Laporkan Masalah

DEKONSTRUKSI HUBUNGAN MUHAMMADIYAH DAN NAHDATUL ULAMA DALAM NOVEL KAMBING DAN HUJAN KARYA MAHFUD IKHWAN

ASEP ANUGRAH, Prof. Dr. Faruk, S.U.

2019 | Tesis | MAGISTER SASTRA

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta sosial bahwa hubungan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama akhir-akhir ini kembali menunjukkan ketegangan. Sebagai pengarang, Mahfud Ikhwan mencoba merespons dengan mengonstruksi ulang hubungan kedua organisasi tersebut melalui novelnya yang berjudul Kambing dan Hujan. Dengan begitu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi hubungan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama beserta pola dekonstruksi pengarangnya dalam novel yang dikaji. Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan dalam dua poin utama, yaitu: (1) bagaimana konstruksi hubungan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama dalam novel Kambing dan Hujan?; dan (2) Bagaimana pengarang mendekonstruksi relasi-relasi tersebut? Demi menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, metode pembacaan dekonstruksi Derrida dianggap mumpuni sebagai metode dalam membaca teks dengan segala kemungkinan-kemungkinan paradoksnya. Hasil penelitian ini terdiri dari beberapa poin utama. Pertama, konstruksi hubungan antara Muhammadiyah dengan Nahdatul Ulama dalam novel Kambing dan Hujan dihadirkan dengan kompleksitas dan ketegangan yang bertumpang tindih, yang bukan hanya masalah religiusitas, melainkan juga masalah yang cenderung politis-organisatoris dan bahkan jauh lebih individual, yang hanya melibatkan tokoh-tokoh utama di dalamnya. Kedua, dalam gambaran lokalitas yang terbatas, segala pertentangan antara Muhammadiyah dengan Nahdatul Ulama ditunda pemaknaannya oleh pengarang dengan menghadirkan momen-momen alternatif sebagai ikatan yang menyatukan. Setidaknya ada tiga ikatan yang dihadirkan, yakni ikatan persaudaraan sekampung (nasionalisme kampung), ikatan kekerabatan, dan ikatan cinta. Akan tetapi, karena nilai unversalitasnya yang melampaui segala bentuk kolektivitas, ikatan cinta itu justru bersifat dekonstruktif terhadap dua ikatan yang lain.

This research is motivated by social facts that the relationship between Muhammadiyah and Nahdatul Ulama has recently heated up. As an author, Mahfud Ikhwan tried to respond by reconstructing the relations through his novel entitled Kambing dan Hujan. This study aims to reveal the construction of the relationship between Muhammadiyah and Nahdatul Ulama and the pattern of deconstruction of the author. Thus, the problems in this novel can be formulated in two main points, namely: (1) How is the construction of the relationship between Muhammadiyah and Nahdatul Ulama in the novel Kambing dan Hujan ?; and (2) How do authors deconstruct the relation? For the sake of answering these questions, the method of reading deconstruction is considered qualified as theory and method to read text and all its paradoxical possibilities. The results of this study consist of several main points. First, the relationship between Muhammadiyah and Nahdatul Ulama has constructed not merely a matter of religiosity, but there were other contradictions that accompanied, which tended to be political-organizational, and even far more individual, which only involved the main characters. Secondly, by reflecting that relation in a limited locality, all conflicts between Muhammadiyah and Nahdatul Ulama are deconstructed by the author through a unifying bond, namely the ties of village brotherhood, kinship ties, and bonds of love. However, because of the value of universality that goes beyond all collective bonds, the love bond actually tends to deconstructive towards the other two bonds.

Kata Kunci : Dekonstruksi/Deconstruction, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, paradoks/paradox

  1. S2-2019-407654-abstract.pdf  
  2. S2-2019-407654-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-407654-tableofcontent.pdf.pdf  
  4. S2-2019-407654-title.pdf