Laporkan Masalah

Dinamika Pengelolaan Nilai Publicness di Pasar Papringan, Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

WULAN DAMAYANTI, Dr. Subando Agus Margono, M.Si.

2019 | Skripsi | S1 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Bambu dianggap sebagai simbol kemiskinan oleh masyarakat karena nilai kebermanfaatannya yang rendah. Kenyataan tersebut diperparah dengan dijadikannya kebun bambu sebagai tempat pembuangan sampah di Dusun Ngadiprono. Isu publicness tersebut justru direspon dan dikelola oleh Komunitas Spedagi Movement dan Komunitas Mata Air dengan menginisiasi gerakan revitalisasi desa dengan cara mengubah suatu masalah menjadi sebuah potensi, yaitu kebun bambu di Dusun Ngadiprono diubah menjadi ruang publik, Pasar Papringan. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui dan menganlisis dinamika pengelolaan nilai publicness di Pasar Papringan ketika dilakukan oleh organisasi non-pemerintah. Publicness didefinisikan sebagai pengelolaan barang publik yang berhasil menyeimbangkan antara kepentingan profit dan sosial serta hak kewargaan (citizenship) tanpa merusak alam. Sedangkan nilai kepublikan yang dikelola di Pasar Papringan adalah pemecahan masalah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Konsep jaringan digunakan untuk menganalisis jaringan sebagai basis pengelolan publicness sehingga melembagakan nilai kepublikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa pengelolaan nilai publicness berhasil dilakukan oleh organisasi non-pemerintah selama organisasi tersebut mampu mengakomodasikan kepentingan publik. Rekomendasi yang diberikan dalam penelitian ini adalah perlunya mengadakan kegiatan-kegiatan baru yang kreatif sehingga menarik pengunjung pasar untuk mempertahankan sustainability Pasar Papringan.

Bamboo is considered a symbol of poverty by the community because of its low usefulness. This fact become more complicated by the making of bamboo gardens as garbage dumps. The Spedagi Movement Community and Mata Air Community initiated a village revitalization movement by transforming a problem into a potential, namely the bamboo garden in Dusun Ngadiprono converted into a public space, Pasar Papringan. The purpose of this research is to know and analyze the dynamics of managing the value of publicness at the Pasar Papringan when carried out by non-governmental organizations. Publicness is determined as a management item that successfully balances profit and social interests and citizenship without destroying nature. While the public value managed at the Papringan is solving environmental problems and empowering the community. The network concept is used to analyze the network as a basis for managing publicness so that it institutionalizes public value. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques used are: interviews, observation and documentation. The results of this study indicate that the management of the value of publicness is successfully carried out by non-governmental organizations as long as the organization is able to accommodate the public interest. The recommendation given in this research is the need to hold new creative activities that attract market visitors to maintain the sustainability of the Papringan Market.

Kata Kunci : publicness, Pasar Papringan, kepentingan publik

  1. S1-2019-384123-abstract.pdf  
  2. S1-2019-384123-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-384123-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-384123-title.pdf