Antara Beralih atau Terpinggirkan (Studi tentang Perubahan Kebiasaan Mobilisasi Masyarakat Perkotaan Yogyakarta)
Amelinda Pandu Kusumaningtyas, Dr. Suharko
2020 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIYogyakarta adalah salah satu kota di dunia yang tengah mengalami motorisasi, sebuah fenomena peralihan moda transportasi dari angkutan umum massal perkotaan menjadi kendaraan bermotor pribadi. Salah satu ciri khas motorisasi yang terjadi di kota negara berkembang seperti Yogyakarta adalah meningkatnya kebergantungan masyarakat perkotaan pada sepeda motor. Peralihan moda transportasi masyarakat tidak dipandang sebagai keputusan individu semata. Keputusan tersebut dibangun bukan hanya berdasarkan pertimbangan selera personal, namun juga dipengaruhi oleh relasi, kelas, nilai, dan aspek-aspek dimensi sosial lainnya. Dampak dari perubahan kebiasaan mobilitas tersebut pun juga berpengaruh pada keberlanjutan kota. Salah satu hal yang dikhawatirkan terjadi adalah eksklusi sosial berbasis mobilitas. Karya tulis ini dibuat untuk memahami perubahan kebiasaan mobilitas yang terjadi dalam bingkai sosiologis, dan bagaimana peralihan tersebut berdampak pada subjek rentan. Menggunakan metode mobile ethnography, peneliti melakukan walking interview terhadap 13 subjek informan. Terdapat dua temuan yang didapatkan dari penelitian ini. Temuan pertama adalah bahwa peralihan kebiasaan mobilitas masyarakat disebabkan oleh kebijakan transportasi yang tidak akomodatif dan sepeda motor yang kini memiliki keterlekatan dalam kehidupan masyarakat perkotaan Yogyakarta. Temuan kedua adalah bahwa siapa saja dapat menjadi subjek rentan eksklusi sosial berbasis mobilitas selagi orang tersebut tidak memiliki kebebasan mobilitas. Namun dalam konteks Yogyakarta, subjek rentan yang memiliki latar belakang kelas sosial rendah adalah yang paling rentan. Perbedaan tersebut mendorong langkah-langkah yang diambil oleh subjek rentan pun berbeda. Bagi kelompok subjek rentan yang betul-betul tidak punya pilihan, cara yang diambil adalah bergantung pada Bus Kota. Namun bukan sekedar mengendarai bus saja, tetapi juga membangun relasi interpersonal dengan satu sama lain sehingga Bus Kota menjadi strategi bertahan dan melawan motorisasi.
Yogyakarta is one of the world's cities that is experiencing motorization, a phenomenon of changing modes of transportation from urban mass public transportation to private motorized vehicles. One of the hallmarks of motorization in a developing country city like Yogyakarta is the increasing dependence of urban communities on motorbikes. The mode of transportation preference should not be seen as a mere individual decision. This preference is also influenced by class, values, social-economy status, and other social dimension aspects. Therefore, changing mobility habits might also affect the social aspect of the city. One of the concerns about happening is social exclusion based on mobility. This study aims to understand the changes in mobility habits within a sociological framework and how these transitions affect vulnerable subjects. Using mobile ethnography as the research method, we conducted a walking interview with 13 informants. There are two findings obtained from this study. The first finding is that the shift in mobility habits is caused by inadequate transportation policies that no longer accommodate people's needs and motorbikes that now have an attachment to the urban Yogyakarta community's life. Meanwhile, the second finding is that anyone can be vulnerable to mobility-based social exclusion. However, in the Yogyakarta context, vulnerable subjects with a low social class background are the most vulnerable. These differences encourage the measures taken by vulnerable subjects to be different. For vulnerable subjects with limited resources, depending on Bus Kota while building interpersonal relationships with fellow commuters are the key to survive the mobility-based social exclusion.
Kata Kunci : Mobilitas, Kebiasaan Mobilitas, Eksklusi Sosial Berbasis Mobilitas/ Mobility, Mobility Habits, Mobility-based Social Exclusion