NEGOSIASI IDENTITAS KEYOGYAKARTAAN PEMUDA PADA ERA MODERNITAS LANJUT
Raden Ajeng Magdalena Putri Kuslarassakti, Oki Rahadianto Sutopo, Ph.D.
2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIEra globalisasi dan modernitas lanjut memberikan perubahan sosial bagi pemuda, khususnya pemuda di masa transisi. Mahasiswa UGM domisili Yogyakarta adalah bagian dari pemuda pada masa transisi. Pada modernitas lanjut, masa depan seakan memberikan risiko yang lebih tak terduga bagi pemuda pada masa transisi. Khususnya pada Mahasiswa UGM domisili Yogyakarta yang harus menghadapi permasalahan tentang posisi identitas etnis mereka. Di waktu bersamaan mereka pun menghadapi risiko menghadapi habitus baru yang terus hadir dalam ruang-ruang mereka sehingga mempengaruhi aspirasi profesi yang mereka pilih dan tekuni. Maka dari itu, perlunya mahasiswa UGM domisili Yogyakarta melakukan proses pembentukan strategi atas identitas etnis dan aspirasi profesinya pada era modernitas lanjut. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Mengangkat narasi biografis melalui wawancara dan observasi pengamatan selama 6 bulan. Subjek penelitian yaitu 4 mahasiswa UGM yang >10 tahun tumbuh dan berkembang di Yogyakarta. Subjek penelitian yang terdiri dari 2 perempuan dan 2 laki-laki yang mewakili dari keempat kluster di UGM. Hasil penelitian menunjukkan globalisasi dan modernitas lanjut adalah fenomena yang tak terelakan khususnya bagi pemuda pada masa transisi. Mendorong pemuda secara aktif melakukan refleksivitas dan mobilitas dalam dimensi global, nasional, maupun lokal. Mahasiswa UGM domisili Yogyakarta di era globalisasi dan modernitas lanjut tidak meninggalkan identitas etnis Jawa khususnya Yogyakarta. Habitus refleksif dan mobilitas menjadi poin penting bagi pemuda pada masa transisi untuk bernegosiasi dengan identitas etnisnya pada era globalisasi dan modernitas lanjut, sekaligus menjadi strategi untuk mempersiapkan diri menuju bekerja dan dewasa yang akan penuh risiko tak terduga. Era modernitas lanjut mendorong pemuda Yogyakarta untuk memiliki habitus refleksif dan mobilitas. Fenomena tersebut yang menjadi faktor identitas etnis Jawa khususnya Yogyakarta di kalangan pemuda bukan lagi melulu persoalan merujuk pada pakem/aturan Keraton Yogyakarta atau yang kaku dan mengikat. Sehingga, konsep dadi wong merupakan konsep Jawa yang mampu ditangkap secara global dan relevan bagi mahasiswa UGM domisili Yogyakarta dalam menghadapi era modernitas lanjut.
The era of globalization and further modernity provide social change for youth, especially the one in transition period. UGM students domiciled in Yogyakarta are part of youth in transition. Further modernity makes the future seems to provide more unexpected risk for youth in transition. Especially for UGM students domiciled in Yogyakarta, who have to face problems about their ethnic identity position. At the same time thay also face risks encountering new habits that continues to be present in their space, thereby affecting their professional aspirations. Therefore, it is needed for UGM students domicile in Yogyakarta to carry out the process of forming strategies for ethnic identity and professional aspirations in the era of further modernity. Qualitative methods used in this study. Uncover biographical narratives through interviews and observations for 6 months. Research subjects were 4 UGM students who spends more than 10 years old growing and developing in Yogyakarta. The research subjects consisted of 2 women and 2 men representing from the four clusters at UGM. The results of the study show that globalization and advanced modernity are inevitable phenomena especially for youth in transition. Encourage young people to actively reflexive and be mobile in global, national and local dimensions. UGM students domiciled in Yogyakarta in the era of globalization and advanced modernity did not leave Javanese ethnic identity, especially Yogyakarta. Reflexive habitus and mobility become important points for youths in the transition to negotiate with their ethnic identity in the era of globalization and advanced modernity, as well as a strategy to prepare themselves for work and adulthood that will be full of unexpected risks. Further modernity era encourage young people of Yogyakarta to have reflexive habitus dan mobility. This phenomenon, which is a factor of Javanese ethnic identity, especially Yogyakarta, among young people, is no longer merely a matter of referring rules of the Keraton Yogyakarta or being rigid and binding. Thus, the dadi wong concept is a javanese concept that is able to be captured globally dan relevant for UGM students domiciled in Yogyakarta in facing further modernity era.
Kata Kunci : Globalisasi, Modernitas Lanjut, Pemuda Transisi, Identitas Etnis, Yogyakarta, Refleksivitas, Mobilitas