"Publik" dalam Penyiaran Publik Lokal: Ekspresi Kepublikan dalam Kegiatan Siaran TVRI Yogyakarta
RAMA SHIDQI PRATAMA, Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.I.P., M.Si.
2020 | Skripsi | S1 ILMU KOMUNIKASITelevisi merupakan salah satu medium komunikasi yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu sumber informasi dan hiburan utama. "Lembaga penyiaran publik" sebagaimana diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 diharapkan dapat menjadi oase di tengah kondisi yang semakin dinamis serta dominasi lembaga penyiaran swasta yang mewarnai ekosistem media di Indonesia. Di sisi yang lain, kekuatan lembaga penyiaran di tingkat lokal, khususnya lembaga televisi lokal tidak semasif lembaga televisi nasional dalam hal konten siaran dan persaingan dengan lembaga nasional. Penelitian ini hendak mengetahui bagaimana pengelola TVRI Yogyakarta sebagai satu-satunya stasiun televisi publik lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta memaknai kepublikan dalam penyiaran publik dan menerjemahkan pemaknaan tersebut dalam kegiatan siarannya setelah sekitar 15 tahun menjalankan fungsinya sebagai lembaga penyiaran publik. Penelitian ini merupakan studi kasus kualitatif dengan melibatkan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, dengan mengadopsi dua dari tiga dimensi kepublikan dari Nemeth dan Schmidt (2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa di level pemaknaan kepublikan, kepublikan dalam penyiaran publik dimaknai cukup baik oleh pengelola TVRI Yogyakarta dengan melibatkan kebudayaan lokal dan pemberdayaan masyarakat, meskipun kewajiban memberikan pemasukan bagi negara membuat kepublikannya dipertaruhkan. Sedang di tingkat ekspresi kepublikan, TVRI Yogyakarta menerjemahkannya dengan program-program siaran yang secara umum dapat menyampaikan nilai-nilai publik sekaligus digemari oleh publik dengan melibatkan publik dalam merencanakan kegiatan siaran, meski masih belum sempurna.
Television is one of the communication mediums that widely consumed by Indonesian people and become one of the main sources of information and entertainment. "Public broadcasting institution", as strengthened through Act Number 32 of 2002 on Broadcasting, is expected to be an oasis in the midst of the more dynamic conditions and the private broadcasters domination over the Indonesian media ecosystem. On another side, the local broadcasting institutions, in this case the local television broadcasters did not have as massive power as national television broadcasters in terms of their content and competition against their national counterparts. This research discusses how managers of TVRI Yogyakarta as the only public television station in Yogyakarta Special Region interpret publicness in public broadcasting and express it in its broadcasting activities after functioning as a public broadcaster for about 15 years. This research is a qualitative case study involving interviews, observations, and documentation studies, combining two of the three publicness dimensions put forward by Nemeth and Schmidt (2011). Results show that at the level of publicness interpretation, the publicness in public broadcasting was interpreted quite well by TVRI Yogyakarta managers by embracing local culture and community empowerment, although the obligation to providing income for the state put its publicness at stake. While expressing publicness, TVRI Yogyakarta translates the publicness into programming that can deliver public values as well as publicly favored by involving them in its broadcasting activities, although it still yet to be perfect.
Kata Kunci : penyiaran publik, kepublikan, nilai-nilai publik