IDEOLOGI LU XUN TENTANG PEREMPUAN: TINJAUAN ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH PADA CERPEN ZHUFU
NENI KURNIAWATI, Prof. Dr. Faruk, S.U;Dr. Wining Udasmoro, M.Hum, DEA
2020 | Disertasi | S3 SastraWacana emansipasi perempuan dan nasionalisme menjadi populer di awal abad ke-20 di Cina. Westernisasi dan modernisasi dianggap sebagai solusi untuk merevitalisasi bangsa, meningkatkan semangat kebangsaan, dan mencapai kesetaraan gender. Gerakan Empat Mei 1919 menjadi momentum titik balik dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Cina. Revolusi budaya dan sastra merupakan tujuan dari gerakan tersebut. Lu Xun adalah tokoh intelektual sastra utama di balik Revolusi Budaya dan Revolusi Sastra. Ia diangkat menjadi Bapak Sastra Cina modern karena dianggap telah meletakkan dasar-dasar bagi pembaruan sastra yang terlepas dari pakem sastra klasik. Ia juga aktif menyuarakan pandangannya tentang pemikiran Barat, nasionalisme, dan wacana Perempuan Baru. Namun secara paradoks, responsnya terhadap isu Perempuan Baru dan modernitas tampak berbeda dengan intelektual pada umumnya di periode tersebut. Paradoksalitas sikap Lu Xun ini kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana sebenarnya ideologi Lu Xun tentang perempuan dan efek ideologis apa yang mungkin mendorong perubahan sosial budaya di Cina. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut digunakan metode analisis wacana kritis Norman Fairclough dalam menganalisis teks. Metode yang ditawarkan Fairclough menggunakan analisis tiga dimensi, yaitu dimensi tekstual, diskursif, dan sosial budaya. Data utama dalam penelitian ini adalah teks cerpen Persembahan Tahun Baru, tulisan Lu Xun tentang perempuan. Dimensi tekstual dianalisis dengan cara mendeskripsikan fitur-fitur bahasa yang digunakan di dalam data utama. Dimensi diskursif dianalisis dengan menafsirkan manifesto intertekstualitas dan interdiskursivitas. Pada dimensi ini, penulis menafsirkan keterkaitan teks PTB dengan wacana-wacana lain yang terdapat dalam teks cerpen. Dimensi sosial budaya dianalisis dengan menjelaskan praktik sosial budaya yang terimplikasi pada teks. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Lu Xun bernegosiasi dengan nilai-nilai Barat dan nilai-nilai tradisional. Ia mentransformasi nilai-nilai Barat dan tradisionalisme Cina menjadi ideologi yang lebih sesuai dengan budaya Cina. Dengan menggunakan prinsip Jalan Tengah dari Konfusianisme, ia bernegosiasi dengan nilai-nilai Barat yang sudah tak terhindarkan masuk ke Cina dengan menawarkan pandangan Na Lai Zhuyi yaitu mengambil hal-hal yang baik dari perspektif Barat dan tetap mempertahankan nilai-nilai lama yang dianggap baik. Prinsip Jalan Tengah menjadi solusi untuk menghindari konflik antara modern dan tradisional dan mencapai harmoni masyarakat dan emansipasi wanita.
Women's emancipation and nationalism discourses became popular in the early 20th century in China. Westernization and modernization are considered as solutions to revitalize the nation, increase the spirit of nationalism, and achieve gender equality. The Fourth May 1919 Movement became the momentum of the turning point for Chinese socio-cultural life. The cultural and literary revolution are the way to achieve the goals of the movement. Lu Xun was the prominent figure of literary intellectual behind the Cultural Revolution and Literary Revolution. He was appointed as the Father of modern Chinese Literature because he laid the foundations for literary reformation which was separated from the standard of classical literature. He also actively voiced his views on Western thought, nationalism, and the New Women's discourse. But paradoxically, his response to the issue of New Women and modernity appeared to be different from other intellectuals in that period. The paradox of Lu Xun's attitude then raises the question of how Lu Xun's ideology is actually about women and what ideological effects might encourage social cultural change in China. To answer these questions, Norman Fairclough's critical discourse analysis method was used in analyzing text. The method offered by Fairclough uses three-dimensional analysis, namely the textual, discursive, and socio-cultural dimensions. The main data in this study is the text of the "New Year Offerings" short story, Lu Xun's writing about women. The textual dimension is analyzed by describing the language features used in the main data. The discursive dimension is analyzed by interpreting the intertextuality and interdisciplinary manifesto. In this dimension, the author interprets the interrelation of the text "PTB" with other discourses contained in the short story text. The socio-cultural dimension is analyzed by explaining the socio-cultural practices implicated in the text. From the results of the study it can be concluded that Lu Xun negotiates with Western values and traditional values. He transformed Western values and Chinese traditionalism into an ideology that more suited to Chinese culture. Using the principle of the Doctrin of Mean of Confucianism, he negotiated with the West values which inevitably entered China by offering a "Na Lai Zhuyi" view which taking good things offered by Western perspective and maintaining some old values that were considered good . The Middle Way Principle is the solution to avoid conflict between modern and traditional, achieve harmony and women's equality.
Kata Kunci : perempuan Cina, Lu Xun, ideologi, modernisme, Jalan Tengah