Dinamika Pengelolaan Destinasi Wisata Berbasis Selfie oleh Pemuda Setempat di Dusun Kalinampu, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Bantul, Yogyakarta
YUNITA ISNA F, Oki Rahadianto Sutopo, Ph.D
2021 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIAdanya arus globalisasi dan perkembangan teknologi dapat memberikan perubahan sosial dan budaya bagi masyarakat, khususnya para pemuda pada masa transisi. Kedua hal tersebut memberikan manusia fasilitas yang lebih efektif dan efisien dalam hal pemenuhan kebutuhan sehingga dapat merubah pola pikir pemuda. Artinya, globalisasi dan perkembangan teknologi ini dapat dilihat sebagai medan yang diperebutkan. Maksudnya adalah mereka memiliki dua sisi, sebagai tantangan bagi pemuda atau justru peluang yang harus dimanfaatkan. Seperti halnya yang dilakukan oleh Pemuda Kalinampu, di mana mereka memanfaatkan globalisasi dan perkembangan teknologi untuk mengelola modal mereka. Sumber daya (modal) yang berhasil mereka kumpulkan ini menjadikan Dusun Kalinampu memiliki sebuah destinasi wisata berbasis selfie tourism. Konsep ranah sosial dan akumulasi kapital milik Pierre Bourdieu serta konsep transisi pemuda menjadi alat analisis pada kajian ini. Selain itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Subjek penelitian ini adalah pemuda Kalinampu dan 5 orang dari mereka menjadi informan yang dipilih menggunakan teknik bola salju (snowball).Pemuda Kalinampu memiliki kapasitas dalam memasuki ranah sosial pada lingkungan kerja maupun lingkungan sosial sekitarnya. Cara yang mereka gunakan adalah dengan mengumpulkan kapital yang bersifat kolektif. Hal tersebut menjadikan pemuda Kalinampu memiliki posisi dan kuasa tersendiri untuk mengelola destinasi wisata.
Globalization and technological developments can provide social and cultural changes for society, especially youth during transition. Both of globalization and technology provide people with facilities that are more effective and efficient in fulfilling their needs, this can change the mindset of youth. This means that globalization and technological developments can be seen as contested fields. The point is that they have two sides, as a challenge for youth or an opportunity that must be exploited. As was done by the youth in Kalinampu, where they took advantage of globalization and technology to manage their capital. The resources (capital) that they managed to collect have made a selfie tourism at Kalinampu. Pierre Bourdieu’s concept of social field and capital and the concept of youth transition are the analytical tools in this study. In addition, this study uses a qualitative approach with descriptive analysis methods. The subjects of this study were youths in Kalinampu with 5 of them being informants who were selected using the snowball technique. Through this study, youths in Kalinampu have the capacity to enter the social field in their work environment and social environment. They use the capital collected collectively. This makes youth in Kalinampu have their own position and power to manage tourism based on selfie.
Kata Kunci : transisi pemuda, ranah sosial, modal, selfie tourism