Indigenous Religion Revivalism and Tourism Development in Indonesia and Malaysia (A Study on Kasepuhan Ciptagelar, West Java and Bundu Tuhan Dusun's Community in Sabah)
NUR WIDIYANTO, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Dr. Abdul Wahid
2019 | Disertasi | DOKTOR INTER-RELIGIOUS STUDIESDisertasi ini adalah bagian dari kajian ethno-historis tentang dinamika dalam pengembangan pariwisata di kawasan Asia Tenggara serta pertemuannya dengan praktek budaya yang berakar dari dua agama lokal; Sunda Wiwitan dan Momolianism. Tujuan utama dari studi ini adalah menjawab pertanyaan utama; mengapa Kasepuhan Ciptagelar, Jawa Barat, Indonesia dan kelompok masyarakat Dusun di Bundu Tuhan, Sabah, Malaysia memilih pariwisata sebagai strategi untuk menguatkan identitas budaya mereka yang berakar dari kedua agama local di atas ? Problem penelitian ini kemudian diterjemahkan ke dalam tiga pertanyaan penelitian; (a) Mengapa Kasepuhan Ciptagelar dan masyarakat Dusun di Bundu Tuhan membangun resistensi terhadap hadirnya berbagai kekuatan dari luar sepanjang sejarah mereka ? (b) Bagaimana kedua kelompok masyarakat adat ini menggunakan agama local mereka untuk membangun resistensi terhadap berbagai kekuatan dari luar dan (c) bagaimana keterlibatan secara intensif dengan kegiatan pariwisata perlahan membentuk identitas serta budaya baru pada kedua kelompok tersebut ? Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi untuk memahami dinamika di kedua wilayah penelitian di atas. Lebih lanjut, studi ini menerapkan extended case method yang merupakan pengembangan dari etnografi. Ide dasar dari metode ini sejalan dengan etnografi, yaitu untuk menemukan dan menafsirkan berbagai symbol dalam fenomena social dengan pendekatan interpretative dalam rangka menghasilkan deskripsi mendalam terhadap suatu fenomena social. Lebih lanjut, extended case method memberi peluang untuk memperluas skala penelitian dari mikro yang bertumpu di satu tempat menjadi makro diperluas dengan studi ditempat berbeda untuk membangun data serta analisis yang lebih bersifat makro, dalam hal ini dari Jawa Barat ke Sabah di Malaysia. Dengan demikian, temuan dari dari kedua tempat tersebut digunakan untuk mendalami motif, proses serta hasil dari keterlibatan masyarakat adat dalam kegiatan pariwisata pada skala yang lebih luas: Asia Tenggara. Menjawab pertanyaan penelitian yang pertama, resistensi dari Kasepuhan Ciptagelar dan komunitas Dusun di Bundu Tuhan terkait erat dengan hadirnya kebijakan Negara yang cenderung diskriminatif terhadap masyarakat adat, baik dalam isu kebebasan beragama maupun hak atas tanah adat. Memiliki dan mempraktekkan agama lokal yang dianggap tidak resmi menjadikan kedua kelompok tersebut menjadi target permanen untuk dikonversi ke dalam agama resmi sepanjang sejarah. Demikian juga terkait isu tanah adat, dimana secara sepihak kawasan hutan dan gunung yang menjadi sumber bagi identitas budaya Kasepuhan Ciptagelar dan komunitas Dusun ditetapkan menjadi taman nasional demi kepentingan rezim konservasi modern dan pengembangan pariwisata. Pada sisi lain, kedua kelompok ini juga tidak pasif dan diam, namun terus membangun resistensi untuk merespon kedua situasi tersebut. Terkait dengan bagaimana agama lokal berperan dalam upaya membangun resistensi tersebut, teori utama dalam penelitian ini; dramaturgi, digunakan untuk menganalisis pertanyaan tersebut. Di Jawa Barat, Kasepuhan Ciptagelar menggunakan panggung depan untuk secara administrative menerima Islam sebagai agama, namun dipanggung belakang mereka memilih untuk menjaga dan mempraktekkan agama lokal. Panggung depan ini juga dimaksimalkan dengan menggunakan wisata budaya sebagai strategi utama, dimana Kasepuhan Ciptagelar memilih heteropic tourism yang bersandar pada otentisitas budaya sebagai alat untuk masuk dalam lingkungan pariwisata serta mengekspresikan identitas kebudayaan mereka secara bersamaan. Sementara di Bundu Tuhan, panggung depan dan belakang tidak digunakan untuk merespon agama resmi yang dominan yaitu Katolik. Lebih jauh lagi, justru Katolik dan Momolianism sama-sama digunakan symbol resistensi terhadap dominasi Islam di Malaysia yang dikontrol dari Kualulumpur. Panggung depan-belakang ini justru diterapkan dalam merespon kehadiran pariwisata di Taman Kinabalu yang memunculkan dilemma terkait dengan ketergantungan ekonomi pada wisata alam serta kebutuhan akan akses lebih besar terhadap Gunung Kinabalu yang dianggap sacral bagi penduduk setempat. Terkait dengan pertanyaan penelitian ketiga yaitu bagaimana keterlibatan dalam kegiatan pariwisata membentuk identitas budaya baru di kedua komunitas, pendekatan yang digunakan adalah melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang bersifat akumulatif dan dipengaruhi oleh berbagai factor internal maupun eksternal. Bukti dari adanya transformasi yang membentuk budaya baru ini ditunjukkan dengan munculnya budaya wisata di Ciptagelar dan kebangkitan setengah hati serta rasional dari Momolianism di Sabah. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat adat dalam pariwisata sebagai salah satu instrument globalisasi akan mendorong proses penguatan keaslian budaya dari masyarakat tersebut, namun secara rasional hal ini tidak sekedar bertujuan untuk menguatkan identitas kebudayaan semata. Motif lain adalah dengan menggunakan keaslian sebagai salah satu modal untuk meningkatkan akses terhadap sumberdaya ekonomi melalui kegiatan pariwisata, meskipun sebenarnya benefit ekonomi yang dapat hanya terbatas untuk beberapa kalangan serta tidak sebanding dengan aktor lain yang terlibat dalam bisnis wisata ini. Hal ini membuktikan bahwa upaya merevitalisasi agama local memiliki dua fungsi sekaligus; sakral dan profan
