Penguatan Pengelola Desa Wisata Guna Mendukung Perkembangan Destinasi Digital Desa Wisata Kaki Langit, Mangunan, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
IKA NUR HALIMAH, Dra. Susi Daryanti, M.Sc.
2019 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANPerkembangan teknologi memberikan pengaruh dalam beberapa aspek kehidupan, salah satunya dalam bidang pariwisata. Kementerian Pariwisata Indonesia mengembangkan industri pariwisata Indonesia dengan membentuk program destinasi digital yang memanfaatkan kemajuan teknologi. Kementerian Pariwisata menunjuk komunitas Generasi Pesona Indonesia (Genpi) untuk membentuk destinasi digital di beberapa daerah berupa Pasar. Salah satu destinasi digital yang dibentuk oleh Genpi di DIY pada tahun 2017 adalah Pasar Semi Kaki Langit. Pembentukan destinasi digital bekerjasama dengan pengelola Desa Wisata Kaki Langit sebagai subyek pelaksana. Demi mendukung perkembangan destinasi digital, maka dibutuhkan penguatan lembaga pelaksana program yaitu pengelola Desa Wisata Kaki Langit. Peneliti menggunakan konsep AGIL dalam teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons dalam menganalisis strategi penguatan pengelola Desa Wisata Kaki Langit guna mendukung perkembangan destinasi digital. Terdapat empat konsep fungsi yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan latensi. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan mengambil lokasi di Mangunan, Desa Mangunan, Dlingo, Bantul. Unit analisis yang digunakan adalah pelaku destinasi digital yaitu pengelola dan pedagang Pasar Semi Kaki Langit. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara penentuan informan bertujuan kemudian dilanjutkan dengan teknik snowball. Hasil penelitian didapatkan bahwa strategi penguatan yang dilakukan oleh pengelola ialah dengan melakukan inovasi kuliner untuk menarik minat generasi milenial, melakukan kerjasama dengan Genpi terkait promosi dan pengelolaan media sosial, mengorganisir sumber daya yang dimiliki, mengatasi dan mengelola permasalahan yang ditemui serta menjaga konsistensi konsep dan pola yang sudah ada. Namun dari pola yang sudah terbentuk, masih ditemukan beberapa permasalahan dalam pengembangan destinasi digital yakni adanya ketergantungan pengelola dengan Genpi terkait pengelolaan media sosial dan promosi karena kesenjangan kemampuan penggunaan teknologi mengingat anggota Genpi berasal dari luar Mangunan serta kurangnya keterlibatan generasi milenial dari pihak pengelola untuk mengembangkan destinasi digital.
The development of technology nowadays has given impact to several aspects of life, one of them is in tourism aspect. The Ministry of Tourism is developing the industry of tourism in Indonesia by forming a digital destination program using the improvement of the technology. The Ministry of Tourism appointed Generasi Pesona Indonesia (Genpi) community to create digital destination tourism in several region in the form of Market. One of the digital destination tourism formed by Genpi in Yogyakarta in 2017 is Pasar Semi Kaki Langit. In the formation of digital destination tourism they cooperates together with the organizer of Wisata Kaki Langit as the implementer subject. In order to support the development of digital destination, it is necessary to strengthen the program implementer institution by having organizer for Desa Wisata Kaki Langit. The researcher uses the concept of AGIL in Talcott Parsons theory of structural fungsionalism to analize the strategy for strengthening the organizer of Desa Wisata Kaki Langit. There are four function concepts; adaptation, goal attainment, integration, and latency. Researcher uses the descriptive qualitative method and takes the location in Mangunan, Dlingo, Bantul. The analysis unit used is the doer of digital destination tourism which are the organizers and the vendors of Pasar Semi Kaki Langit. The technic used to determine the informant is purposive technic which is later continued using snowball technic. The research obtains result that strategies for strenghtening the institution are accomplishing culinary innovations to attract the interest of millenials generation, making cooperation with Genpi to promote and organize the social media, organizing the resources, handling and organizing the problems, also keeping the consistency of the consept dan the pattern of this institution. However, there are still found several problems such as reliance because of the lack of the abillity using the technology considering the members of Genpi come from outside Mangunan and less involvement of the millenials generation to organizing the digital destination in Desa Wisata Kaki Langit.
Kata Kunci : Penguatan pengelola wisata, destinasi digital, Generasi Pesona Indonesia