Laporkan Masalah

Model Bisnis Kewirausahaan Sosial di Kalangan Pemuda di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

TRIVENA BELLA ARGANI, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si.

2019 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Kewirausahaan sosial sebagai tren kewirausahaan baru telah banyak diminati anak-anak muda khususnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Perkembangan kewirausahaan sosial pemuda di DIY yang begitu pesat sangat didukung oleh potensi ekosistem DIY sendiri seperti munculnya banyak kegiatan workshop, seminar, dan kompetisi yang diselenggarakan oleh universitas-universitas, perusahaan dan institusi lainnya. Selain itu, permasalahan-permasalahan sosial dalam masyarakat yang ada di DIY contohnya kesenjangan yang tinggi juga turut mendukung terbentuknya kewirausahaan sosial. Maka dari itu, dengan munculnya fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk melihat bagaimana model bisnis atau tata operasional kewirausahaan sosial pemuda DIY yang sedang berkembang ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan model bisnis seperti apa yang diterapkan oleh kewirausahaan sosial pemuda DIY serta hambatan yang dilalui. Unit analisis dari penelitian ini adalah organisasi kewirausahaan sosial pemuda yang ada di DIY. Informan penelitian yaitu wirausaha sosial muda DIY dan penggiat kewirausahaan dan pemuda. Metode pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi, dokumentasi dan studi pustaka. Peneliti menggunakan 9+2 unsur dari konsep Model Bisnis Kanvas oleh Osterwalder dan Pigneur sebagai pisau analisis untuk menggali teknis operasional atau model bisnis organisasi kewirausahaaan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewirausahaan sosial pemuda DIY menerapkan model bisnis Hibrida (Hybrid Social Entreprise). Hal tersebut dipengaruhi oleh karakteristik kewirausahaan sosial DIY yang independen, membentuk usaha bisnis secara bersama-sama, jangkauan masih bersifat lokal, dan inisiasi pembentukan yang pada mulanya diawali dari gerakan sosial, bisnis murni maupun keduanya berbarengan. Dalam proses pengembangannya, kewirausahaan sosial pemuda DIY mengalami hambatan-hambatan yang berasal dari internal dan eksternal organisasi. Hambatan internal meliputi keterbatasan sumber dana, kurangnya komitmen dalam tim, dan kesulitan pendekatan pada penerima manfaat. Sedangkan, hambatan eksternal meliputi kesulitan mendapat investor, keterbatasan akses, dan stigma dan mindset negatif penerima manfaat terhadap wirausaha sosial muda DIY.

Social enterpreneurship as a new trend of entrepreneurship has attracted many youth in Special Region of Yogyakarta (DIY). Development of youth social entrepreneurship showing positive trends supported by DIY ecosystem itself such as many workshop activities, conference and competition that held by various actors including universities, company and other institutions. Besides, DIY also has several social problems that needed to be solved by social entrepreneurship such as gap between rich and poor. From those phenomenon, writer wanted to observe what model of business of youth social entrepreneurhsip in DIY that growing fast these days. The method used for these research was desciptive qualiative. The research goals was to describe the business model used by youth social entrepreneurship and challanges they faced in DIY. Analysis unit of research was youth social etrepeneruship organization in DIY. Research informants was young social enterpreur and activist of entrepreneur and youth. Collection of data done by doing depth interview, observation, documentation and literature study. Writer used Osterwalder and Pigneur 9+2 element of canvas business model concept to analyze the practice of social entrepreneurship organization activity. The result showed that youth social enterpreneurship in DIY appplied Hybrid Social Entreprise model. It affected by the characteristics of youth social entrepreneurship which is independent, cooperation, local scope and initiation of organization came from social movement, pure business, or both social movement and business. In their process of development, youth social entrepreneurship faced both external and internal challanges. Internal challanges includes funding, lack of commitment in team and difficulities to approach the beneficiaries. External challanges includes finding investor, lack of access also stigma and negative mindset of youth social entrepreneurship in DIY.

Kata Kunci : kewirausahaan sosial pemuda, model bisnis Hibrida

  1. S1-2019-364816-abstract.pdf  
  2. S1-2019-364816-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-364816-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-364816-title.pdf