Perspektif Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment Terhadap Aksi Arak Bugil Sebagai Bentuk Tindakan Eigenrichting
ALFIMA NASTHASYA, Dr. Harry Purwanto, S. H., M. Hum.
2020 | Skripsi | S1 HUKUMINTISARI PERSPEKTIF CONVENTION AGAINST TORTURE AND OTHER CRUEL, INHUMAN OR DEGRADING TREATMENT OR PUNISHMENT TERHADAP AKSI ARAK BUGIL SEBAGAI BENTUK TINDAKAN EIGENRICHTING Oleh Alfima Nasthasya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi aksi arak bugil sebagai bentuk tindakan eigenrichting yang sering terjadi di Indonesia menurut definisi dan elemen penyiksaan dan perlakuan kejam lainnya yang terumus dalam Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (CAT) sebagai intrumen internasional khusus yang melindungan right not to be subjected to torture atau hak untuk tidak disiksa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan normatif dengan cara mengkaji instrumen hukum internasional, teori-teori hukum serta bahan-bahan hukum yang relevan dengan perlindungan hak untuk tidak disiksa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksi arak bugil sebagai bentuk tindakan eigenrichting merupakan bentuk perlakuan yang mendatangkan rasa sakit atau penderitaan psikis yang tidak diperlukan, tidak dikehendaki dan berpotensi parah bagi kelompok tertentu, yang mana dilakukan dengan tujuan untuk menghukum yang mana adalah tujuan yang dilarang oleh CAT. Elemen yang tidak digenapi dengan dilakukannya aksi arak bugil sebagai bentuk tindakan eigenrichting adalah elemen pejabat publik sendiri karena pelaku aksi ini umumnya berstatus warga sipil. Arak bugil sebagai bentuk tindakan eigenrichting paling mendekati perlakuan yang sering disebut dalam putusan-putusan regional sebagai forced nudity/forced nakedness (ketelanjangan paksa) yang mana merupakan bentuk kekerasan atau penyiksaan seksual yang oleh putusan-putusan tersebut ditetapkan sebagai perlakuan tidak manuasiawi dan merendakan martabat (inhuman and degrading treatment) sampai kepada bentuk yang paling buruk yaitu penyiksaan (torture). Kata Kunci: arak bugil, eigenrichting, hak untuk tidak disiksa, hak asasi manusia
ABSTRACT THE PERSPECTIVE OF CONVENTION AGAINST TORTURE AND OTHER CRUEL, INHUMAN OR DEGRADING TREATMENT OR PUNISHMENT TOWARDS ARAK BUGIL AS FORM OF EIGENRICHTING By Alfima Nasthasya This research aims to determine the stance Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (CAT) has towards the repeated practice of arak bugil as form of eigenrichting in Indonesia. This research examines the elements of torture and other ill-treatments of this practice in Indonesia. The method used in this research is the normative approach by examining international legal instruments, legal theories and secondary sources relevant to the protection of the right not to be subjected to torture. The result of this research shows that arak bugil as form of eigenrichting can potentially constitutes an act of unnecessary and uninvited severe psychological pain or suffering that is intentionally inflicted on a person as a punishment, but the said act doesn�t meet the public official criteria which is a very critical element pursuant to CAT. This act is significantly indistinguishable to another act called forced nudity or forced nakedness by several international judgments. It is therefore found to be a form of sexual violence and torture and later declared at least as a form of inhuman and degrading treatment and at most atrocious as torture. Keywords: arak bugil, eigenrichting, right not to be subjected to torture, human rights
Kata Kunci : arak bugil, eigenrichting, hak untuk tidak disiksa, hak asasi manusia