAN KOTA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
AZIZATUSYSYIFA, Dr. Susetyowati, DCN, M. Kes; Dr. dr. Emy Huriyati, M. Kes
2021 | Skripsi | S1 GIZI KESEHATANLatar Belakang: Salah satu ciri bangsa maju adalah bangsa yang memiliki tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas kerja yang tinggi. Ketiga hal ini dipengaruhi oleh keadaan asupan gizinya. Pencapaian pembangunan manusia yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) belum menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam tiga dasawarsa terakhir. Rendahnya IPM ini sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan status kesehatan penduduk. Namun, perbedaan demografi yang cukup besar di Indonesia, menyebabkan adanya pola hidup dan konsumsi yang berbeda diantara masyarakatnya. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan asupan zat gizi dan status gizi pada masyarakat usia produktif (sebagai indicator dalam pembangunan manusia) desa dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitaif deskriptif dengan pendekatan Analisis Data Sekunder (ADS) dari penelitian Keamanan Pangan Dalam Rumah Tangga Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Tidak Menular yang dilakukan oleh Dr. Susetyowati, DCN., M.Kes, pada tahun 2016. Data dianalisa dengan uji independent t-test apabila data terdistribusi normal. Apabila tidak terdistribusi normal, maka menggunakan Mann Whitney U. Bila variable berskala nominal dan ordinal, maka dilakukan uji chi-square. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan pengumpulan data secara studi perbandingan atau comparative study. Hasil: perbedaan IMT tidak signifikan dengan p > 0.05. Berdasarkan perbedaan Rerata ± SD terkait asupan zat gizi (energy, protein, lemak, dan karbohidrat) masyarakat desa dan kota didapatkan p > 0.05. Namun, didapati perbedaan yang signifikan terkait konsumsi sayur masyarakat usia produktif di desa dan kota, dengan Rerata ± SD desa lebih tinggi yaitu 2.19 ± 1.93, dibandingkan dengan Rerata ± SD kota yaitu sebesar 1.47 ± 1.41. Sedangkan untuk konsumsi buah didapatkan p > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan diantara konsumsi masyarakat usia produktif desa dan kota. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam IMT antara masyarakat usia produktif desa dan kota. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terkait asupan zat gizi (energy, protein, lemak, dan karbohidrat) antara masyarakat usia produktif desa dan kota. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsumsi buah masyarakat usia produktif desa dan kota. Terdapat perbedaan yang signifikan pada konsumsi sayur usia produktif desa dan kota dengan kualitas konsumsi desa lebih baik dibandingkan kota.
Background: One of the characteristics of a developed nation is having a high level of health, intelligence, and work productivity. These three things are influenced by the state of nutritional intake. Human development achievements as measured by the Human Development Index (HDI) have not shown encouraging results in the last three decades. The low HDI is strongly influenced by the low nutritional status and health status of the population. However, the demographic differences are quite large in Indonesia, causing different patterns of life and consumption among the people. Objective: To determine the differences in nutrient intakes and nutritional statuses in people of productive age (as an indicator of human development) in villages and cities in Daerah Istimewa Yogyakarta. Methods: This study used a descriptive quantitative research method with the Secondary Data Analysis (ADS) approach of the Household Food Safety research as an Effort to Prevent Non-Communicable Diseases conducted by Dr. Susetyowati, DCN., M.Kes, in 2016. The data were analyzed using the independent t-test if the data were normally distributed. If not normally distributed, then using the Mann Whitney U. If the variables are nominal and ordinal scales, then a chi-square test is performed. The research design used in this study was cross sectional with data collection by means of a comparative study. Results: The difference in BMI was not significant with p> 0.05. Based on the mean ± SD differences related to nutrient intake (energy, protein, fat, and carbohydrate) of rural and urban communities, it was found to be p> 0.05. However, there was a significant difference related to vegetable consumption of the community aged productive in rural and urban areas, with the mean ± SD in the village was higher, namely 2.19 ± 1.93, compared to the mean ± SD in the city which was 1.47 ± 1.41. As for fruit consumption, it was obtained p> 0.05, it can be concluded that there was no significant difference between the consumption of rural and urban productive age people. Conclusion: There is no significant difference in BMI between rural and urban productive age communities. There was no significant difference in the intake of nutrients (energy, protein, fat and carbohydrate) between rural and urban communities of productive age. There is no significant difference between fruit consumption of rural and urban productive age communities. There is a significant difference in the consumption of vegetables of productive age in rural and urban areas with the quality of consumption in rural areas being better than in cities.
Kata Kunci : Kata kunci: asupan zat gizi, status gizi, usia produksi, desa dan kota/ Keywords: nutrient intake, nutrient status, production age, rural and urban