ANALISIS PENETAPAN HARGA DAN DISTRIBUSI PORANG (Amorphopallus oncophillus) DI KABUPATEN MADIUN
SASMITO RIANI, Wahyu Andayani
2009 | Skripsi | S1 KEHUTANANPemasaran Porang di wilayah Madiun saat ini diduga belum efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi Porang, harga jual dasar komoditi Porang, dan tingkat efisiensi tataniaga Porang pada masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dengan menggunakan tiga parameter, yaitu: 1) Margin Pemasaran, 2) Margin Keuntungan, dan 3) Efisiensi Operasional dengan pendekatan Mark up on selling. Responden dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) Petani produsen Porang, 2) Pedagang kecil, dan 3) Pedagang besar. Dari hasil penelitian diperoleh dua pola distribusi Porang, yaitu pola I yang melibatkan petani - pedagang kecil - pedagang besar - konsumen akhir (industri), dan Pola II yang melibatkan petani - pedagang besar - industri. Harga jual dasar komoditi Porang dibedakan menjadi bentuk gelondong dan kering. Harga jual dasar rata-rata Porang gelondong Rp. 411,61/kg, sedangkan Porang kering Rp. 2634,10/kg. Tingkat efisiensi tataniaga Porang diperoleh hasil berdasarkan tiga parameter, yaitu: 1) Margin Pemasaran Porang gelondong pada pola I (5,88%- 12,22%-92,86%-100%) dan pada pola II (5,88%-13,21%-100%), sedangkan Porang kering pada pola I (37,63%-85,71%-92,86%-100%) dan pada pola II (37,63%-92,86%-100%). 2) Margin Keuntungan Porang gelondong pada pola I (51,89%-63,43%-5,31%) dan pada pola II (55,5%-68,9%), sedangkan Porang kering pada pola I (56,1%-5,71%-5,31%) dan pada pola II (59,48%-5,31%). 3) Efisiensi Operasional Porang gelondong pada pola I (51,89%-86,84%-7,14%) dan pada pola II (55,50%-86,79%), sedangkan Porang kering pada pola I (56,10%- 7,69%-7,14%) dan pada pola II (59,48%-7,14%). Dari hasil penelitian berdasarkan tiga parameter yang didapat, diperoleh kesimpulan bahwa pemasaran Porang di Kabupaten Madiun saat ini masih belum efisien.
Porang marketing in Madiun district is assumed to be not efficient today. The objective of this research is to find out the trade pattern of Porang, basic sell price of Porang, and the efficiency level in each marketing institution involved using three parameters, which are : 1) Marketing Margin, 2) Profit Margin, and 3) Operational Efficiency with mark up on selling approach. Respondents are classified into three groups which are : 1) Farmers who produce Porang, 2) Middleman 1, 3) Middleman 2. According to the result of the research obtained two trade pattern of Porang, which are : Farmers - Middleman 1 - Middleman 2 –End User (industries) and Farmers - Middleman 2 - End User (industries). Basic sell price of Porang divided into roll and crispy shape. Roll Porang rates are Rp. 411,61/kg, whereas crispy Porang rates are Rp. 2634,10/kg. Efficiency level of Porang based on three parameters, which are : 1) Marketing Margin of roll Porang in the pattern 1 (5,88%-12,22%-92,86%-100%) and in the pattern 2 (5,88%-13,21%-100%); whereas crispy Porang in pattern 1 (37,63%-85,71%-92,86%-100%) and in the pattern 2 (37,63%-92,86%-100%); 2) Profit Margin of Roll Porang in the pattern 1 (51,89%-63,43%-5,31%) and in the pattern 2 (55,5%-68,9%); whereas crispy Porang in the pattern 1 (56,1%-5,71%-5,31%) and in the pattern 2 (59,48%- 5,31%); 3) Operational Efficiency of roll Porang in the pattern 1 (51,89%- 86,84%-7,14%) and in the pattern 2 (55,50%-86,79%); whereas crispy Porang in the pattern 1 (56,10%-7,69%-7,14%) and in the pattern 2 (59,48%-7,14%). From the result of the research concluded that the distribution system of Porang in Madiun district based on three parameters have not efficient.
Kata Kunci : Margin Pemasaran, Margin Keuntungan, Efisiensi Operasional, Mark Up