Laporkan Masalah

Etnoekologi Pengelolaan Hutan Adat Wana Posangke

YURIDA DWI P, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc.

2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KEHUTANAN

Hutan adat merupakan model pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat adat yang mendiami kawasan adat tersebut. Manfaat hutan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup masyarakat dari segi ekonomi, kebudayaan dan sosial. Hutan adat Wana Posangke dihuni oleh masyarakat adat Taa Wana yang mengelola hutan dengan menggunakan kearifan lokal yang sudah ada turun temurun dari nenek moyang. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan hutan (2) Mengetahui dan menjelaskan tentang pengelolaan hutan adat Wana Posangke (3) Merancang strategi pengelolaan hutan adat Wana Posangke. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode etnografi yang terdiri dari 12 langkah yaitu, menentukan informan kunci, wawancara informan, membuat catatan etnografi, mengajukan pertanyaan deskriptif, melakukan analisis wawancara etnografis, membuat analisis domain,mengajukan pertanyaan struktural, membuat analisis taksonomik, mengajukan pertanyaan kontras, membuat analisa komponen, menetukan tema-tema budaya, dan menulis etnograf. Penelitian dilaksanakan di hutan adat Wana Posangke di 4 Lipu (pemukiman), yaitu Sumbol, Viyautiro, Salisarao, dan Patuja. Penentuan lokasi ditentukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat dalam mengelola hutan dengan membagi kawasan hutan menurut fungsinya masingmasing yaitu: Pangale bose (hutan primer), pangale kapali (hutan keramat), pangale pompalivu (hutan produksi), navu (kebun), yopo (bekas ladang), dan lipu (pemukiman). Hasil hutan yang diambil dan dijual adalah hasil hutan non kayu seperti bambu, rotan, dan getah damar. Kayu sama sekali tidak boleh diperjualbelikan hanya dipakai untuk kepentingan komunitas. Pengelolaan hutan meliputi penanaman, pemanenan, pemasaran, pengawasan dan perlindungan. Adanya perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Taa Wana maka perlu strategi pengelolaan untuk pemberdayaan masyarakat Taa Wana dengan menggunakan analisis SWOT. Pemberdayaan untuk masyarakat dapat dilakukan pengembangan perekonomian disentra agribisnis dengan memanfaatkan bekas lahan dan pemanfaatan potensi alam yang bisa menjadi ekowisata minat khusus.

Customary forest is a model of forest management carried out by indigenous people who inhabit on it. Forests contribute greatly to the survival of the community for the economic, cultural and social perspective. The Wana Posangke customary forest inhabited by the Taa Wana indigenous people who manage the forest using local wisdom that has been inherit by the ancestors. The purpose of this study are (1) to explain the local wisdom of the community in forest management (2) to know and explain the management of Wana Posangke customary forest (3) Design a strategy for managing Wana Posangke customary forest. This research was conducted by ethnographic methods consisting of 12 steps, namely, determining key informants, interviewing informants, making ethnographic notes, asking descriptive questions, conducting ethnographic interview analysis, making domain analysis, asking structural questions, making taxonomic analysis, asking contrasting questions, make component analysis, determining cultural themes, and writing ethnographs. The study was conducted in 4 Lipu (settlements / villages) in Wana Posangke customary forests, namely Sumbol, Viyautiro, Salisarao, and Patuja. Location determined by purposive sampling method. The results showed that the local wisdom of the community in managing the forest divided area according to their functions, namely: Pangale bose (primary forest), pangale kapali (sacred forest), pangale pompalivu (production forest), navu (garden), yopo (former fields) ), and lipu (settlement). Non-timber production on forest area harvest and sell such as bamboo, rattan and gum resin. Timber production must not be traded at all, and cut only for the community needed. Forest management on the site includes planting, harvesting, marketing, supervising and protecting which are managed based on customary rules. The change of social community of Taa Wana requires a management strategy to empower the Taa Wana community using a SWOT analysis. Development program on Wana Posangke customary forest can provide economic, ecological and socio-cultural benefits.

Kata Kunci : Kearifan lokal, Etnoekologi, Wana Posangke, Hutan adat;Local wisdom, Ethnoecology, Wana Posangke, Customary forest.

  1. S2-2019-403540-Abstract.pdf  
  2. S2-2019-403540-Bibliography.pdf  
  3. S2-2019-403540-Tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-403540-Title.pdf