Analisis Kelayakan Finansial dan Nilai Tambah Pengemasan Udang Putih (Litopenaeus vannamei) Menggunakan Gas Industri
Halim Syammary, Novita Erma Kristanti; Nafis Khuriyati
2019 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANUdang merupakan salah satu komoditas perikanan yang potensial namun merupakan bahan pangan yang mudah rusak. Salah satu sumber kontaminasi udang adalah saat proses distribusi. Penanganan yang umum dilakukan yaitu menggunakan es batu sebagai media pendingin. Penggunaan es batu memiliki masalah tersendiri yaitu dari segi biaya dan kualitas yang menurun akibat aktivitas fisik yang terjadi. Pengemasan menggunakan gas industri merupakan salah satu opsi untuk memperpanjang umur simpan udang sehingga kualitasnya tetap terjaga hingga ke tangan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial, nilai sensitivitas, dan nilai tambah pengemasan udang menggunakan gas industri. Penggunaan gas industri pada pengemasan udang memerlukan analisis kelayakan finansial dan nilai tambah untuk mengukur potensi manfaat yang dapat diperoleh sekaligus meminimalisir resiko usaha yang mungkin terjadi. Digunakan lima kriteria untuk menghitung kelayakan finansial, dua indikator sensitivitas, serta nilai tambah dihitung dengan menggunakan metode Hayami. Hasil dari perhitungan kelayakan finansial menunjukkan nilai NPV Rp 614.795.451, IRR 14,99%, Net B/C Ratio 1,4, Payback Period 0,74 tahun, BEP (rupiah) Rp 80.799.543, dan BEP (unit) 2.525 pieces. Analisis sensitivitas dengan switching value menunjukkan maksimal terjadinya penurunan pada kas masuk sebesar 27,41% dan kenaikan pada kas keluar sebesar 38,59%. Hasil dari perhitungan nilai tambah menunjukkan kegiatan mengemas udang menggunakan gas industri menghasilkan nilai tambah per kilogram sebesar Rp 11.207 dengan rasio 11,08% dan Rp 9.000 dengan rasio 12,00% menggunakan es batu. Hasil analisis kelayakan finansial, sensitivitas, dan nilai tambah menunjukkan bahwa proyek pengemasan udang menggunakan gas industri layak secara finansial dan memberikan nilai tambah.
Shrimp is one of the fisheries commodities that have potential but easily damaged. One of the shrimp's contamination sources is during the distribution process. Handling that is commonly used in the distribution process is using ice cubes as a cooling medium. The use of ice cubes has its problems, namely in terms of costs and quality that are decreasing due to physical activity that occurs. Packaging using industrial gases is one option to extend the shelf life of shrimp so that the quality is maintained to the consumers. This study aims to determine the financial feasibility, sensitivity value, and added value of shrimp packaging using industrial gases. The use of industrial gases in shrimp packaging requires a financial feasibility analysis and added value to measure the potential benefits that can be obtained while minimizing business risks that may occur. Five criteria were used to calculate financial feasibility, two sensitivity indicators, and added values were calculated using the Hayami method. The results of the financial feasibility calculation show the NPV value of Rp 614,795,451, IRR 14.99%, Net B / C Ratio 1.4, Payback Period 0.74 years, BEP (rupiah) Rp 80,799,543, and BEP (units) 2,525 pieces. Sensitivity analysis with switching value indicates a maximum decrease in cash in by 27.41% and an increase in cash out of 38.59%. The results of the calculation of added value indicate that the activity of packing shrimp using industrial gases produces added value per kilogram is Rp. 11,207 with a ratio of 11.08% and Rp. 9,000 with a ratio of 12.00% using ice cubes. The results of the analysis of financial feasibility, sensitivity, and added value indicate that the shrimp packaging project uses industrial gases is financially feasible and provides added value.
Kata Kunci : udang, pengemasan, gas industri, kelayakan finansial, nilai tambah