GAYA BAHASA MANTRA KIDUNG MANTRAWEDHA DALAM KITAB ATASSADHUR ADAMMAKNA
DININ RAHAYU R, Dr. Wisma Nugraha C. R., M. Hum.; Rudy Wiratama, S. IP., M.A.
2020 | Skripsi | S1 SASTRA JAWAMantra Kidung Mantrawedha merupakan salah satu kumpulan mantra yang terdapat dalam kitab primbon Atassadhur Adammakna dari seri Kitab Adammakna. Kitab Adammakna merupakan karya milik Kanjeng Sultan Hamengku Buwono di Yogyakarta yang dituliskan kembali oleh Pangeran Harya Tjakraningrat yang dicetak oleh NY. Siti Woeryan Soemodiyah Noeradya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu kedudukan dan fungsi berdasarkan gaya bahasa yang digunakan dalam mantra ang dikenal sebagai doa penolak bala. Mantra Kidung Mantrawedha ditulis menggunakan metrum tembang macapat Dhandhanggula yang terdiri atas sembilan bait. Mantra Kidung Mantrawedha mengandung berbagai macam gaya bahasa dalam penulisannya. Untuk mengetahui gaya bahasa tersebut, penelitian ini meliputi analisis makna dengan penerapan teori gaya bahasa menurut S. Padmosoekotjo yang berjudul Ngenrengan Kasusastran Jawa jilid I dan II. Kemudian data diolah menggunakan metode studi pustaka, yaitu mengklasifikasi dan mengidentifikasi data-data secara deskriptif. Berdasarkan analisis, ditemukan 32 frase yang menggunakan gaya bahasa menurut teori Padmosoekotjo, di antaranya tembung saroja, pepindhan, dan pralambang. Serta, ditemukan aspek bunyi yakni purwakanthi guru sastra, purwakanthi guru swara dan purwakanthi lumaksita. Pemilihan diksi serta penerapan gaya bahasa menghasilkan fungsi dan kedudukan dalam pemaknaan sesuai dengan masing-masing gaya bahasa yang digunakan. Selain itu, dapat mendatangkan daya maupun kekuatan gaib bagi pembaca mantra sebagai doa penolak bala. Kata kunci: gaya bahasa, kidung, mantra, S. Padmosoekotjo
Mantra Kidung Mantrawedha is one of the collection of chants available in the book primbon Atassadhur Adammakna from Kitab Adammakna series. Those books were the work of the late Kanjeng Sultan Hamengku Buwono in Yogyakarta, rewritten by Pangeran Harya Tjakraningrat printed and published by NY. Siti Woeryan Soemodiyah Noeradya. This study aims to find out the function and position based on the figurative languages used in the mantra known as a prayer to repel disaster. Kidung Mantrawedha chants is written using the metre of the Javanese song "Dhandhanggula" which consists of nine stanzas. Mantra Kidung Mantrawedha contains various styles of language in its writing. To find out the language style, this research includes the analysis of meaning with the application of figurative languages theory according to S. Padmosoekotjos work, volumes I and II. Then, the data is processed using the literature study method, namely classifying and identifying data descriptively. Based on the analysis, it was discovered that there are 32 phrases figurative languages such as tembung saroja, pepindhan, and pralambang. Also, aspects of noise were found, namely purwakanthi guru sastra, purwakanthi guru swara and purwakanthi lumaksita. The choice of word and the application of figurative languages produces certain function and position of this work, which is to bring magical power and strength to the reciter as a prayer to repel disaster. Keyword: kidung, language of style, mantra, S. Padmosoekotjo
Kata Kunci : gaya bahasa, kidung, mantra, S. Padmosoekotjo