PENDEKATAN FAILURE MODE & EFFECT ANALYSIS PADA KETERLAMBATAN PENGADAAN BARANG DAN JASA
RIO FERNANDO HALOHO, Nofie Iman Vidya Kemal, S.E., M.Sc., Ph.D
2020 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN (KAMPUS JAKARTA)Berdasarkan data BPS tahun 2018, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan akan mencapai 318.900.000 jiwa pada tahun 2045. Selain itu, berdasarkan berita resmi statistik BPS tahun 2019, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memberikan pertumbuhan positif terbesar pada sektor manufaktur besar dan sedang (IBS) pada periode triwulan I sampai dengan triwulan III tahun 2019. Proyeksi pertumbuhan penduduk, dukungan pemerintah melalui kebijakan pengendalian impor, dan peluang investasi yang semakin baik menunjukkan indikasi peningkatan produktivitas industri TPT. Sehingga penyediaan jasa layanan jaminan kualitas sebagai pendukung industri TPT juga perlu ditingkatkan. Dalam mendukung penyediaan kualitas layanan melalui laboratorium penguji di PT Intertek Utama Services (PT IUS), masih terjadi keterlambatan pada kegiatan pengadaan barang dan jasa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan alat analisis fishbone diagram, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), dan diagram Pareto. Data primer berasal dari narasumber menggunakan teknik wawancara dan kuesioner. Data sekunder yang digunakan berasal dari literatur, prosedur yang berlaku, berita dan artikel di internet serta dokumen yang berkaitan dengan proses pengadaan di PT IUS. Kegiatan pengadaan barang dan jasa PT IUS dilakukan dengan metode pengadaan langsung yang terdiri dari 4 tahapan serta penunjukkan langsung dan pemilihan langsung yang terdiri dari 7 tahapan. Berdasarkan analisis fishbone diagram, FMEA dan diagram Pareto, menunjukkan enam penyebab terjadinya keterlambatan pengadaan barang dan jasa di PT IUS dengan dua permasalahan yang memiliki risiko terbesar. Dua permasalahan tersebut adalah kebutuhan barang dan jasa yang beragam, spesifik dan tidak umum serta belum digunakannya sistem atau database terintegrasi yang dapat diakses oleh semua pihak terkait dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa.
Based on BPS data in 2018, Indonesias population is projected to reach 318,900,000 by 2045. In addition, based on the BPSs official statistics in 2019, the textile and textile products industry (TPT) provided the largest positive growth in the large and medium manufacturing sector (IBS) in the first quarter to third quarter of 2019. Population growth projections, government support through import control policies, and better investment opportunities show indications of increasing productivity in the textile industry. So that the provision of quality assurance services to support the textile industry also needs to be improved. In order to support the enhancement of quality service through the testing laboratory at PT Intertek Utama Services (PT IUS), there are still delays in the procurement of goods and services. This study uses qualitative method with the analysis of fishbone diagrams, Failure Modes and Effect Analysis (FMEA), and Pareto diagrams as the analysis tools. Primary data were received from informants using interview and questionnaire techniques. The secondary data were received from the literature, applicable procedures, news and articles on the internet and documents that relate with procurement process at PT IUS. The IUSs goods and services procurement activities are carried out by direct procurement method consists of 4 stages as well as direct appointment and direct selection method consists of 7 stages. Fishbone diagram, FMEA, and Pareto analysis showed the six causes of delays in the procurement of goods and services at PT IUS with two issues that have the greatest risk. Two of these issues are the need for goods and services that are diverse, specific and not common, and integrated systems or databases that can be accessed by all of the related parties has not implemented yet in the procurement of goods and services.
Kata Kunci : Quality assurance services, testing laboratories, fishbone diagram, FMEA, Pareto diagram.