UT PA TUR, ALDRI SUR (BERJALAN-JALAN DI ALAM, SELALU MENYENANGKAN) MEMBENTUK AKTIVITAS FISIK MELALUI KELUARGA NORWEGIA
M WILDAN KHUNAEFI, Dr. Pujo Semedi HargoYuwono, M.A
2019 | Tesis | MAGISTER ANTROPOLOGIStudi pengasuhan di keluarga Norwegia beberapa dekade belakangan ini sering berfokus pada manifestasi pengasuhan dari orangtua kepada anak . Padahal pengasuhan itu sendiri, memberikan gambaran nilai yang ingin dibentuk orangtua kepada anak (Levinson, 2011: 58). Stefansen dan Helene (2011) yang mengatakan bahwa, orangtua Norwegia mencoba untuk membentuk anak mereka yang sehat melalui pembiasaan aktivitas fisik pada anak. Oleh karena itu pertanyaan saya pada studi ini adalah, (1) mengapa aktivitas fisik menjadi sesuatu yang penting di kehidupan orang Norwegia?; (2) bagaimana cara orangtua Norwegia menamkan aktivitas fisik sebagai sesuatu yang normal pada anak mereka?��. Mengetahui nilai yang dibentuk orangtua kepada anak dengan melihat posisi pemerintah adalah penting dilihat, untuk memahami hubungan antara kebijakan pemerintah dan pengasuhan keluarga. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan untuk memahami masalah ini adalah konsep kepengaturan dari Michael Foucault, yang menjelaskan bahwa pemerintah mengatur tubuh sosial dan tubuh personal melalui institusi yang selalu mereproduksi hukum, aturan, dan wacana (Foucault,1977-1978 dalam Tadros,1998:95 dan G.Bruchell, 2004). Studi etnografi delapan bulan di Norwegia telah menemukan bahwa, kehilangan sumberdaya manusia karena CHD dan GDP kesehatan yang membengkak sejak tahun 1930an. Membuat Pemerintah Norwegia harus membuat masyarakat melakukan aktivitas fisik dengan rutin, sebagai langkah strategis untuk mendapatkan kembali sumber daya manusia yang sehat dan GDP kesehatan yang minim. Hal ini diciptakan melalui perpanjangan tangan berbagai instansi yang mewacanakan dan menjadikan aktivitas fisik sebagai sebuah kewajiban. Hingga pada tingkat keluarga, orangtua memandang bahwa aktivitas fisik bagi anaknya akan memberikan dampak yang baik bagi masa depan mereka. Menggunakan prinsip 'berjalan-jalan di alam, selalu menyenangkan' diberbagai uapaya orangtua, akhirnya anak Norwegia telah terbiasa untuk melakukan aktivtias fisik sebagai sebuah kebutuhan. Di sisi lain, pada masa kecil-remaja, aktivitas fisik lebih dimaknai sebagai sebuah permainan. Sedangkan pada masa remaja-dewasa, pertemuan antara konsep gender tradisional dan kesetaraan gender di media masa, serta lingkungan Norwegia yang menjunjung kesetaraan gender, membuat aktivitas fisik dimaknai sebagai representasi simbol maskulin yang bergengsi untuk didapatkan oleh laki-laki maupun perempuan.
Parenting studies in Norwegian families in recent decades have often focused on parenting manifestations from parents to children . Even though parenting itself, provides a picture of the value that parents want to set up for children (Levinson, 2011: 58). Stefansen and Helene (2011) who say that Norwegian parents try to shape their healthy children through habituating physical activity to children. Therefore my question in this study is, (1) why physical activity is something important in the lives of Norwegians ?; (2) how do Norwegian parents find physical activity as something normal for their child? ' Knowing the value that parents make to children by looking at government positions is important to see, to understand the relationship between government policy and family care. Therefore, the approach used to understand this problem is the government of Michael Foucault, who explained that the government regulates the social body and personal body through institutions that always reproduce law, rules, and discourse (Foucault, 1977-1978 in Tadros, 1998: 95 and G. Bruchell, 2004). An eight-month ethnographic study in Norway has found that human resource loss due to CHD and GDP health has swelled since the 1930s. Making the Norwegian Government have to make people conduct physical activities regularly, as a strategic step to regain healthy human resources and minimal GDP health. This was created through an extension of the various agencies that discussed and made physical activity an obligation. Until at the family level, parents perceive that physical activity for their children will have a good impact on their future. Using the principle 'walking in nature, always fun' in various parents, finally Norwegian children are accustomed to doing physical activities as a necessity. On the other hand, in children, physical activity was interpreted as a game. While in the adolescence-adult community, the meeting between traditional gender concepts and gender equality in the mass media, as well as the Norwegian environment that upholds gender equality, makes physical activity interpreted as a representation of prestigious masculine symbols for men and women to find.
Kata Kunci : Aktivitas Fisik, Orangtua Norwegia, Kebijakan Pemerintah Norwegia