Nasionalisme Sebagai Ideologi Perjuangan Rakyat Yaman Dalam Puisi-Puisi Abdullah Al-Baradduni: Kajian Kritik Materialisme Terry Eagleton
ZULFA PURNAMAWATI, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum., Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.
2020 | Disertasi | DOKTOR AGAMA DAN LINTAS BUDAYAGerakan nasionalisme merupakan respon terhadap kebangkitan Arab melawan kekuatan Turki dan Eropa pada satu sisi dan gerakan melawan kekuasaan yang otoriter dari dalam negeri sendiri pada sisi lainnya. Di Yaman Utara, gerakan nasionalisme bangkit karena adanya tindakan kesewenang-wenangan para penguasa terhadap rakyat sehingga menimbulkan kesengsaraan bagi rakyatnya. Keadaan ini membangkitkan perjuangan rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap para penguasa. Salah satunya dilakukan oleh Abdullah al-Baradduni seorang penyair Yaman yang mengalami kebutaan sejak umur lima tahun karena penyakit cacar yang tidak mendapatkan penanganan yang baik di masa kecil. Ia menciptakan puisi-puisi tradisional di tengah-tengah rakyat Yaman yang sebagian besar masih buta huruf sebagai salah satu bentuk perjuangan untuk mendorong rakyat Yaman untuk mewujudkan impian mereka. Puisi-puisi Abdullah al-Baradduni bukan sekedar memindahkan sebuah kenyataan, tetapi puisi mempunyai hukumnya sendiri yang tidak dapat dilihat secara tekstual sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Akan tetapi, puisi-puisi perjuangan tersebut merupakan sebuah produksi khusus yang dipengaruhi berbagai elemen. Oleh karena itu, untuk memahami teks tersebut perlu dilakukan kritik sastra materialistik mencakup analisis artikulasi-artikulasi historis struktur-struktur yang memproduksi teks tersebut yang meliputi General Mode of Production (GMP), Literary Mode of Production (LMP), General Ideology (GI) Authorial Ideology (AuI), Aesthetic Ideology (AI) dan Text. Metode pembahasan yang digunakan adalah metode dialektik yaitu melihat hubungan antar elemen yang saling memengaruhi. Ideologi perjuangan rakyat Yaman direpresentasikan dalam puisi-puisinya dengan dua cara, yaitu kritik terhadap penguasa dan agitasi terhadap rakyat. Kritik terhadap para penguasa sebagai upaya untuk menyadarkan akan tindakan mereka yang salah dan telah menciptakan kesengsaraan untuk rakyat, sedangkan agitasi terhadap rakyat sebagai upaya untuk menyatukan langkah rakyat dalam berjuang. Nasionalisme sebagai ideologi perjuangan rakyat Yaman dalam puisi-puisi al-Baradduni merupakan respon atas ideologi Imamah Zaidiyyah di Yaman Utara yang dijalankan oleh para penguasa yang otoriter dan keingin bersama untuk mewujudkan negara yang merdeka, negara yang adil dan makmur, serta negara yang demokratis. Selain itu, nasionalisme menjadi dasar pejuangan untuk mewujudkan persatuan Yaman Utara dan Yaman Selatan sebagai sebuah upaya mengembalikan kebesaran masa lalu Yaman serta keinginan untuk mempersatukan Arab menjadi kekuatan yang besar dan berpengaruh di dunia melalui gerakan Pan-Arabisme.
The revival movement of the nationalism has emerged to fight against the power of Turkey and Europe on one hand and against the authoritarian rule from within the country on the other hand. In North Yemen, the nationalism movement was due experienced internal political upheaval, in which its government has oppressed the people, and it has caused suffering to them. This situation prompted resistance from the Yemeni people. One of the resistance is Abdullah al-Baradduni, a Yemeni poet who has been blind since the age of five because he contracted smallpox and it was not dealt with properly. He has written traditional poems in the midst of the people of Yemen who are still largely illiterate, and writing the poems is his fight against Yemeni oppressive government. With his poems, Abdullah al-Baradduni is encouraging the Yemeni people to realize their dreams. The poems of Abdullah al-Baradduni do not only transfer realities, but they also have their own law that cannot be observed textually as objects that stand alone. However, the poems of struggle are special productions influenced by various elements. Therefore, to understand these texts, one is required to utilize materialist literary criticism that includes the analysis of the historical articulations of the structures that have produced these poems. These structures are comprised of General Mode of Production (GMP), Literary Mode of Production (LMP), General Ideology (GI) Authorial Ideology (AuI), Aesthetic Ideology (AI) and Text. The discussion method that is used is the dialectical method, which is to discover relationships among the elements that influence one another. The struggle ideology of Yemenis people is represented in his poetry in two ways, namely the criticism against the authorities and the agitation against the people. The former is an effort to make the Yemeni government realize their wrong doings that have resulted in the suffering to its people, and the latter is an effort to unite the Yemeni people to fight against the oppression. Nationalism as the struggle ideology in al-Baradduni's poetry is a response to the ideology of the Imamah Zaidiyyah, which is practiced by the authoritarian regime. In addition, it is a common will to create an independent, a just, prosperous, and democratic state. Furthermore, nationalism has become the basis for the struggle to realize the unity of North Yemen and South Yemen as an effort to restore Yemen's greatness in the past and the desire to unite the Arab world into a big and influential force in the world through the Pan-Arabism movement.
Kata Kunci : Abdullah al-Baradduni, Yaman, Puisi Perjuangan, Nasionalisme, Kritik Materialisme