Laporkan Masalah

Saminisme Dalam Sengketa Pembangunan Pabrik Semen: Analisis Semiotik Film Sikep Samin Semen

MOHAMAD YUSUF, Prof.Dr. Heru Nugroho

2020 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Ketegangan antara masyarakat penolak pabrik semen dengan pemerintah daerah serta perusahaan semen di Pegunungan Kendeng masih terjadi hingga sekarang. Ketegangan ini bermula di Pati pada 2006 yang kemudian menjalar ke Kabupaten Rembang karena berhasil dihadang oleh warga sekitar. Penolakan terus dilakukan oleh warga dari kedua wilayah karena pembangunan pabrik semen akan mengancam kelestarian alam yang bergaris lurus dengan penghidupan mereka. Penolakan termanifestasikan dalam bentuk aksi jalanan hingga aksi saling lapor di meja peradilan. Salah satu unsur dari masa penolak yang memiliki peran sangat signifikan adalah mereka pengikut ajaran Samin atau secara umum dikenal dengan nama Sedulur Sikep. Namun, keikutsertaan mereka menimbulkan pro dan kontra baik dari dalam pengikut ajaran Samin sendiri dan dari luar. Pro dan kontra ini salah satunya termanifestasikan dalam bentuk film, dari pihak kontra pabrik semen di wakili Film Samin vs Semen sementara dari pihak pro di wakili oleh Film Sikep Samin Semen. Film Sikep Samin Semen mengklaim diri sebagai yang paling berhak mendefinisikan ajaran samin dan menegasikan pengikut ajaran samin yang ada pada Film Samin vs Semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana Film Sikep Samin Semen membentuk makna atas Sedulur Sikep dalam sengketa pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Penelitian ini menggunakan metode Semiotik dari Roland Barthes guna mendapatkan data dari relasi tanda pada tahap pertama (denotasi) dan relasi tanda pada tahap kedua (Konotasi). Barthes juga memberikan tuntunan pengumpulan data dari teks lain yang dinilai penulis relevan (Korpus). Guna mempermudah dan memperdalam analisis penelitian ini akan mengelaborasikan konsep mitos dari Roland Barthes dan Representasi dari Stuart Hall.

The tension in the Kendeng Mountains between local people with the authorities and the mining corporation is still intense. This tension started in 2006 in Pati Regency but now had spread into Rembang Regency because of the anti-cement factory movement in the early phase. Rejection by local residents from both regions continues because the construction of cement factories will threaten the sustainability of nature that is the source of their livelihoods. The rejection manifested in many forms, from street actions to legal lawsuits. One element of the movement that has a very significant role is the followers of the teachings of Samin, or generally known as Sedulur Sikep. However, their participation raises conflict both from within Samin's followers and from outside. One manifestation of this conflict appears in two movies. The Anti-cement factory is represented by the Samin vs Semen movie, while the pro-cement factory is represented by the Sikep Samin Semen movie. The Sikep Samin Semen claims to be the most entitled to define the teachings of Samin and negate the followers of the Samin teachings found in the Film Samin vs Semen. This study aims to find out how the Sikep Samin Semen movie constructed the meaning of Sedulur Sikep in a dispute of the construction of the cement factory in the Kendeng Mountains. The Semiotic method from Roland Barthes will be used to examine the data from sign relations in the first stage (denotation) and sign relations in the second stage (connotation). To simplify and deepen the analysis, this research will elaborate on the mythical concept of Roland Barthes and the concept of Representation by Stuart Hall.

Kata Kunci : The cement factory conflict in Kendeng Mountains, Saminism, Samin, Sikep, Movie, Semiotic

  1. S1-2020-394672-abstract.pdf  
  2. S1-2020-394672-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-394672-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-394672-title.pdf