HASRAT BERMAIN DALAM FESTIVAL MUSIK METAL DI JAKARTA
SUJUD PUJI NUR R, Dr. GR. Lono Simatupang,M.A;Dr.Harsawibawa,M.Hum
2019 | Disertasi | DOKTOR PENGKAJIAN SENI PERTUNJUKAN DAN SENI RUPAMetal merupakan salah satu genre musik yang hidup dan berkembang di Indonesia. Salah satu kota yang memiliki cukup banyak komunitas metalhead dan memiliki frekuensi pergelaran musik metal yang cukup tinggi adalah Jakarta. Berdasarkan data yang diperoleh, frekuensi penyelenggaraan musik metal setidaknya sejak tahun 1995 rata-rata adalah 1 festival setiap dua minggu. Akan tetapi, festival-festival ini diselenggarakan tanpa keuntungan finansial, setidaknya dalam jumlah yang memadai. Untuk memahami fenomena ini, peneliti mengumpulkan data dengan terjun langsung ke dalam komunitas musik metal, melakukan wawancara dan observasi, dipadu dengan pengalaman peneliti sebagai pelaku musik metal. Penulis menemukan bahwa festival-festival musik metal digelar sebagai salah satu wahana mengelola identitas kolektif metalhead, sehingga keuntungan finansial bukanlah menjadi orientasi utama. Penyelenggaraan festival-festival ini bisa dipahami menggunakan konsep bermain yang dikemukakan oleh Johan Huizinga, sebab para metalhead tidak memperoleh profit apa-apa selain mempertahankan identitas kolektif. Para metalhead masuk ke dalam suatu lingkaran dengan karakteristik subkultur temporer, kebiasaan, dan peraturannya sendiri, di luar dunia kehidupan mereka normal atau biasanya. Di satu sisi, penyelenggaraan festival merupakan ajang untuk memelihara identitas kolektif. Sebaliknya, identitas kolektif lah yang antara lain mendorong para metalhead untuk tetap berada dalam lingkaran musik metal yang salah satunya menuntut mereka untuk menggelar festival musik metal sekalipun tanpa keuntungan finansial. Ini merupakan ajang bermain para metalhead, karena jika tidak demikian maka akan sulit, atau bahkan mustahil menyelenggarakan festival tanpa keuntungan apapun, terutama keuntungan finasial.
Metal is one of the musical genres that exist in Indonesia. Jakarta is a city that has quite a lot of metalhead communities and has a high frequency of metal music performance. Based on the data, the frequency of metal music performance since 1995 on average is 1 performance every two weeks. These festivals, however, are not gained money for its organizer, at least in sufficient quantities. To understand this phenomenon, the author collect data by going into the metal music community, conducting interviews and observation, and combined it with author experiences as a metalhead. The author found that metal music festivals were held as one of the means of managing collective identity of metalhead, and money or financial profit was not their major orientation. Organizing these festivals can be examined using the Huizinga concept of play, due to the metalheads are not gain any profit anything but retaining their collective identity. Metalheads to enter the circle of metal music scene in which have its own characteristics of temporary subcultures, customs, and rules beyond their normal life or ordinary life. On the one hand, organizing of these festivals is the arena for struggling of collective identity of metalhead. Instead, it is the collective identity that among other things encourages metalheads to remain in the circle of metal music scenes, one of which requires them to organizing metal music festivals even without financial gain. This is a metal playground, because it is difficult or even impossible to perform a festival without any benefit, especially financial
Kata Kunci : metalhead, festival, identitas kolektif, bermain