PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA REMAJA YANG MEMILIKI SAUDARA KANDUNG PENYANDANG DOWN SYNDROME (Studi Fenomenologis tentang Psychological Well-being pada Remaja yang Memiliki Saudara Kandung Down Syndrome: Pentingnya Dukungan Sosial dari yang Tercinta)
Dinda Nabila Nauraliefia, Maria Goretti Adiyanti, Dr., M.S., Psikolog
2019 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIPsychological well-being seseorang dapat terlihat dari bagaimana mereka dapat memandang dan menjelaskan keberfungsian dirinya dalam kehidupan sehari-hari, serta adanya keseimbangan antara afeksi positif dan negatif yang dialaminya. Pada usia remaja, seseorang akan mengalami transisi dan berbagai bentuk ketidakdewasaan. Hal tersebut dapat menimbulkan stress sosial yang disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah kehadiran saudara kandung yang menyandang down syndrome. Keadaan dari penyandang down syndrome dapat memunculkan berbagai tekanan dan masalah bagi anggota keluarga yang lain, termasuk saudara kandungnya yang berusia remaja. Mereka harus menghadapi banyak hal berat dalam hidupnya, sehingga psychological well-being mereka akan terganggu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami psychological wellbeing remaja dengan saudara kandung penyandang down syndrome, serta cara mereka menyikapi keadaan yang harus mereka hadapi. Partisipan penelitian berjumlah tiga orang remaja di Yogyakarta yang memiliki adik penyandang down syndrome. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) sebagai analisis data. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam sebanyak beberapa kali, sementara data sekunder diperoleh dari wawancara dengan significant others. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga partisipan memiliki psychological well-being yang bervariasi, ditinjau dari keenam aspek psychological well-being. Keadaan ini bergantung pada keadaan keluarga, dukungan sosial, serta karakteristik pribadi dari masing-masing individu.
A person's psychological well-being can be seen through how they see and explain their functioning in life, as well as the balance between positive and negative feelings. In adolescence, an individual experience a transition and various forms of immaturity. Those can create social stress caused by various things, one of which is the presence of siblings with down syndrome. The needs and disabilities of children with down syndrome bring so much pressures and problems for other family members, including adolescent siblings. They have to get through hard times in their lives, so their psychological well-being will be disrupted. The aims of this study were to understand the psychological wellbeing of adolescents with siblings with down syndrome, and how they face their conditions. Three adolescents in Yogyakarta whose siblings have down syndrome participated in this study. This study uses the qualitative approach of phenomenology and Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) as data analysis. The primary data were collected by in-depth interviews for several times, while secondary data is obtained through interviews with significant others. The results showed that all three participants had varied psychological well-being, in terms of the six aspects of psychological well-being. This situation depends on the family conditions, social support, and personal characteristics of each individual.
Kata Kunci : psychological well-being, remaja, saudara kandung, down syndrome