GERAKAN ME TOO DALAM PUISI GWIMUL (MONSTER) KARYA CHOI YOUNGMI: KAJIAN SEMIOTIKA DAN SOSIOLOGI SASTRA
EUIS HERNANDA FITRIA, Hwang Who Young, M.A.
2019 | Skripsi | S1 BAHASA DAN KEBUDAYAAN KOREAKorea-Selatan merupakan salah satu negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Namun demikian, demokrasi di era ini terutama demokrasi bagi kaum perempuan cukup sulit untuk diperoleh. Kaum perempuan yang tidak mempunyai posisi yang sejajar di berbagai bidang sosial diperlakukan secara tidak adil dan semestinya. Perjuangan kaum perempuan untuk memperoleh keadilan bukanlah suatu hal yang mudah. Namun dengan semakin merebaknya gerakan Me too, kaum perempuan mulai berani bersuara menceritakan pengalaman mereka terkait pelecehan seksual yang pernah mereka alami. Pengaruh gerakan ini juga berdampak di bidang sastra. Melalui karya sastra, sastrawan pun bisa menyalurkan pendapat mereka. Salah satu sastrawan perempuan Korea-Selatan yang berani menyuarakan perlawanannya melalui puisi adalah Choi Youngmi. Lewat karya sastra puisi yang berjudul Gwimul (Monster) (2017), Choi Youngmi membeberkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh penyair Go-En. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah makna puisi dan mendeskripsikan gerakan Me too yang berkaitan dengan puisi Gwimul (2017). Untuk tujuan itu digunakan kajian semiotika dan sosiologi sastra Swingewood (1972). Hasil analisis semiotika pada pembacaan heuristik ditemukan bahwa puisi ini bercerita tentang sindiran seorang penyair wanita terhadap seniornya. Penyair wanita tersebut menjadi saksi sekaligus korban tindak pelecehan seksual yang dilakukan seniornya. Dari segi hermeneutik ditemukan bahwa puisi ini menggunakan kata-kata yang mampu menyampaikan makna puisi secara apa adanya seperti kata Me too yang dituliskannya di dalam salah satu bait puisi Gwimul (2017). Oleh karena itu, penelitian ini juga menyinggung tentang gerakan Me too di Korea-Selatan sebagai fakta sosial. Puisi Gwimul (2017) mampu mendeskripsikan perjuangan seorang sastrawan wanita untuk melawan pelecehan seksual yang dilakukan oleh sastrawan laki-laki ternama dan tersohor terhadap dirinya yang terjadi di dunia sastra Korea-Selatan. Perlawanan tersebut menunjukkan tekad kaum perempuan demi melawan penindasan yang mereka alami.
South Korea is a country that upholds a democracy. However, democracy for women in this era is quite difficult to obtain. Women who do not have high positions are treated improperly. Women struggle a lot to obtain justice. Hence, through Me too movement, women are encouraged to speak up about sexual abuse they had experienced. The influence of this movement also has an impact on the field of literature. For writers, literary works such as poetry, short stories, novels or essays can be a means to channel their opinions. One of the South-Korean female writers who dared to voice her opposition through poetry was Choi Youngmi. Through a poetry entitled Gwimul (2017), Choi Youngmi revealed sexual harassment committed by a poet named Go-En. The purpose of this study is to examine the meaning of poetry and to describe Me too's movements related to Gwimul's poetry (2017). For this purpose, Swingewood's semiotics and sociology of literature are used (1972). The semiotic analysis and heuristic reading of this poem confirms that this is a satirical poem written by a female poet towards her male senior. The female poet became a witness and victim of sexual harassment by her senior. In terms of hermeneutics, it was found that this poem uses words that are able to convey the meaning of poetry as they are; especially in the form of the word Me too as written in one of the verses of Gwimul's poetry (2017). Therefore, this study also analyzes the Me too movement in South Korea as a social fact. Gwimul manages to describe the struggle of a female writer to fight sexual harassment committed by famous male writers who have power in the South-Korean literature. The resistance shows the determination of women to fight the oppression they experienced.
Kata Kunci : Gerakan Me too, Choi Youngmi, Gwimul, semiotika, sosiologi sastra, Me too di Korea-Selatan