Laporkan Masalah

Analisis Value Chain Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta

AYU WANDANA HASTYANING HUTOMO , Dr. Abdur Rofi, M.Si.

2019 | Skripsi | S1 GEOGRAFI LINGKUNGAN

Ubi kayu Gunungkidul menyumbang produksi sebesar lebih dari 80% dari total produksi DIY. Produksi yang besar ini dapa tmenjadi potensi bagi ubi kayu untuk menjadi komoditas yang kompetitif dan membantu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Gunungkidul. Namun harga yang rendah bagi ubi kayu dan pengolahan yang belum optimal merupakan beberapa kendala bagi penguatan dan pengembangan ubi kayu di Gunungkidul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui value chain, nilai tambah, serta memberikan usulan strategi bagi penguatan dan pengembangan ubi kayu di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan pengambilan data dengan wawancara menggunakan teknik snowball. Terdapat 31 informan yang terdiri dari 17 petani, 8 pedagang pengepul, dan 6 dari instansi terkait. Perhitungan nilai tambah dilakukan dengan metode Hayami, serta SWOT untuk menentukan usulan strategi penguatan dan pengembangan ubi kayu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat aktor utama dan aktor pendukung dari value chain ubi kayu di Gunungkidul yaitu, petani, pedagang pengepuldesa, pedagang pengepul kecamatan, dan konsumen sebagai aktor utama. Dinas Pertanian dan Pangan sebagai aktor pendukung. Nilai tambah di setiap tingkatan sebesar 100% di tingkat petani, 26% di tingkat pedagang pengepul desa, dan 32% di tingkat pedagang pengepul kecamatan hingga akhirnya sampai di tangan konsumen. Usulan strategi bagi penguatan dan pengembangan value chain ubi kayu berdasarkan analisis SWOT ini diantaranya adalah 1) branding ubi kayu sebagai makanan khas Gunungkidul, 2) meningkatkan peran pemerintah, 3) melakukan pengolahan pasca panen, 4) meningkatkan kerjasama antar lembaga dan atau instansi.

Gunungkidul District contributes 80% of cassava production in DIY. This large production can be potential for cassava to become a competitive commodity and help the economic growth of Gunungkidul Regency. However,the low prices for cassava andthe processing that is not optimal become some of the obstacles for the strengthening and developing cassava in Gunungkidul. This study aims to find out the value chain, added value, and propose strategies for strengthening and developing cassava in Gunungkidul Regency. This research was conducted using descriptive analysis methods and data collection by interviewing using snowball techniques. There were 31 informants consisting of 17 farmers, 8 traders, and 6 from related institutions. Value added calculations were carried out by Hayami's method, and SWOT to determine the proposed strategy for strengthening and developing cassava. The results showed that there were main actors and supporting actors from the cassava value chain in Gunungkidul, namely farmers, village collectors, sub-district collectors, and consumers as the main actors. Agriculture and Food Service served as supporting actors. The added value at each level is 100% at the farm level, 26% at the level of village collectors, and 32% at the level of traders in sub-district collectors to finally reach the consumers. The proposed strategies for strengthening and developing the cassava value chain based on this SWOT analysis include 1) cassava branding as a typical food of Gunungkidul, 2) increasing the role of the government, 3) carrying out post-harvest processing, 4) increasing collaboration between institutions and or agencies.

Kata Kunci : ubikayu, value chain, Gunungkidul

  1. S1-2019-365326-abstract.pdf  
  2. S1-2019-365326-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-365326-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-365326-title.pdf