JEJARING AKTOR GERAKAN SOSIAL GEJAYAN MEMANGGIL
FITRIANA SELVIA, Dr. BevaolaKusumasari, M.Si.
2020 | Tesis | MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PUBLIKDisahkannya Rancangan Undang-Undang KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) dan RUU KUHP memicu aksi gerakan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa, gerakan ini berawal dari sebuah tweet dan tagar #gejayanmemanggil di Twitter. Twitter dimanfaatkan sebagai sebuah media untuk membentuk gerakan sosial, melalui penggunaan tagar ini aktor-aktor saling terhubung dan membentuk suatu jaringan. Penelitian ini menggabungkan konsep gerakan sosial dan jejaring sosial. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan social network analysis dengan software gephi dan content analysis. Penelitian ini menggunakan pengukuran nilai degree yang meliputi indegree dan outdegree, closeness centrality, betweenness centrality, dan eigenvector centrality, serta mengukur jaringan berdasarkan konsep dari Eriyanto (2014) yaitu ukuran (size), densitas, sentralitas, resiprositas, serta diameter dan jarak serta menggabungkan konsep mengenai tahapan geraka dalam sosial media menurut Almazan dan Gil-gracia (2013) yaitu fase pemicu, reaksi media, organisasi viral, dan aksi langsung. Adapun temuan pada penelitian ini adalah bahwa aktor yang menjadi aktor sentral dalam gerakan gejayan memanggil adalah aktor Mahasiswa Yujiem, selain sebagai aktor yang memprakarsai gerakan aktor ini juga menjadi aktor penghubung dengan aktor lainnya. Selain itu aktor ismail Fahmi juga berperan sebagai aktor gatekeeper dalam jaringan. Struktur jaringan yang terbentuk cenderung kurang padat dan hanya terfokus pada beberapa aktor, struktur jaringan seperti ini umumnya kurang menguntungkan untuk hubungan dalam jangka panjang, terutama dalam memberikan solusi terhadap suatu masalah. Sedangkan tahapan gerakan yang terbentuk, pada fase pemicu gerakan ini dipicu oleh kekecewaan mahasiswa disahkannya RUU KPK dan RUU KUHP dan berbagai kekecewaan lainnya. Mahasiswa dan aktor pendorong gerakan ini memanfaatkan media sosial Twitter sebagai sarana untuk memobilisasi massa, dan menjadi trending twitter pada tanggal 22 September 2019, kemudian pada tanggal 23 September 2019 aksi dilakukan dijalanan serta aksi kembali dilakukan pada tanggal 30 September 2019. Kelemahan dalam gerakan ini tuntutan gerakan yang terlalu luas, dan tujuan dari gerakan ini kurang terfokus, selain itu gerakan ini juga tidak dilakukan dengan konsisten hingga tujuan akhir dari gerakan ini tidak tercapai.
The ratification of the RUU-KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) and RUU- KUHP triggered social movements by students, this movement began with a tweet and the hashtag #gejayanmemanggil on Twitter. Twitter is used as a facilitation form social movements, through the use of this hashtag, actors are connected to each other and form a network. This research combines the concepts of social movements and social networks. The research method used in this study is a social network analysis approach with Gephi software and content analysis. This study uses measurement of degree values which include indegree and outdegree, closeness centrality, betweenness centrality, and eigenvector centrality, as well as measuring networks based on the concept of Eriyanto (2014) size, density, centrality, reciprocity, diameter and distance, as well as combining the concept of the stage of movement in social media according to Almazan and Gil-gracia (2013) the trigger phase, media reaction, viral organization, and direct action.The findings in this study are that the actor who became the central actor in the gejayan's Memanggil movement the actor was Mahasiswa Yujiem, besides being an actor who initiated the movement, this actor also became a liaison actor with other actors. Besides actor Ismail Fahmi also acts as a gatekeeper actor in the network. The network structure that is formed tends to be less dense and only focuses on a few actors, such a network structure is generally less favorable for long-term relationships, especially in providing solutions to a problem. While the phases of the movement that were formed, the trigger phase of the movement was triggered by student disappointment the passing of the RUU-KPK and the RUU-KUHP and various other disappointments. Students and actors driving the movement used Twitter social media as a means to mobilize the masses, and became a Twitter trending on September 22, 2019, then on September 23, 2019 the action was carried out on the streets and the action was again carried out on September 30, 2019. The weaknesses in this movement demand movements that are too broad, and the goals of these movements are less focused, besides this movement is also not done consistently until the final goal of this movement is not achieved.
Kata Kunci : Gerakan Sosial, Twitter, Jejaring Sosial, Gejayan Memanggil.