Melacak 'Kekontemporeran' Tiga Koregrafer di Yogyakarta
GALIH PRAKASIWI, Dr. Rr. Paramitha Dyah F., M.Hum; Dr. Sal Murgiyanto, M.A.
2020 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN SENI PERTUNJUKAN DAN SENI RUPAPenelitian ini melihat perspektif kekontemporeran koreografer muda di Yogyakarta melalui prosesnya dalam berkarya. Pelabelan kontemporer dalam karya tari marak terjadi, namun kurang diimbangi oleh wacana yang memadai. Penelitian ini menjawab bagaimana pemaknaan kontemporer bagi tiga koreografer muda di Yogyakarta. Tiga koreografer yang diteliti ialah Ari Ersandi dengan karya Lalube (2016), Ayu Permata Sari dengan karya Tubuh Dang Tubuh Dut (2018), dan Pulung Jati Rangga Murti dengan karya Siklus (2018). Tiga koreografer tersebut diambil dari tiga jenis masyarakat yang berbeda di Yogyakarta yakni individu urban, individu urban dengan bekal tradisi daerahnya, dan individu yang lekat dengan tradisi dan tinggal di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memperhatikan fenomena yang terjadi melalui proses latihan dan pengalaman koreografer. Penelitian ini mewacanakan rasionalitas, kebebasan, kreativitas, dan kemanusiaan oleh Sal Murgiyanto yang dipadukan dengan konsep kekontemporeran Giorgio Agamben. Teori generasi ��� (phi) oleh Muhammad Faisal untuk melihat kecenderungan milenial Indonesia, dan IDEA (Improvisation, Development, Evaluation, dan Assimilation) Larry Lavender untuk menganalisa proses koreografer dalam berkarya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiga koreografer menunjukkan sudut pandang yang beragam. Kekontemporeran merupakan ekspresi individual yang bebas dalam kaidah estetik tertentu. Hal tersebut terlihat dari pengalaman, ketrampilan, dan teknik ketubuhan masing-masing penari. Cara mengekspresikan diri secara kreatif, mewujudkan gagasan, menunjukkan identitas dan eksistensi dalam karya koreografer menunjukkan pemaknaan kekontemporeran mereka yang beragam.
This study looks at the contemporary perspective of young choreographers in Yogyakarta through the process of creating. There are many contemporary labeling in dance works, but less discourse about it. This study answers how contemporary (dance) meanings for three young choreographers in Yogyakarta. The three choreographers are Ari Ersandi with Lalube (2016), Ayu Permata Sari with Tubuh Dang Tubuh Dut (2018), and Pulung Jati Rangga Murti with Siklus (2018). That three choreographers are drawn from three different types of society in Yogyakarta, those are urban individuals, urban individual with her regional traditions, and individuals who are closely attached to traditions and live in Yogyakarta. This research uses a qualitative method with regard to phenomena that occur through the process of training and choreographed experience. This research discusses rationality, freedom, creativity, and humanity by Sal Murgiyanto combined with the concept of contemporariness by Giorgio Agamben. The generation theory ��� (phi) by Muhammad Faisal used to see Indonesia's millennial tendencies, and IDEA (Improvisation, Development, Evaluation, and Assimilation) Larry Lavender to analyze the choreographed process of work. The results of this research indicate that the three choreographers show diverse perspectives. Contemporariness is an individual expression that is free in certain aesthetic rules. This can be seen from the experience, skills, and bodily techniques of each dancer. How to express themselves creatively, embody ideas, show identity and existence in choreographed works shows their diverse meanings of contemporarity.
Kata Kunci : Koreografer, Muda , Kekontemporeran