Laporkan Masalah

RELASI MEDIA MASSA DENGAN AKTOR-AKTOR KUNCI DALAM PEMBERITAAN ISU NUKLIR PASCA FUKUSHIMA 2011

FARRAS KHALIDA M, Dra. Siti Daulah Khoiriati, M.A.; Drs. Usmar Salam, M.I.S.; Dr.Riza Noer Arfani, M.A.

2019 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Media massa merupakan pilar keempat demokrasi yang memegang peran penting dalam menjaga check and balances sebuah negara. Jepang sebagai salah satu negara di Asia yang menganut demokrasi menjamin kebebasan pers melalui konstitusinya. Akan tetapi, pada kenyataannya, peranan pers yang independen sering kali tidak tercermin secara penuh. Misalnya dalam pembentukan pemberitaan isu nuklir pasca insiden Fukushima Daiichi 2011. Pada kasus ini, media massa arus utama terkesan selektif dalam memberitakan berita-berita seputar nuklir, dengan pemberitaan yang secara umum sejalan dengan narasi kelompok pro nuklir. Sedangkan media-media alternatif mengalami diskriminasi dalam peliputan dan pemberitaan isu ini. Kecenderungan pembentukan pemberitaan ini dipengaruhi oleh keberadaan aktor-aktor yang gencar mempromosikan nuklir, yang dikenal dengan Japan Nuclear Village. Apabila suatu media massa mendukung posisi terhadap energi nuklir, maka banyak keuntungan dan kemudahan yang akan didapatkan. Namun, bila berseberangan dengan kelompok aktor tersebut, maka akses pada sumber berita akan dibatasi dan mendapatkan berbagai bentuk diskriminasi. Tulisan ini berusaha menjelaskan bagaimana pemberitaan media dalam isu nuklir pasca Fukushima Daiichi 2011 terbentuk dalam kaitannya dengan relasi antara media dengan aktor-aktor kunci di dalam nuclear village sebagai faktor utama. Relasi ini sendiri memiliki basis simbiosis mutualisme sebagai landasan untuk mempromosikan narasi pro nuklir kepada masyarakat di Jepang.

Being acknowledged as the fourth pillar of democracy, the mass media plays a major role in maintaining a country's check and balances. As one of the democratic state in Asia, Japan ensures the freedom of press through its Constitution. However, the role of independent press in Japan oftentime is not fully implemented on the reality. This can be seen on the nuclear issue post Fukushima Daiichi 2011 incident news coverage. The mainstream media has been selectively reporting the news, with coverage mainly in line with the pro-nuclear discourse. On the other hand, the sidestream media has been discriminated while reporting and covering this issue. The existence of a group of actors who promotes nuclear energy, the Japan's Nuclear Village, influences the tendency of news coverage formation. If a media supports the stance of pro-nuclear energy, they will get many benefits and conveniences. On the contrary, the access to the news sources will be systematically limited and these media will face many form of discrimination. Thus, this paper attempts to explain how media coverage on nuclear issue post Fukushima Daiichi 2011 were formed, focusing on the relations between mass media and pro-nuclear actors in the nuclear village as the key factor. These relations are based on mutually beneficial inter-actor relation acted as the cornerstone to promote pro nuclear discourse on Japanese society.

Kata Kunci : media massa, Jepang, energi nuklir, Fukushima 2011, nuclear village.

  1. S1-2019-367544-abstract.pdf  
  2. S1-2019-367544-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-367544-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-367544-title.pdf