Laporkan Masalah

Kampanye Online : @indonesiafeminis dan @perempuanpeduli dalam Menyuarakan Isu Kekerasan Seksual terhadap Perempuan

Annisa Alivia Nafi', Wahyu Kustiningsih, M.A.

2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan setiap tahun jumlahnya mengalami peningkatan. Komnas Perempuan (2015) menunjukkan bahwa ada 6.499 kasus yang teridentifikasi. Kasus kekerasan seksual tersebut sebagian besar korbannya ialah perempuan. Langgengnya budaya patriarki di masyarakat merupakan salah satu faktor yang membuat kasus kekerasan seksual terus terjadi. Pada peringatan 16 HAKtP (Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan) tahun 2018, kasus kekerasan seksual menjadi isu yang krusial untuk dibahas, sehingga muncul kampanye untuk mendukung dan melindungi korban kekerasan seksual. Salah satu kampanye yang dilakukan ialah melalui media sosial, terutama di Instagram. Instagram telah banyak memunculkan akun gerakan perempuan yang membahas mengenai isu kekerasan seksual, salah satunya @indonesiafeminis dan @perempuanpeduli. Melalui kedua akun tersebut, isu kekerasan seksual akan dibahas secara mendalam guna memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis wacana kritis dari Norman Fairclough dengan pendekatan kualitatif. Metode ini dipilih untuk menjadi pisau analisis dalam memahami pesan dan wacana pengetahuan yang dibangun oleh kedua akun. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi online, yakni peneliti mengikuti secara aktif kegiatan @indonesiafeminis dan @perempuanpeduli selama 16 HAKtP. Temuan yang diperoleh dalam penelitian yakni kedua akun berhasil membangun pengetahuan terkait anti kekerasan seksual terhadap perempuan. Proses membangun pengetahuan yang dilakukan oleh kedua akun ialah melalui unggahan. Selain itu, kedua akun juga menciptakan ruang-ruang baru yang digunakan korban untuk berbagi pengalaman dan speak up.

The number of sexual abuse experienced by women increases every year. Komnas Perempuan (2015) shows that 6.499 cases have been identified. The victims of sexual abuse mostly are women. The existence of patriarchal culture in the society is one of many factors which encourages case of sexual abuse to persist. On the 16th commemoration of HAKtP (Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan) in 2018, sexual abuse has been a prominent issue to discuss, thus it induces the emergence of campaign which is aimed to protect and support the victim of sexual abuse. One of the campaigns is done through social media, which is mainly through instagram. On instagram, there have been many accounts of women movement which concern about sexual abuse issue, two of them are @indonesiafeminis and @perempuanpeduli. Through these accounts, sexual abuse issue is thoroughly discussed in order to give a knowledge to the society. Along with qualitative approach, critical discourse analysis method of Norman Fairclough is applied in this research. This method is chosen to become the knife of analysis in order to understand the message and discourse knowledge built by the two accounts. The research data are obtained by online observation, which the researcher is actively following the activity of @indonesiafeminis and @perempuanpeduli for 16 HAKtP. The finding gained by the researcher is that these two accounts are successfully building a knowledge related to anti sexual abuse toward women. The knowledge building process of the two accounts is done through uploading. Besides, the two accounts are also creating new spaces which are used by the victim to share and speak up their experiences.

Kata Kunci : online campaign, kekerasan seksual, gerakan perempuan/online campaign, sexual abuse, women movement

  1. S1-2019-378712-abstract.pdf  
  2. S1-2019-378712-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-378712-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-378712-title.pdf