Pengaruh Kemampuan Visual Spasial Terhadap Kualitas Data Spasial Dalam Kegiatan Pemutakhiran PBB-P2 Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat
YOGA KENCANA NUGRAHA, Dr.Eng. Ir. Purnama Budi Santosa, ST., M.App.Sc., IPM
2020 | Tesis | MAGISTER TEKNIK GEOMATIKAMetode pemetaan partisipatif telah menjadi salah satu metode alternatif yang sering digunakan oleh instansi pemerintah daerah dalam melakukan kegiatan pemutakhiran data PBB-P2. Masyarakat atau Kepala Dusun yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut memiliki peran sebagai narasumber informasi terkait lokasi dan identitas wajib pajak suatu lahan. Berdasarkan adanya teori bahwa setiap orang memiliki tingkat kemampuan visual spasial yang beragam maka hal tersebut berpotensi besar untuk mempengaruhi tingkat kualitas data spasial yang dihasilkan pada kegiatan pemetaan partisipatif. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui hubungan pengaruh yang terjadi antara kedua hal tersebut dalam upaya menyusun strategi oleh instansi pemerintah daerah agar dapat menghasilkan kualitas data spasial yang baik dalam kegiatan pemutakhiran data PBB-P2. Penelitian ini tergolong pada jenis penelitian deskriptif kuantitatif dan komparatif yang dilakukan dengan membandingkan antara skor uji kemampuan visual spasial terhadap skor uji kualitas data spasial yang dihasilkan dalam kegiatan pemetaan partisipatif. Intrumen soal yang digunakan dalam uji kemampuan visual spasial yang dilakukan kepada 28 orang Kepala Dusun adalah purdue spatial visualization test (PSVT) yang terdiri dari indikator tes berupa hubungan spasial, orientasi spasial dan visualisasi spasial. Validitas intrumen soal dalam penelitian ini dilakukan menggunakan analisis tingkat kesukaran, uji daya pembeda soal dan tingkat reliabilitas soal melalui uji coba terpakai terhadap 99 orang siswa SMA. Pada uji kualitas data spasial dilakukan berdasarkan Standart Operating Procedures (SOP) yang telah disusun oleh jaringan kerja pemetaan partisipatif (JKPP) dan Badan Informasi Geospasial (BIG) yaitu dengan menggunakan metode polygon near distance, polygon area, dan polygon circularity ratio. Jumlah sampel objek uji yang ditentukan pada penelitian ini adalah sebanyak 280 objek pajak yang dihitung berdasarkan rumus Slovin dan ditentukan secara purposive sampling pada toleransi kesalahan 10%. Hasil uji kemampuan visual spasial dan uji kualitas data spasial menunjukan bahwa rata-rata skor kemampuan visual spasial yang dimiliki masyarakat adalah sebesar 11,50, sedangkan rata-rata kualitas data spasial yang mampu dihasilkannya dalam pemetaan partisipatif adalah sebesar 172,86 atau berada pada kualitas tingkat IV. Selanjutnya melalui hasil uji statistik dan perbandingan secara visual menunjukan bahwa masyarakat yang memiliki tingkat kemampuan visual spasial yang tinggi cenderung menghasilkan kualitas data spasial PBB-P2 yang baik. Hubungan keterikatan yang terjadi pada kedua hal tersebut tergolong dalam kategori sangat kuat dengan persentasenya sebesar 67,7%. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh instansi pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas data spasial PBB-P2 didalam kegiatan pemetaan partisipatif adalah dengan meningkatkan kemampuan visual spasial masyarakat melalui peningkatan kuantitas dan kualitas materi didalam pelatihan teknis pemetaan.
The participatory mapping method has become one of the alternative methods that is often used by local government agencies in conducting PBB-P2 data updating activities. The community or hamlet head involved in the activity has a role as a resource who provides information regarding the location and identity of a land taxpayer. Based on the theory that each person has varying levels of visual spatial ability, this has great potential to influence the level of quality of spatial data generated in participatory mapping activities. This study generally aims to determine the relationship of influence that occurs between the two things in an effort to formulate a strategy by local government agencies in order to produce good quality spatial data in the PBB-P2 data updating activities. This study belongs to the type of quantitative and comparative descriptive research conducted by comparing the scores of the test of visual spatial ability against the score of the quality of the spatial data generated in participatory mapping activities. The instrument instruments used in the spatial visual ability test conducted on 28 Head of hamlets are the purdue spatial visualization test (PSVT) which consists of test indicators in the form of spatial relationships, spatial orientation and spatial visualization. The instrument validity of the questions in this study was carried out using the analysis of the level of difficulty, the test of distinguishing questions and the level of reliability of the questions through a trial run on 99 high school students. The spatial data quality test is carried out based on the Standard Operating Procedures (SOP) that have been prepared by Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) and Badan Informasi Geospasial (BIG) by using the polygon near distance, polygon area and polygon circularity ratio methods. The number of test object samples determined in this study were 280 tax objects calculated based on the Slovin formula and determined by purposive sampling at a fault tolerance of 10%. Spatial visual ability test results and spatial data quality tests show that the average spatial visual ability score owned by the community is 11.50, while the average spatial data quality that can be produced in participatory mapping is 172.86 or is at the quality level IV. Furthermore, through the results of statistical tests and visual comparisons show that people who have a high level of spatial visual ability tend to produce good quality PBB-P2 spatial data. The relationship of attachment that occurs in both of these is classified in the very strong category with a percentage of 67.7%. One effort that can be done by local government agencies to improve the quality of the spatial data of PBB-P2 in participatory mapping activities is to improve the people's visual spatial abilities through increasing the quantity and quality of material in technical mapping training.
Kata Kunci : pemetaan partisipatif, kemampuan visual spasial, kualitas data spasial