Gerakan Sosial: Gerakan Paguyuban Pengemudi Online Jogja Dalam Mempengaruhi Kebijakan Transportasi Online
TRIANA DEWI RAHMAWATI, Dra. Ratnawati, S.U.
2019 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHANPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persoalan tentang strategi gerakan sosial. Kasus yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah penolakan paguyuban pengemudi online tehadap kebijakan pemerintah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui secara detail terkait upaya apa saja yang dilakukan oleh Paguyuban Pengemudi Online Jogja (PPOJ) kaitanya dengan kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan. Rumusan masalah yang digunakan oleh penulis untuk menjelaskan kasus tersebut adalah bagaimana strategi yang dilakukan oleh Paguyuban Pengemudi Online Jogja (PPOJ) untuk mendorong perubahan kebijakan pemerintah terkait transportasi online? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, metode yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus, pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, serta didukung sumber data sekunder yang dirasa relevan. Analisis data dilakukan dari hasil intepretasi data dilapangan serta sumber data sekunder untuk lebih memahami startegi apa saja yang digunakan oleh pengemudi online untuk mencapai tujuannya. Dalam penelitian ini menggunakan teori strategi advokasi sebagai bagian dari strategi gerakan sosial berdasarkan pendapat Valerie Miller dan Jane Covey yang terdiri dari 5 strategi yaitu, kerjasama dengan lawan, edukasi, persuasi, ligitasi, dan kontestasi. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa gerakan hadir diawali dari rasa kecewa dan putus asa akibat keadaan yang tidak mendukung. Dari proses tersebut akhirnya terbentuk suatu paguyuban sebagai wadah untuk menampung aspirasi para pengemudi online dan tindakan hukum kedepan yang akan mereka lalui. Atas dasar kesamaan rasa, mereka bersepakat untuk mendorong perubahan kebijakan transportasi online yang dinilai merugikan para pengemudi. Untuk mencapai tujuannya paguyuban menggunakan beberapa strategi yaitu, strategi advokasi dan aksi demontrasi yang dilakukan melalui saluran legal dengan mengutamakan metode konvensional (lobby dan negosiasi) dan non-violence (tanpa kekerasan).
This research aims to describe the question of social movement strategy. The case to be discussed in this study is the rejection of the online group against government policy. The purpose of this research is to know in detail related to any efforts undertaken by PPOJ with government policies that are assessed as adverse. The problem formulation used by the authors to explain the case is how the strategy is done by PPOJ to drive government policy change about online transport? To answer these questions, the method used by the author is a qualitative method of research using a case study approach, data collection by means of interviews, observations, and supporting secondary data sources that are relevant. Data analysis is carried out from the results of data in the field and secondary source to better understand what strategies are used by online drivers to achieve their goals. In this study, the theory of advocacy strategy was used as part of the social movement strategy based on Valerie Miller and Jane Covey's opinion consisting of five strategies namely, cooperation, education, persuasion, litigation, and contestation. From the results of this study shows that the movement is present starting from feelings of disappointment and despair due to circumstances that do not support. From that process the group eventually formed a place to accommodate the aspirations of the online drivers and the future legal action that they will go through. On the basis of the equation of taste they agreed to drive the change in online transport policy which assessed adverse driver. To achieve the group goal using several strategies, advocacy strategies and demonstration actions are conducted through legal channels by prioritizing conventional methods (lobby and negotiation) and non-violence.
Kata Kunci : kemunculan gerakan, strategi gerakan sosial