Laporkan Masalah

NGAJI DI INSTAGRAM: PRAKTIK DAN INTERPRETASI PEMUDA MUSLIM TERHADAP KAJIAN ONLINE-OFFLINE DI YOGYAKARTA

INDI NISAUF F S, Dr. Mohamad Yusuf, M.A

2019 | Tesis | MAGISTER ANTROPOLOGI

Adanya kemajuan teknologi yang pesat dengan munculnya internet telah menjadi penanda era modernitas dalam kehidupan beragama. Saat ini hampir tidak ada tradisi, gerakan, kelompok, atau fenomena keagamaan yang absen seluruhnya dari internet khususnya media sosial. Kondisi tersebut mengakibatkan adanya pergeseran ruang keagamaan dari dunia nyata ke dunia maya. Dalam bidang dakwah, aktivitas penyebaran ajaran agama kini tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan media sosial (instagram) sebagai platform yang populer di kalangan kaum muda. Pembelajaran agama pun dapat dengan mudah dilakukan secara online, salah satunya melalui kajian live streaming di instagram. Munculnya pergeseran kajian secara offline ke online tersebut berdampak pada munculnya beragam pemaknaan terkait aktivitas tersebut dalam kehidupan religius kaum muda di Yogyakarta. Karakter kota Yogyakarta sebagai kota pelajar di mana banyak kaum muda tinggal menjadi gerbang masuk dalam mengetahui respon mereka terkait adanya kajian online. Penelitian secara online dan offline pun dilakukan sejak bulan Maret hingga Agustus 2019 dengan melibatkan 15 informan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan berusia 19-34 tahun. Melalui metode penelitian etnografi digital, tesis ini berupaya menganalisis pemaknaan kaum muda atas perkembangan dunia online dalam praktik kajian, serta perubahan religiusitas dalam kehidupan kaum muda sejalan dengan pergeseran dunia offline ke online. Dengan menggunakan konsep agama digital (digital religion), hasil temuan memperlihatkan bahwa pergeseran kajian dari offline ke online tidak dibarengi dengan antusias pemuda untuk beralih menikmati kajian online. Pemaknaan kaum muda yang lebih banyak memilih kajian offline daripada online berhubungan erat dengan nilai-nilai agama yang diyakini. Kajian itu sendiri bagi mereka adalah bagian dari praktik ibadah yang tidak dapat dimediasi oleh perantara apapun seperti praktik ibadah sholat dan haji. Sehingga ketidakpuasan kaum muda dalam melihat kajian online sebagai mediasi praktik ibadah pada akhirnya hanya menjadikannya sebagai media alternatif dalam mencari ilmu terkait agama. Logika media sosial instagram sebagai perantara dalam diseminasi dakwah gagal memenuhi nilai-nilai transendental keagamaan. Dengan demikian pemaknaan yang muncul pun mengarah pada pemilihan kajian offline dibanding online yang dirasa dapat terlibat dalam proses � yang pada saat bersamaan menghubungkan mereka dengan berbagai aspek sosial serta keagamaan.

The existence of rapid technological advances with the advent of the internet has become a sign of the era of modernity in religious life. Nowadays there are almost no traditions, movements, groups, or religious phenomena that are absent from the internet, especially social media. These conditions resulted in a shift in religious space from the real world to the virtual world. In the field of da'wah (proselytization), the activity of spreading religious teachings is now inseparable with the existence of social media (Instagram) as a popular platform among young people. Religious learning can also be easily done online, one of them through kajian live streaming on Instagram. The emergence of a shift in the practice of worship offline to online has an impact on the emergence of various meanings related to the practice of online worship in the religious life of young people in Yogyakarta. The distinctive of Yogyakarta as a city of students where many young people live is a gateway to find out their responses regarding kajian online. The online and offline ethnographic research was conducted from March to August 2019, involving 15 informants of men and women aged 19-34 years. Through digital ethnographic research methods, this thesis attempts to analyze the meaning of young people for the development of the online world in worship, as well as changes in religiosity in young people's lives in line with the shifting of the offline world to online. By using the concept of digital religion, the findings show that the shift in kajian from offline to online is not accompanied by enthusiastic youth to switch to enjoying kajian online. The meaning of young people who prefer offline rather than online is closely related to religious values that they believed. For them, the kajian itself is a part of the practice of worships that cannot be mediated by any intermediary such as the practice of praying (sholat) and pilgrimage. So that the dissatisfaction of young people in viewing kajian online as a mediating practice of worship ultimately only makes it an alternative medium in seeking knowledge related to religion. The logic of social media such as Instagram as an intermediary in the dissemination of da'wah fails to fulfill the values of religious transcendence. Thus the meaning that emerges also leads to the selection of offline rather than online which is felt to be involved in the process - which at the same time connects them with various social and religious aspects.

Kata Kunci : kajian, live streaming, instagram, pemuda, Muslim

  1. S2-2019-419210-abstract.pdf  
  2. S2-2019-419210-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-419210-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-419210-title.pdf