SENIMAN DAN DEMOKRASI LOKAL (GERAKAN SENIMAN DALAM RUANG POLITIK KOTA YOGYAKARTA)
Ammar Rahmat, DR. Amalinda Savirani, M.A.
2019 | Tesis | MAGISTER POLITIK DAN PEMERINTAHANTesis ini mengkaji tentang gerakan sosial baru yang diprakarsai oleh seniman di Kota Yogyakarta, terutama kaitannya dengan demokrasi lokal, dalam kurun waktu 2017-2019. Tesis ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus atas gerakan seniman dalam demokrasi lokal dan yang digunakan sebagai objek penelitian adalah Jogja Independent (JOINT) dan Komik Media Sosial (@stripjogja). Dipilihnya kedua gerakan tersebut disebabkan karena JOINT dan Komik Media Sosial merupakan gerakan yang mewakili dua kutub yang berbeda, JOINT didominasi oleh seniman senior dan gerakannya lebih banyak melalui aksi seperti konvensi, sedangkan Komik Media Sosial merupakan representasi seniman muda dan gerakannya lebih banyak berlangsung di media sosial. Dengan mengambil kedua gerakan sosial tersebut sebagai objek penelitian, peneliti mencoba menjawab bagaimana gerakan seniman di Kota Yogyakarta ini bekerja, apa yang menjadi motif dan tujuan keduanya, isu apa yang keduanya perjuangkan, dan bagaimana keduanya mengelola sumber daya yang mereka miliki. Penelitian ini menghasilkan lima temuan terkait New Social Movement di Kota Yogyakarta. Pertama, JOINT dan Komik Media Sosial merupakan gerakan sosial baru, yang tidak lagi berkutat pada isu perebutan sumber-sumber ekonomi. Kedua, JOINT dan Komik Media Sosial merupakan gerakan sosial baru yang dilahirkan oleh para seniman yang menjadi wadah baru bagi seniman untuk menyalurkan aspirasi politiknya setelah runtuhnya orde baru. Ketiga, gerakan JOINT dan Komik Media Sosial di Kota Yogyakarta ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gerakan sosial di kota lain. Gerakan JOINT dan Komik Media Sosial lebih mengutamakan nilai-nilai ideal dan gagasan. Sedangkan, di kota lain, seperti Jakarta, gerakannya lebih mengutamakan sosok figur. Keempat, JOINT dan Komik Media Sosial sama-sama telah melalui 3 fase gerakan sosial berupa fase organisasi, institusionalisasi dan surut. Kelima, tantangan yang dihadapi oleh JOINT adalah masalah pengumpulan KTP, sedangkan Komik Media Sosial dihadapkan pada kondisi media sosial yang memiliki jangkauan luas namun tidak dapat fokus pada dapil yang diinginkan. Dan, baik JOINT maupun Komik Media Sosial, keduanya sama-sama mengandalkan dana dari kantong pribadi. Dan yang menjadi pembeda adalah JOINT memiliki jangkauan yang lebih luas atas donatur sedangkan Komik Media Sosial terbatas hanya pada sektor-sektor usaha yang erat kaitannya dengan aktifitas kesenian mereka.
This study aims to examine the new social movements initiated by artists in the city of Yogyakarta, especially in relation to local democracy. This research is a qualitative study with a case study approach. The objects in this study are Jogja Independent (JOINT) and Komik Media Sosial (@stripjogja). JONT and Komik Media Sosial were chosen because the two movements represented two different poles. There are five results of the research, namely: (1) JOINT and Komik Media Sosial is a new social movement, which is no longer focused on the issue of struggling for economic resources. (2) JOINT and Social Media Comics are both a forum for artists to channel political aspirations after the collapse of the new order. (3) The characteristics of JOINT and Komik Media Sosial are different from social movements in other cities. JOINT and Komik Media Sosial prioritize ideal values and ideas. Meanwhile, in other cities, they prioritize figures. (4) JOINT and Komik Media Sosial have both gone through 3 phases of social movements. (5) The challenge faced by JOINT is the problem of gathering ID cards, while Komik Media Sosial are faced with the conditions of the broad reach of social media but cannot focus on the desired electoral districts.
Kata Kunci : Kata Kunci: Seniman, Demokrasi Lokal, Gerakan Sosial