ABSTRACT The dissertation is a part of an ethno-historical study focuses on the encounter between tourism development in Southeast Asia and cultural practices rooted in two indigenous religions; Sunda Wiwitan and Momolianism. The research aimed at addressing a central question; why do Kasepuhan Ciptagelar in West Java, Indonesia and Dusun community in Bundu Tuhan, Sabah, Malaysia take tourism as the opportunity to strengthen their cultural identities rooted in the indigenous religions in both areas? This question is narrowed down into three research questions to examine the engagement between the movement to re-gain cultural identity and the arrival of tourism in the contemporary Southeast Asia, which are; (1) Why do Kasepuhan Ciptagelar and Bundu Tuhan Dusun community resist various external forces in the course of their history?, (2) How do these two indigenous groups revive local belief as a part of their identity to establish resistances toward external forces treating their existence? And (3) How does the engagement with tourism shape the newly constructed cultural identities in two areas? Methodologically, the research is a part of qualitative approach using ethnographic method to understand the perspective of Kasepuhan Ciptagelar and Dusun community in Bundu Tuhan. Moreover, this study applies the further development of ethnographic research by employing the extended case method. The basic idea of extended case method is in line with the ethnographic aim of finding and interpreting various symbols within a social phenomenon that demand the requirement of interpretive approach to produce thick descriptions. Therefore, through using extended case method, the study is expanded from merely micro or focusing on a particular area, to the macro level by taking two different research areas. It means, findings from the study toward a particular community will be brought and compared to the other area in order to identify several general patterns to build a wider understanding about the issue. Thus, various findings from West Java and Sabah are useful to analyze the discourse of the arrival of tourism development and the indigenous religion revivalism in the wider Southeast Asia context. According to the first research questions, why Kasepuhan Ciptagelar and Dusun community resist various external forces in the course of their history, it strongly relates to the enactment of several state policies discriminating the indigenous community practicing indigenous religion; Sunda Wiwitan and Momolianism and the traditional access toward the ancestral land in both countries. Having non-official religion, or practicing indigenous religion which is different from the majority group have made Kasepuhan Ciptagelar and Dusun group in Bundu Tuhan as the permanent target to be purified along their history. On the contrary, these groups are not merely passive and powerless, thus they produce their own resistances to response the coming of external powers. Second question is how these groups revive local belief to establish resistances toward external forces treating their existence. Dramaturgy is the primary strategy employed by the groups through administratively accepting the official religion, Islam and Christianity on the front stage, but remains believing and practicing indigenous belief in the back. Tourism then comes as the new political opportunity for Kasepuhan Ciptagelar to express their different cultural identity and strengthen the access toward the ancestral land through performing their cultural tourism. In Bundu Tuhan, tourism coming together with the modern environmental conservation regime in the form of national park has arrived as in two faces; denying the cultural access toward Mount Kinabalu as the central of the local belief, but providing various economic opportunities. Responding this, the people employ a heal-hearted revivalism by compromising the need to strengthen the access toward the sacred mountain, while accepting tourism development in Kinabalu Park. The last research question addresses how the engagement with tourism shapes the newly constructed cultural identities in two areas. According to the idea that religion is the cumulative tradition, the engagement with tourism has also produced several changes in both communities; including the emerge of touristic culture in West Java and the fact that Dusun community in Sabah start leaving traditional farming activity as one of central cultural pattern while strengthening their access toward Mount Kinabalu. The study offers a theory describing the contemporary engagement between indigenous community practicing indigenous religion and tourism development as one instrument of globalization. The existence of cultural authenticity as one of the biggest prizes for tourist has brought the tendency of rationally using the authentic indigenous belief to obtain several non-religious purposes, including the steady economic income through tourism initiative. It means that the revivalism of indigenous religion has functioned at two sphere at once; sacred and profane.
Kata Kunci : indigenous, religion, tourism, Sunda Wiwitan, Momolianism