Laporkan Masalah

MENGENALI KEMBALI WARISAN BUDAYA YANG TERLUPAKAN: STUDI KASUS PRAKTIK PENGENALAN KEMBALI PENINGGALAN SEJARAH PRA-ISLAM DI BANTEN

Nilam Gita Perdana, M. Zamzam Fauzanafi, S. Ant., M.A.

2019 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduk Islam dan menjunjung tinggi Kesultanan sebagai sejarah dominan, tidak menghambat suatu komunitas untuk mengenalkan sejarah yang tidak dominan di Serang, Banten. Muncul dengan nama Laboratorium Banten Girang (LBG), komunitas ini membawa diskursus di luar diskursus yang resmi. Mereka tidak berusaha memperbaiki atau mempercantik heritage atau warisan budaya yang ada, tetapi mencoba mengenalkan kembali sejarah pra-Islam di Banten melalui berbagai kegiatan. Kegiatan yang dilakukan merupakan inisiatif praktik dari diskursus yang mereka kembangkan. Isu yang mereka angkat adalah hal sensitif di tengah sentimen masyarakat terhadap apa yang tidak dominan. Dengan memperkenalkan Banten dari sisi yang lain, yaitu sejarah pra-Islam merupakan antitesis LBG pada sejarah dan kehidupan mayoritas di Banten. Berdasarkan apa yang mereka lalukan, komunitas ini dikategorikan dalam dissenting heritage discourse. Bersama millenial, pendiri yang berasal dari berbagai latar belakang mengajak untuk adil jika melihat dan berbicara tentang kebudayaan Banten. Disamping itu, untuk mendukung tujuannya, LBG juga memanfaatkan situs bersejarah sebagai tempat pendidikan dan berkegiatan, yaitu Situs Banten Girang. Persis dengan nama yang digunakan. Situs ini terletak di Desa Sempu, Serang, Banten dan merupakan bekas kerajaan bercorak Hindu-Budha. Selain itu, situs ini juga merupakan tempat peralihan kekuasaan dan kepercayaan dari masa Hindu-Budha ke masa Islam atau kesultanan. Apa yang dikerjakan oleh LBG dapat dikatakan sebagai upaya revitalisasi non-fisik yang berbeda dengan proyek revitalisasi fisik oleh pemerintah terhadap sejarah dominan. Sejalan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini juga menempatkan respon masyarakat lokal (sekitar Situs Banten Girang) dan masyarakat luas sebagai persoalan penting atas apa yang dikerjakan oleh LBG. Dukungan dan partisipasi masyarakat adalah langkah awal yang diharapkan dari cita-cita kemajuan kebudayaan dan kedepannya untuk upaya pelestarian warisan budaya.

Known as a region where the majority of the resident are Muslims, and uplift Kasultanan as a dominant history, that doesn't obstruct a community to introduce a non-dominant history in Serang, Banten. Come as community with a name "Laboratorium Banten Girang" (LBG), they brings discourse outside the official or authorized discourse of the dominant history. The community doesn't aim to repair or to beautify the heritage that exists. However, they aim to reintroduce pre-Islamic history in Banten through various activities. Those activities are a shape of an initiative practice of the discourse they developed. The issue that they bring is a sensitive topic in the middle of society sentiment of non-dominant history. By introducing Banten from another side, which is the pre-Islamic history, it's an antithesis of the LBG in history and the majority life in Banten. Based on what they do, this community is categorized as dissenting heritage discourse. With the millennials, the founder that comes from various backgrounds invite us to be fair when we see and talk about Banten's culture. Besides that, to support the purpose, LBG also utilizes the historic or heritage site as a place for education and activities. One of that is Banten Girang Site. Just like the name, this site is located in Sempu village, Serang, Banten. The Banten Girang site was a Hindu-Budhist former kingdom. Besides that, this site was a transition period place of Hindu-Budhist power and reliance to Islamic period or Kasultanan. What is done by LBG can be said as a non-physical revitalization effort that different from government's physical revitalization of dominant history. In line with that, this research also put the local society's responses (around Banten Girang Site) and wide society as a significant issue for what is done by LBG. Support and participation of the society is a first step which is expected from the goals of cultural advancement and for cultural heritage conservation effort in the future.

Kata Kunci : Laboratorium Banten Girang, sejarah dominan, sejarah tidak dominan, heritage, dissenting heritage discourse, revitalisasi

  1. S1-2019-378460-abstract.pdf  
  2. S1-2019-378460-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-378460-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-378460-title.pdf