PENGGUNAAN REFLEKSI UNTUK PENGAJARAN SPIRITUAL CARE PADA MAHASISWA KEDOKTERAN TINGKAT KLINIK
GISELLA ANASTASIA, dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed., Ph.D.; dr. Widyandana, MHPE., Ph.D., Sp.M(K)
2020 | Tesis | MAGISTER ILMU PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN KESEHATANLatar Belakang: Spiritualitas diartikan sebagai aspek kemanusiaan yang bersifat dinamis dimana seseorang mencari makna dan tujuan tertinggi. Seseorang yang sedang menderita suatu penyakit dapat mengalami gangguan pada spiritualitasnya dan merupakan peran dokter untuk memberikan spiritual care. Tantangan yang dihadapi dokter adalah kurangnya pendidikan mengenai spiritual care. Refleksi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengajarkan spiritual care namun dampaknya pada pembelajaran masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan Interpretative Phenomonology Analysis (IPA) dengan tulisan refleksi dan in-depth interview. Sembilan mahasiswa kedokteran klinik membuat masing-masing tiga tulisan refleksi diselingi dua diskusi kelompok kecil kemudian dilakukan wawancara pada masing-masing mahasiswa. Tulisan refleksi menggunakan thematic analysis dan hasil wawancara menggunakan content analysis untuk menggali dampak dan keterlaksanaan metode refleksi tersebut. Hasil: Lima mahasiswa mengalami peningkatan perilaku dimana tiga mahasiswa mengalami peningkatan lebih cepat dan dua lebih lambat. Dua mahasiswa tidak ada perubahan, satu mahasiswa menurun, dan satu mahasiswa tidak mendapatkan kesadaran mengenai spiritual care. Faktor yang mendukung adalah diskusi bersama peer, pelatihan refleksi bagi mahasiswa, engage dengan pasien, role-model, penjadwalan yang baik, dan volume tulisan. Faktor yang menjadi penghambat adalah kesulitan interpretasi emosi, kurangnya task commitment, kurangnya pemahaman refleksi dan diskusi mahasiswa, kurangnya minat mahasiswa, kurangnya keterkaitan emosi dengan pasien, kurangnya role-model, pengaturan frekuensi refleksi yang tidak sesuai stase klinik, dan tidak adanya pelatihan spiritual care bagi mahasiswa. Kesimpulan: Metode refleksi dapat digunakan untuk mengajarkan spiritual care di kepaniteraan klinik dengan memperhatikan beberapa faktor yang mungkin berperan. Penelitian lebih lanjut dengan perbaikan pada metode refleksi masih diperlukan.
Introduction: Spirituality is a dynamic humanity aspect in which a person seeks the highest meaning of life. Someone who is suffering from an illness can experience spiritual pain and doctors need to provide spiritual care. The challenge is the lack of education regarding spiritual care. Reflection is one method that can be used to teach spiritual care but its impact on learning still requires further research. Methods: The study uses IPA with reflective writings and in-depth interviews. Each of nine clinical medical students make three reflection writings interspersed with two small group discussions and then interviews are conducted. The reflective writing uses thematic analysis and the transcript use content analysis to explore the impact and implementation of the reflection method. Result: Five students experienced an increase in behavior where three students increase faster and two slower. Two students did not change, one student declined, and one student did not get awareness. Supporting factors are discussion with peers, reflection training for students, engaging with patients, role-models, good scheduling, and volume of writing. The inhibiting factors are difficulty in interpreting emotions lack of task commitment, lack of students understanding of reflection and discussion, lack of role-models, low of student interest, low of emotional connection with patients, improper reflections frequency, and lack of spiritual care training for students. Conclusion: The reflection method can be used to teach spiritual care in clinical stage by considering several factors that might play a role. Further research with improvements to the reflection method is still needed
Kata Kunci : Spiritual care, spiritualitas, refleksi, mahasiswa kedokteran tingkat klinik