Laporkan Masalah

Implementasi Budaya Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit TK III 04.06.03 DR Soetarto Kota Yogyakarta

INDAH RAHMAWATI, Dr. Supriyati, S.Sos, M.Kes

2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar Belakang: Kebutuhan masyarakat terhadap mutu jasa layanan kesehatan semakin tinggi. Rumah sakit sebagai organisasi badan usaha di bidang kesehatan mempunyai peranan penting dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat secara optimal. Gambaran belum maksimalnya implementasi keselamatan pasien disalah satu rumah sakit tipe C di Yogyakarta dimana belum adanya sarana cuci tangan dan belum adanya kebijakan pemasangan gelang pasien. Rumah sakit TK III 04.06.03 Dr Soetarto kota Yogyakarta sendiri masih terjadi kejadian insiden keselamatan pasien, diantaranya kesalahan identifikasi pasien, keterlambatan pemberian tindakan medis. Tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji implementasi budaya keselamatan pasien oleh perawat di Rumah Sakit TK III 04.06.03 Dr Soetarto Kota Yogyakarta. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, dan observasi. Jumlah informan sebanyak 6 orang antara lain penanggung jawab tim keselamatan pasien, dokter, dua orang perawat, champions dan kepala ruangan Hasil: Implementasi budaya keselamatan di Rumah sakit TK III 04.06.03 Dr Soetarto Kota Yogyakarta diketahui perlu ditingkatkan informan memaparkan bahwa masih terjadi ketidaktepatan identifikasi pasien. Selain itu tidak menggunakan handscoon, tidak langsung mencuci tangan setelah memberikan tindakan medis. Keterlambatan dalam penanganan pasien operasi dan keterlambatan penyerahan status pasien. Petugas kesehatan belum seluruhnya mendapatkan pelatihan secara khusus terkait keselamatan pasien, namun rumah sakit mempunyai program rutin untuk membahas terkait keselamatan pasien. Rumah sakit masih berupaya melengkapi kebutuhan sarana dan prasaran yang belum maksimal untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien. Pemimpin menetapkan kebijakan dan program rutin yang dijadikan kesempatan untuk menanamkan kesadaran dan pentingnya keterbukaan terkait keselamatan pasien. Berdasarkan persepsi petugas kesehatan terkait keselamatan pasien, belum maksimal. Informan mengetahui dan memahami pentingnya keselamatan pasien, akan tetapi dalam menerapkan masih ada rasa enggan dan tidak nyaman terutama dalam penggunaan APD Kesimpulan: Implementasi budaya keselamatan pasien masih perlu ditingkatkan di Rumah sakit TK III 04.06.03 Dr Soetarto Kota Yogyakarta. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi dan perbaikan sistem penjadwalan operasi. melengkapi sarana prasarana pendukung, sehingga petugas kesehatan dapat secara maksimal menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur dan merasa nyaman menggunakan APD. Sumber daya manusia diberikan pendidikan dan pelatihan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan

Background: Community needs for the quality of health services are increasingly high. Hospitals as organizations of business entities in the health sector have an important role in realizing optimal health status. Implementation of patient safety not yet optimal illustrated in one type c hospital in Yogyakarta where there were no hand washing facilities and no patient bracelet installation policy. TK III 04.06.03 Hospital Dr. Soetarto, the city of Yogyakarta itself, there are still incidents of patient safety incidents, including misidentification of patients, delay in giving medical treatment. Research Objective: to study the implementation of patient safety culture by nurses at TK III Hospital 04.06.03 Dr. Soetarto, Yogyakarta City Research Method: The research is qualitative with used case study design. Data collection is done by in-depth interviews and observations. The number of informants was 6 people, among others, in charge of the patient safety team, doctors, two nurses, champions and the head of the room. Results: Results: Implementation of safety culture in TK III 04.06.03 Hospital Dr. Soetarto Yogyakarta City is known to need to be improved by informants explaining that there is still an inaccurate identification of patients. Besides not using a handscoon, do not immediately wash hands after giving medical action. Delay in handling patient operations and late delivery of patient status. Health workers have not all received training specifically related to patient safety, but hospitals have a routine program to discuss patient safety. Hospitals are still trying to complete the needs of facilities and infrastructure that have not been maximized to prevent incidents of patient safety. Leaders establish routine policies and programs that are used as opportunities to instill awareness and importance of openness regarding patient safety. Based on the perception of health workers related to patient safety, it is not maximal. Informants know and understand the importance of patient safety, but in applying there is still a sense of reluctance and discomfort especially in the use of PPE Conclusion: The implementation of a patient safety culture still needs to be improved at TK III Hospital 04.06.03 Dr. Soetarto Yogyakarta City. This can be done by evaluating and improving the operating scheduling system. complete supporting infrastructure, so that health workers can optimally carry out their duties according to standard operating procedures and feel comfortable using PPE.

Kata Kunci : patient safety culture, patient safety incidents, human resources

  1. S2-2019-403268-abstract.pdf.pdf  
  2. S2-2019-403268-bibliography.pdf.pdf  
  3. S2-2019-403268-tableofcontent.pdf.pdf  
  4. S2-2019-403268-title.pdf.pdf