STUDI LIFE HISTORY "MENJADI PEREMPUAN BURUH MIGRAN" DI KABUPATEN WONOSOBO
AN'NGAM KHAFIFI, Mohammad Zaki Arrobi, S.Sos., M.A.
2020 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIMenjadi tenaga kerja migran hingga saat ini masih menjadi pekerjaan yang diminati oleh para pencari kerja termasuk perempuan. Bahkan 60 persen dari 6,5 juta tenaga kerja migran yang terdata merupakan perempuan. Lebih jauh, sekitar 60 hingga 80 persen Tenaga kerja migran perempuan bekerja di sektor-sektor informal (Killias, 2018). Sebagai lokasi Penelitian, Kabupaten Wonosobo juga banyak memberangkatkan tenaga kerja ke luar negeri dimana sebagian besar perempuan yang bekerja di sektor informal. Meskipun menjadi tenaga kerja migran perempuan memiliki kerentanan dengan berbagai persoalan yang ada, nyatanya hal tersebut tidak menyusutkan tekat untuk tetap bekerja ke luar negeri. Melalui pendekatan life history, penelitian yang dilakukan di kabupaten Wonosobo mencoba merefleksikan bagaimana proses para tenaga kerja migran perempuan yang telah kembali ke kampung halamannya, dimana pendekatan ini untuk melihat proses menjadi tenaga kerja migran masih jarang ditemukan. Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara kepada lima mantan tenaga kerja migran perempuan sebagai subjek penelitian. Melaui hasil refleksi para infroman, menjadi tenaga kerja migran sejatinya tidak jauh dari imajinasi kelas bawah yang menginginkan mobilitas sosial. Sebagai perempuan berlatar belakang kelas bawah, salah menjadi tenaga kerja migran ialah salah satu jalan praktis untuk melakukan mobilitas sosial. Hal ini didasari dari banyaknya orang-orang di lingkungannya yang bekerja ke luar negeri. Ditambah jasa calo yang dianggap sebagai orang dekat dalam membantu mempermudah urusan untuk bekerja ke luar negeri semakin menguatkan keinginan untuk bekerja ke luar negeri. Meskipun pengalaman bekerja sebagai tenaga kerja migran tidak sepenuhnya memenuhi imajinasi yang diinginkan, namun para informan masih mempercayai hal tersebut sebagai salah satu jalan terbaik untuk mengubah nasib.
Being a migrant worker is still a job that is in high demand by job seekers, especially women. Even 60 percent of the 6.5 million migrant workers registered are women. Furthermore, around 60 to 80 percent of women migrant workers work in the informal sector (Killias, 2018). Wonosobo Regency as a research location also sent workers abroad where most of the women worked in the informal sector. Even though women migrant workers have vulnerability to various existing problems, in fact it does not stop their determination to continue working abroad. Through the life history approach, this research tries to reflect on how the the social process of former migrant workers who have returned to their hometown, where this approaches was rarely found. In this study, the researcher conducted indepth interviews with 5 former female migrant workers as research subjects. Reflecting upon the life experiences of former female migrant workers, becoming a migrant worker is closely connected to the idea of social mobilization embraced by the lower class women. As women with lower class backgrounds, one of the most practical ways to carry out social mobility is by becoming a migrant worker. The decision to be a migrant worker is also driven by their surrounding community who have previously experienced working abroad. Furthermore, brokers in the local community have also played a significant role in enabling women to become a migrant worker. Although the life experience of being migrant worker does not fully fulfill the desired imagination, they still believe that it is one of the most possible ways to achieve a dream to haves better life.
Kata Kunci : Kata Kunci: Tenaga Kerja Migran, Perempuan, Imajinasi Mobilitas Sosial