Laporkan Masalah

CULTURAL CAPITAL DALAM PENGEMBANGAN KOPERASI SYARIAH 212: STUDI KASUS 212 MART YASMIN, BOGOR

GHILMAN FAZA I, Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si.

2019 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Tidak hanya berakhir di jalan, semangat gerakan aksi 212 dilanjutkan dengan dirintisnya Koperasi Syariah 212. Koperasi yang menjunjung tinggi hukum Islam ini dibentuk untuk tujuan membangun ekonomi umat (anggota) yang besar, kuat, profesional, dan terpercaya. Koperasi ini berperan sebagai salah satu penopang pilar ibadah, Syariah, dan dakwah menuju kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat . Dalam membangun dan mengembangkan suatu unit usaha, tentu modal ekonomi bukanlah menjadi satu-satunya faktor penting, namun juga penggunaan modal kultural. Modal kultural yang berbentuk agama ini dapat kita lihat sejak awal peristiwa pembentukan Koperasi Syariah 212 serta aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat bagaimana Koperasi Syariah 212 dalam memanfaatkan dan menggunakan modal kultural yang mereka miliki dalam membangun serta mengembangkan koperasinya. Sehingga, pembahasan mengenai modal kultural tidak hanya berhenti sampai fungsinya dalam institusi pendidikan formal maupun informal. Pembahasan mengenai modal kultural memang lumrah digunakan untuk melihat bagaimana reproduksi struktur berlangsung di dalam institusi pendidikan, seperti yang dikatakan oleh Bourdieu (1986).. Namun, Bourdieu juga mengatakan bahwa modal kultural juga dapat dikonversikan menjadi modal ekonomi (uang) bila modal tersebut diobjektivikasikan menjadi sebuah komoditas yang memiliki bentuk konkret. Maka, menjadi menarik untuk melihat bagaimana Koperasi Syariah 212 dapat mengubah modal kultural yang dimiliki oleh para pengurusnya (berupa agama) menjadi modal ekonomi untuk mengembangkan koperasinya tersebut. Demi dapat melihat serta memahami pemanfaatan modal kultural tersebut, maka metode penelitian observasi partisipasi, wawancara, serta penelitian pustaka menjadi penting. Data yang terkumpul tidak hanya akan menunjukkan pemanfaatan modal kultural dalam operasional Koperasi Syariah 212 saja, namun juga dampaknya bagi anggota serta konsumen koperasi pula.

The spirit of Aksi Damai 212 was carried on, which led to the establishment of Koperasi Syariah 212. this cooperation was held the Syariah law highly, and was made to improve the economic level of umat (their members) by strong, professional, and trustful way of organizing. On building and improving business unit, economic capital is not the only important aspect needed, but also cultural capital. These cultural capital, in form of religion, can be seen right from the beginning of how Koperasi Syariah 212 was established, and also from the actors involved in the organization. This research was conducted to see how Koperasi Syariah 212 uses their cultural capital in developing their business. The study of cultural capital up until now is usually stays on the discussion about structure reproduction in educational institution. But, Bourdieu (1986) also said that cultural capital can be converted into economic capital as long as it were on it's objectified form. It will be interesting to see how Koperasi Syariah 212 converts those cultural capital into economic capital to improve their business. To see and understand the uses of their cultural capital, the research methods used were participation observation, interview, and also literature review will be much needed. Data collected will not only shows the uses of cultural capital, but also it's effects toward members and buyers.

Kata Kunci : Koperasi Syariah 212, modal kultural, koperasi, agama

  1. S1-2019-350147-abstract.pdf  
  2. S1-2019-350147-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-350147-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-350147-title.pdf