Laporkan Masalah

Piwulang Jayeng Irawan (Pi. 22): Suntingan, Terjemahan, Dan Maskulinitas

WULAN CAHYA A, Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum.

2020 | Tesis | MAGISTER SASTRA

Piwulang Jayeng Irawan (Pi. 22) merupakan koleksi Perpustakaan Widyapustaka, Pura Pakualaman. Naskah ini mempunyai ketebalan 196 halaman berisi 24 pupuh dengan jumlah 24 baris tiap halamannya. Teks Piwulang Jayeng Irawan berisi silsilah dan cerita hidup Jayeng Irawan. Berawal dari kisah Jayeng Taruna (ayah Jayeng Irawan), hingga Jayeng Irawan diangkat menjadi patih pada masa Paku Alam III, kemudian diakhiri dengan kisah Jayeng Winata. Naskah Piwulang Jayeng Irawan ini diteliti untuk disajikan secara filologis agar dapat dibaca dan dipahami oleh pembaca. Metode penelitian yang digunakan adalah metode filologi dan analisis isi. Kerangka teori yang akan digunakan adalah teori filologi dan maskulinitas. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan potensi para tokoh laki-laki dalam teks Piwulang Jayeng Irawan, maskulinitas Jawa tidak dinilai dari kekuatan fisik, jabatan, maupun kekayaan. Akan tetapi dari loyalitas, tanggung jawab, kecerdasan, etika, dan spiritual. Maskulinitas Jawa menekankan pada keseimbangan pikiran dengan hati yang ditunjukkan melalui sikap berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Piwulang Jayeng Irawan (Pi. 22) is a collection of the Widyapustaka Library, Puro Pakualaman. This manuscript has a thickness of 196 pages containing 24 columns with a total of 24 lines per page. The text of Piwulang Jayeng Irawan contains the pedigree and life story of Jayeng Irawan. Starting from the story of Jayeng Taruna (Jayeng Irawan's father), until Jayeng Irawan was appointed as governor during Paku Alam III, then ended with the story of Jayeng Winata. The script of Piwulang Jayeng Irawan is examined to be presented in a philological manner so that it can be read and understood by the reader. The research method used is the philological method and content analysis. The theoretical framework to be used is philology and masculinity theories. The final results of this study indicate that based on the potential of male figures in the text of Piwulang Jayeng Irawan, Javanese masculinity is not judged by physical strength, position or wealth. But from loyalty, responsibility, intelligence, ethics, and spirituality. Javanese masculinity emphasizes the balance of mind with the heart which is shown through the attitude of thinking and acting in everyday life.

Kata Kunci : Piwulang Jayeng Irawan, potensi, maskulinitas

  1. S2-2020-419352-abstract.pdf  
  2. S2-2020-419352-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-419352-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2020-419352-title.pdf