Laporkan Masalah

BIOPOWER DALAM REHABILITASI FISIK DI PUSAT REHABILITASI YAKKUM YOGYAKARTA

ANNISA NUR ROHMAH, Fina Itriyati, S.Sos., M.A.

2020 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana model medis bekerja pada penyandang disabilitas paraplegia di Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Pelayanan rehabilitasi model medis sendiri merupakan salah satu cara normalisasi tubuh atau yang biasa disebut dengan biopower. Pusat Rehabilitasi YAKKUM sebagai Lembaga sosial telah meminjam model medis dari rumah sakit dalam memberikan pelayanan rehabilitasi dalam bentuk intervensi tahapan-tahapan rehabilitasi yang ditujukan kepada penyandang paraplegia. Bahasan ini menjadi penting, karena model medis dalam pelayanan rehabilitasi menunjukkan posisi penyandang disabilitas sebagai objek rehabilitasi. Maka dari itu, pertanyaan kunci dari tulisan ini adalah 1) Bagaimana cara kerja aparatus medis Pusat Rehabilitasi YAKKUM dalam melakukan rehabilitasi tubuh penyandang disabilitas paraplegia? 2) Bagaimana respon individu penyandang disabilitas paraplegia dalam menjalani pelayanan rehabilitasi yang diberikan oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM? Dan 3) Bagaimana hambatan fisik dan sosial penyandang disabilitas paraplegia setelah melakukan rehabilitasi dan kembali ke masyarakat? Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Selanjutnya dalam tulisan ini menjelaskan bahwa dalam melakukan pelayanan rehabilitasi, aparatus medis memberikan intervensi tahapan-tahapan yang harus dilalui penyandang disabilitas paraplegia. Dalam melakukan pelayanan rehabilitasi ini, Pusat Rehabilitasi YAKKUM juga bekerjasama dengan pihak pemerintah misalnya BPJS Ketenagakerjaan, yang artinya dalam pemberian pelayanan rehabilitasi ini ada struktur besar yang melanggengkan kegiatan tersebut. Dan juga struktur besar tersebut ikut andil dalam normalisasi tubuh penyandang paraplegia. Meskipun demikian, intervensi tidak hanya diterima oleh penyandang disabilitas paraplegia, tim medis juga mendapatkan intervensi untuk memberikan capaian yang baik ketika menjalankan pelayanan rehabilitasi. Padahal,klien/pasien yang mereka hadapi memiliki hambatan dalam menjalani tahapan rehabilitasi. Penyandang disabilitas paraplegia memberikan berbagai macam respon ketika melakukan rehabilitasi sebagai bentuk bahwa dia berdaya atas dirinya sendiri. Respon tersebut berupa perasaan nyaman karena merasa dirangkul oleh tempat rehabilitasi mereka. Respon lainnya adalah kelelahan fisik yang berimbas pada tidak dilakukannya beberapa latihan. Selain itu, keadaan psikis penyandang disabilitas yang tidak baik dianggap tim medis sebagai penghambat rehabilitasi Setelah selesai melakukan rehabilitasi dan kembali ke masyarakat, penyandang disabilitas menghadapi hambatan fisik dan sosial yang berasal dari luar dirinya. Hambatan fisik berupa bangunan dan transportasi yang tidak aksesibel. Sedangkan hambatan sosial berupa stigma negatif dan kurangnya pengetahuan masyarakat ketika berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Rasa khawatir yang berlebihan dari keluarga juga menyebabkan terhambatnya aktivitas sosial penyandang disabilitas. Maka dari itu, dalam melakukan rehabilitasi penyandang disabilitas paraplegia tidak hanya berfokus pada pendekatan medis yang melakukan normalisasi tubuh penyandang disabilitas. Namun, dibutuhkan model sosial yang bisa membuat berbagai pihak menerima kehadiran penyandang disabilitas dalam kehidupan bermasyarakat.

This paper explains how the medical model works for people with paraplegia disabilities at Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Medical model rehabilitation services themselves are one way of body normalization or commonly referred to as biopower. Pusat Rehabilitasi YAKKUM as a social institution has borrowed a medical model from the hospital in providing rehabilitation services in the form of intervention stages of rehabilitation aimed at persons with paraplegia. This discussion becomes important, because the medical model in rehabilitation services shows the position of persons with disabilities as objects of rehabilitation. Therefore, the key questions of this paper are 1) How does Pusat Rehabilitasi YAKKUM�¢ï¿½ï¿½s medical apparatus work in rehabilitating a body with a paraplegia disability? 2) What is the response of individuals with disabilities paraplegia in undergoing rehabilitation services provided by the Pusat Rehabilitasi YAKKUM? And 3) What are the physical and social barriers of people with disabilities paraplegia after rehabilitation and return to the community? This paper uses a qualitative method with a phenomenological approach. Furthermore in this paper explains that in carrying out rehabilitation services, medical apparatus provide interventions stages that must be passed by persons with disabilities paraplegia. In carrying out this rehabilitation service Pusat Rehabilitasi YAKKUM also collaborates with the government for example BPJS Ketenagakerjaan, which means that in providing rehabilitation services there is a large structure that perpetuates these activities. And also the large structure contributes to the normalization of the body of people with paraplegia. However, the intervention was not only accepted by people with disabilities paraplegia, the medical team also received an intervention to provide good performance when carrying out rehabilitation services. In fact, the clients / patients they face have obstacles in undergoing the rehabilitation phase. Persons with disabilities paraplegia provide a variety of responses when doing rehabilitation as a form that he is empowered on his own. The response was in the form of a feeling of comfort because they felt embraced by their rehabilitation place. Another response is physical fatigue which results in not doing some exercises. In addition, the psychological condition of persons with disabilities that are not good is considered by the medical team as a barrier to rehabilitation. After completing rehabilitation and returning to the community, people with disabilities face physical and social obstacles that come from outside themselves. Physical barriers in the form of inaccessible buildings and transportation. While social barriers in the form of negative stigma and lack of public knowledge when interacting with persons with disabilities. Excessive worries from the family also hampered the social activities of people with disabilities. Therefore, in rehabilitation of persons with disabilities paraplegia does not only focus on the medical approach that normalizes the body of persons with disabilities. However, a social model is needed that can make various parties accept the presence of persons with disabilities in social life.

Kata Kunci : Penyandang disabilitas paraplegia, biopower, rehabilitasi medis/Person with paraplegia disabilities, biopower, medical rehabilitation

  1. S1-2020-394659-abstract.pdf  
  2. S1-2020-394659-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-394659-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-394659-title.pdf