Laporkan Masalah

Pusat Binaan Kain Tenun Tradisional dengan Pendekatan Adaptive Architecture

HERYANTO SALIM, Dr. Eng. Ir. Ahmad Sarwadi, M. Eng.

2018 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan adat istiadat. Hingga tahun 2015, lebih dari 1.592 jenis tarian, 892 jenis musik, dan 1.761 jenis lukisan mewarnai keindahan budaya Indonesia. Namun, seiring dengan perkembangan globalisasi, hal yang berbau tradisional mulai terpinggirkan, termasuk salah satunya kain tradisional. Kain lurik menjadi salah satu kain yang mulai terhenti beregenerasi, khususnya bagi kalangan muda saat ini. Terkait hal tersebut, salah satu upaya untuk melestarikan dan meningkatkan kesadaran warga akan tradisi menenun ialah melalui adanya pusat binaan kain tenun. Pusat tersebut akan berfungsi sebagai media workshop, galeri, serta pengembangan produk kain tenun tradisional. Sulitnya mengenalkan kembali budaya dalam masyarakat secara langsung atau terang-terangan memerlukan metode yang sesuai agar dapat diterima kembali oleh masyarakat. Pendekatan adaptive architecture dipilih dalam perancangan sebagai salah satu cara arsitektur untuk secara perlahan dapat masuk dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan mengadaptasikan bangunan dengan pola kehidupan masyarakat sekitar, diharapkan tradisi menenun dapat kembali berkembang dan menjadi bagian kehidupan masyarakat kembali. Dari permasalahan tersebut, maka konsep yang diambil ialah fragmentation of programs sebagai solusi desain dengan penekanan pada pemecahan fungsi bangunan yang rigid yaitu fungsi pada workshop, galeri, dan pengembangan produk menjadi melebur dalam fungsi ruang dalam masyarakat.

Indonesia represents as a nation which plural in culture and mores. Until 2015, more than 1.592 types of dance, 892 types of music, and 1.761 types of painting adorn the beauty of Indonesia's culture. However, along with the growth of globalisation, traditional matters marginalized, which including the traditional textile. Lurik is become one of the traditional fabric which cease to regenerate, especially among the youth. Related to the problem, one way to preserve and increase the awareness of citizen about the woven tradition is through the presence of the woven fabrics foster center. The center will be serve as a workshop media, gallery, and also product development of traditional hand-woven. The difficulty to re-introduce the traditions in the community directly or unreservedly needs a suitable method to be accepted by the community. Adaptive architecture was choosen in the design as an approach of architecture to gradually enter in the community. By adapting the building with the way of life of the inhabitants, woven tradition is expected to be re-developed and become the parts of life of them. Through the problems, the concept that was taken is fragmentation of programs as a design solution with an approach of breaking the rigidity of building's functions which are the workshop, gallery, and the product development to become vague with the function of space in the community.

Kata Kunci : Pusat Binaan Kain Tenun, Adaptive Architecture, Fragmentation

  1. S1-2018-366785-abstract.pdf  
  2. S1-2018-366785-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-366785-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-366785-title.pdf