Laporkan Masalah

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PASCA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN (KARHUTLA) MELALUI PROGRAM CSR DI LAHAN GAMBUT (Studi Kasus Petani Nanas binaan PT. Pertamina RU II Sungai Pakning)

ANNISA NADHILAH, Dr. Krisdyatmiko, S.sos., M.Si

2020 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Indonesia merupakan negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) melimpah, sehingga diperlukan kesadaran untuk merawat sumber daya tersebut dengan baik dan benar. Namun yang sering terjadi adalah, antara harapan dan kenyataan tidak selalu sejalan. Ditemukan fakta tentang keberadaan hutan Indonesia saat ini mengalami kondisi krisis dikarenakan kebakaran. Provinsi Riau termasuk dalam status kebakaran tertinggi karena lahan gambut yang berada di Kabupaten Bengkalis. Keberadaan PT. Pertamina RU II Sungai Pakning yang dekat dengan lokasi kebakaran, kemudian berkontribusi melalui program CSR yang berbasis pemberdayaan masyarakat pasca kebakaran. Hal ini dikarenakan kondisi lahan yang terbakar tersebut memberikan dampak negatif terhadap perekonomian petani di Kelurahan Sungai Pakning. Oleh sebab itu, persoalan tersebut memberikan gambaran penelitian dengan pertanyaan �Bagaimana peran Pertamina RU II Sungai Pakning dalam memberdayakan kelompok tani di lahan gambut melalui program CSR?�. Penelitian ini tidak terlepas dari konsep pemberdayaan yang diadopsi dari Soetomo, yang bertujuan untuk mengetahui strategi dan tahapan yang digunakan dalam implementasi program CSR. Selain itu melalui implementasi program, penulis menganalisis pengembangan kapasitas dan kelembagaan kelompok tani pasca kebakaran melalui program CSR. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang dilakukan di Kelurahan Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Keunikan kasus yang ditemukan yakni pemberdayaan masyarakat melalui program CSR tersebut dilakukan di lokasi bekas kebakaran. Informan dalam penelitian ini berjumlah 26 orang yang terdiri dari pihak perusahaan, instansi pemerintahan, anggota kelompok tani tunas makmur, dan masyarakat eksternal kelompok. Hasil temuan dari penelitian ini adalah program CSR yang dilakukan oleh pihak perusahaan dimulai sejak tahun 2017, dan diimplementasikan dengan cara merekognisi kelompok tani tunas makmur. Pemberdayaan yang diberikan dalam program, berupa pengembangan kawasan pertanian nanas yang berguna sebagai penunjang kebutuhan kelompok. Adapun kebutuhan tersebut meliputi pemberian bantuan berupa bibit nanas, alat pengolahan, rumah produksi, dan pengembangan kapasitas kelompok. Pengembangan kapasitas yang terdapat di kelompok justru memperlemah kapasitas kelembagaan kelompok itu sendiri. Hal ini dikarenakan keterlibatan anggota saat mengikuti kegiatan yang belum merata, sehingga partisipasi anggota menurun. Pernyataan tersebut tidak terlepas karena adanya dominasi peran oleh ketua kelompok. Oleh karena itu, pemberdayaan yang ada pada kelompok tani tunas makmur cenderung bersifat eksklusivitas. Penyebab lainnya dikarenakan peran kelompok yang tidak memberikan ruang kepada masyarakat eksternal kelompok untuk berkontribusi dalam kegiatan program.

Indonesia is a country that has abundant natural resources, so awareness is needed to treat these resources properly. But what often happens is between expectations and reality are not always in line. I found facts about the existence of Indonesia's forests currently experiencing crisis conditions due to fire. Riau Province is included in the highest fire status due to peatlands located in Bengkalis Regency. The existence of PT. Pertamina RU II Sungai Pakning, which is close to the fire location, then contributes through CSR programs based on community empowerment after the fire. This is because the condition of the burned land harms the economy of farmers in the Sungai Pakning Urban Village. Therefore, this issue provides a description of research with the question "What is the role of Pertamina RU II Sungai Pakning in empowering farmer groups in peatlands through CSR programs?". This research is inseparable from the empowerment concept adopted by Soetomo, which discusses the strategies and steps used in implementation CSR programs. besides through the implementation program, the author analyzes a program for the capacity building and group institutions through CSR programs. This research uses a qualitative method using a case study, which was conducted in Sungai Pakning Urban Village, Bengkalis Regency, Riau Province. The uniqueness of the case found was that the community empowerment program through CSR was carried out in the former fire location. The informants in this study were 26 people consisting of companies, government agencies, members of Tunas Makmur farmers' groups, and external group. The findings of this study are CSR programs conducted by the company starting in 2017, and implemented by recognizing Tunas Makmur farmers' group. Empowerment provided in the program, the form of the development of pineapple farming areas that are useful as supporting group needs. The needs include assistance in the form of pineapple seedlings, processing equipment, production houses, and group capacity development. Capacity building within the group weakens the institutional capacity of the group itself. This is due to the involvement of members when participating in activities that have not been evenly distributed, so that member participation decreases. The statement is inseparable because of the dominance of the role by the group leader. Therefore, the empowerment of the Tunas Makmur farmers group tends to be exclusivity. Other causes are due to the role of group that do not provide space for external groups to contribute to program activities.

Kata Kunci : Pemberdayaan masyarakat, Program CSR, Pengembangan Kapasitas, Kapasitas kelembagaan / Community Empowerment, CSR Programs, Capacity Building, Institutional Capacity

  1. S2-2020-422388-abstract.pdf  
  2. S2-2020-422388-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-422388-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2020-422388-title.pdf