This Is Not a Power Game: Sebuah Kajian Terhadap Perkawinan Campur dalam Relasi Bisnis
SINTA DWI M, Prof. Dr. Heru Nugroho
2020 | Tesis | MAGISTER KAJIAN BUDAYA DAN MEDIAPenelitian ini hendak melihat dinamika relasi antara perempuan Indonesia dan laki-laki kulit putih dalam konteks pasangan perkawinan campur yang mengelola bisnis bersama. Relasi antara perempuan Indonesia dan laki-laki berkulit putih seringkali masih dibayangi oleh stereotipe mobilitas vertikal seperti yang diungkapkan oleh Frantz Fanon. Perempuan masih diposisikan sebagai pihak yang tidak memiliki agensi di dalam relasi lintas bangsa semacam ini. Pada prakteknya, produk-produk hukum di Indonesia yang mengatur perkawinan campur membuktikan adanya kapital-kapital simbolis yang dimiliki oleh perempuan Indonesia untuk memunculkan agensi di dalam relasi perkawinan campur. Salah satu aspek perkawinan campur yang memperlihatkan kondisi ini adalah ketika para pelaku kawin campur mengelola bisnis bersama. Warga negara asing yang hendak membangun bisnis di Indonesia seringkali terganjal oleh ketatnya kebijakan pemerintah sehingga membina relasi dengan warga negara Indonesia merupakan salah satu strategi untuk mempermudah legalisasi bisnis yang mereka bangun. Meskipun demikian, kondisi ini juga memperlihatkan tumpang tindih antara relasi intim dan bisnis di dalam perkawinan mereka. Melalui metode observasi partisipatoris dan etnografi, penelitian ini memperlihatkan relasi kuasa yang kompleks yang diakibatkan oleh pertukaran simbolik antara kapital kultural yang dimiliki oleh para pelaku kawin campur.
This research aims to see the power dynamics in mixed-marriages between Indonesian women and foreign men who run businesses together. Transnational and interracial relationships in Indonesia tends to be overshadowed by vertical mobility myth as stated by Frantz Fanon. Women are often positioned as a party without agency and therefore such marriages are considered hypergamous. On the other hand, Indonesian laws regarding mixed marriages proved to be significant in showing symbolic capitals owned by Indonesian women and therefore bring agency for these women. One example can be found when mixed-marriage couples own businesses together. As foreigners are sometimes hindered by the complicated policies to invest in Indonesia, marriages are considered to be a pivotal strategy in order to ease said processes. That being said, this condition brings the overlaps between intimate and business relationships in the marriage. Through participatory observations and ethnography methods, this research shows the complexity of power relations caused by symbolic exchanges between cultural capitals by mixed marriages couples.
Kata Kunci : Perkawinan campur, kapital simbolis, relasi intim, relasi bisnis/ mixed marriages, symbolic capitals, intimate relationships, business relationships