KAJIAN SEMIOTIKA PADA ELEMEN - ELEMEN ARSITEKTUR DALAM KOMPLEKS ISTANA ALWATZIKHOEBILLAH SAMBAS Studi Kasus: Istana Kesulthanan Islam Sambas, Kalimantan Barat
ALWIN FAHREZA, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D.
2018 | Tesis | MAGISTER ARSITEKTURPendekatan semiotika dalam arsitektur memiliki tujuan untuk mengajak masyarakat untuk berkomunikasi dan memahami mengenai makna dari sebuah karya arsitektur. Khususnya pada elemen arsitektur yang ada di dalam kompleks istana kesulthanan yang erat hubungannya dengan makna kearifan lokal, salah satunya yaitu Istana Alwatzikhoebillah Sambas. Makna ini mulai memudar seiring perubahan zaman, sehingga perlu adanya penelitian lebih mendalam agar komunikasi manusia dengan elemen arsitektur istana tidak terputus. Berlandaskan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna dari tanda yang berupa elemen-elemen arsitektur di dalam kompleks Istana Alwatzikhoebillah Sambas dengan pendekatan semiotika. Dalam penelitian ini menggunakan paradigma rasionalistik, yaitu sebuah paradigma yang memandang bahwa realitas sosial dipahami oleh peneliti berdasarkan teori-teori yang ada dan didialogkan dengan pemahaman subjek yang diteliti/data empirik. Metode yang digunakan adalah induktif-kualitatif dengan fokus pada substansi pemikiran, induktif dalam hal ini yaitu mengkaji kenyataan di lapangan yang berupa tanda dan kemudian menemukan maknanya. Bersifat kualitatif yang menekankan argumentasi penalaran keilmuan yang memaparkan hasil observasi lapangan dan wawancara narasumber dengan hasil olah pikir peneliti berdasarkan referensi mengenai suatu tanda. Dalam hal ini teori utama yang digunakan sebagai pendekatan adalah teori semiotika Pierce dengan menemukan makna dari tanda menggunakan diagram lingkaran tingkat keberlakuan tanda Theleffsen yang telah disesuaikan dengan tujuan penelitian. Tingkat keberlakuan tanda terdiri dari object, interpretant, dan representamen. Wilayah penelitian berada dalam kompleks Istana Alwatzikhoebillah di kabupaten Sambas, propinsi Kalimantan Barat. Hasil studi yang didapatkan adalah: pertama, tanda yang berupa elemen arsitektur yang terdiri dari 12 elemen yaitu Kalling Jembatan, Gerbang Segilapan, Alon-Alon Istana, Masjid Jamik Istana, Tiang Kapal, Paseban, Pintu Gerbang Dalam, Rumah Istana Sulthan dan ornamen arsitektur meliputi Elang Laut, Kolom Pantak Dayak, Atap Istana, dan Telinge Atap. Kedua, makna dari hubungan antar elemen arsitektur yang terdiri dari ruang dan bentuk. Makna hubungan ruang yaitu makna relasional dimana hubungan yang dimiliki antar elemen arsitektur berdasarkan urutan tertentu, disini terlihat pada urutan elemen yang dilalui oleh Sulthan saat datang dan pergi membentuk sumbu linier. Selain itu, makna hubungan bentuk yang ditemukan yaitu makna historical, dimana elemen-elemen arsitektur yang ada di dalam kompleks istana mewakili sejarah peradaban Kesulthanan Sambas.
Semiotic approach in architecture aims to promote understanding and discussion on architectural works among people. Such purpose is reflected in the effort to figure out the meaning behind the architectural elements around the sultanate palace compound, which is closely related to local wisdom. In this research, the said palace is Istana Alwatzikhoebillah, Sambas. Such meaning began to fade amid the ever-changing age. Therefore, a further study is necessary to maintain the communication between the people and such architectural elements. With this in mind, this research aims to examine the meaning represented by the signs in the form of architectural elements situated around the compound of Istana Alwatzikhoebillah, Sambas by employing semiotic approach. This research relies on rationalism standpoint, through which the researcher sees the social reality based on the preexisting theories and synthesizes it with the understanding of the subjects of this research (empirical data). Inductive-qualitative method is employed in this research with the focus on the substance of thought. The term 'inductive' implies that the reality at the field is examined to then be translated into meaning, while the qualitative nature emphasizes the use of scientific reasoning argument to synthesize the results of the field study and the interviews by taking into account the researcher's analysis based on the references about a sign. The primary theory employed in this process is Pierce's semiotic theory as modeled in Theleffsen's grades of clarity circle, which is then tailored to the purpose of this research. The triadic model of sign consists of object, interpretant, and representamen. The scope of this research is the compound of Istana Alwatzikhoebillah in Sambas District, West Kalimantan. The findings of this study are: First, that the signs are found in 12 architectural elements, namely Kalling Jembatan (Royal Dock), Gerbang Segilapan (Octagonal Gate), Alon-Alon Istana (Palace Square), Masjid Jamik Istana (Jamik Mosque), Tiang Kapal Bendere (Ship Flagpole), Paseban (Waiting Hall), Pintu Gerbang Dalam (Inner Gate), Rumah Istana Sulthan (Sultanate Royal Chamber), and the architectural ornaments of Elang Laut (Sea Eagle), Kolom Pantak Dayak (Pantak Dayak Column), Atap Istana (Roof of the Palace), and Telinge Atap (Ear of the Roof). Second, the meaning of the relationship between the architectural elements can be derived from the perspectives of space and form. From the perspective of space, there is a relational meaning generated from the sequential position of the architectural elements. This sequential position forms a linear axis through which the Sultan passes when entering and exiting the palace. Meanwhile, from the perspective of form, the architectural elements imply a historical meaning. This meaning suggests that the architectural elements around the palace compound represent the history of the civilization during the era of the Sultanate of Sambas.
Kata Kunci : Kata kunci: semiotika, elemen arsitektur, istana alwatzikhoebillah, sambas